Monthly Archives: February 2017

Petinggi Samsung ditahan, bursa Asia memerah

Pasar saham Asia dibuka di zona merah pada transaksi perdagangan akhir pekan (17/2). Data yang dihimpun CNBC menunjukkan, pada pukul 08.20 waktu Singapura, indeks Kospi Korea Selatan tergerus 0,35%. Sedangkan indeks Kosdaq naik 0,15%.

Salah satu saham yang pergerakannya mempengaruhi bursa Korsel adalah Samsung ELectronics. Pagi ini, saham Samsung turun 0,4% setelah pimpinan perusahaan ini ditangkap pihak kepolisian.

Jay Y Lee akhirnya ditahan pada Jumat (17/2) terkait perannya di kasus skandal korupsi yang mendorong parlemen Korsel melakukan impeachment Presiden Park Geun-hye. Lee ditahan di Pusat Penahanan Seoul, di mana dia akan menunggu keputusan hakim pengadilan.

Baik Samsung maupun Lee, membantah terlibat kasus ini. Read the rest of this entry

Advertisements

Biaya Provisi Naik, Laba Bank Mandiri 2016 Anjlok 32%

PT Bank Mandiri Tbk mengalami penurunan laba bersih sebesar 32 persen pada 2016, perolehan terendah dalam lima tahun, terutama disebabkan kenaikan biaya provisi untuk kredit bermasalah.

Sebagaimana diumumkan, Selasa (14/2), Bank Mandiri meraih laba bersih Rp13,8 triliun untuk tahun buku yang berakhir 31 Desember, berbading Rp20,3 triliun pada tahun sebelumnya. Menurut data Thomson Reuters, raihan laba bersih 2016 itu yang terendah sejak 2011.

Jumlah laba bersih tahun lalu itu juga di bawah perkiraan rata-rata 20 analis, yakni sebesar Rp15,7 triliun.

Provisi Bank Mandiri pada akhir 2016 di posisi Rp24,6 triliun, lebih dari dua kali lipat tahun sebelumnya yang Rp12 triliun. Kredit bermasalah (NPL) Bank Mandiri secara kotor sebesar 4 persen, tertinggi sejak 2008.

Kenaikan NPL dimulai pada kredit di sektor komoditas yang mengalami pukulan karena anjloknya harga, lalu menyebar ke bisnis yang terkait konsumen. “Kami melihat bahwa 2017 masih menantang. Pelemahan belum sepenuhnya berlalu, namun arus kas nasabah kami lebih stabil,” ungkap Dirut Bank Mandiri, Kartika Wirjoatmodjo.

Menurut Kartika, pendapatan Bank Mandiri tahun ini akan didukung oleh kenaikan kinerja perekonomian nasional dan harga komoditas yang membaik. Read the rest of this entry

Keluarga Riady dan Temasek Berencana Lepas Saham Matahari

Para pemegang saham utama berencana menjual saham mereka di PT Matahari Putra Prima Tbk dalam sebuah kesepakatan yang memberi value kepada emiten ritel tersebut senilai USD1 miliar. Para pemegang saham utama tersebut termasuk perusahaan investasi Singapura, Temasek Holdings Pte Ltd, dan keluarga Mochtar Riady dengan perusahaannya PT Multipolar Tbk.

Untuk diketahui, PT Matahari Putra Prima Tbk [MPPA 1,410 110 (+8,5%)] sebagai perusahaan ritel terbesar yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI), 50,2 persen sahamnya dimiliki oleh taipan Mochtar Riady melalui perusahaan PT Multipolar Tbk [MLPL 378 6 (+1,6%)]. Sedangkan Temasek memiliki 26,1 persen saham yang diperoleh pada 2013 dengan harga pembelian USD300 juta. Matahari Putra Prima memiliki hampir 300 outlet.

Rencana para pemegang saham utama melepas saham mereka di Matahari diungkapkan seorang sumber yang mengetahui masalah itu, seperti dilansir laman The Wall Street Journal, wsj.com, Kamis (2/1).

Seorang juru bicara Multipolar mengatakan bahwa pihaknya telah menerima ketertarikan kuat dari beberapa pihak untuk saham di Matahari dan tengah mengevaluasi beberapa proposal dengan bantuan penasihat keuangan. “Kami percaya nilai pasar Matahari saat ini di bawah nilai sebenarnya secara signifikan,” tegas juru bicara tersebut.

Adapun sumber informasi dari rencana itu mengakui bahwa rencana pelepasan saham ini masih di tahapan yang sangat awal.

Potensi penjualan Matahari dinilai memberi kesempatan kepada investor asing untuk menapak di Indonesia sebagai salah satu pasar ritel terbesar Asia, namun diingatkan bahwa bisnis ritel saat ini tengah menghadapi persaingan ketat dari ritel online serta peningkatan biaya operasi.

Meski Indonesia dipandang sebagai lokasi menarik berbisnis ritel, namun penjualan hypermarket di Indonesia mengalami penurunan di saat peritel online seperti Lazada Group dari Singapura terus berekspansi di kawasan, terutama di Indonesia. Analis memperkirakan pasar e-commerce Indonesia yang masih relatif kecil akan menjadi salah satu yang terbesar di Asia dalam tahun-tahun mendatang, sehingga menarik sejumlah pebisnis e-commerce dunia. Lazada, misalnya, mendapat dukungan langsung dari raksasa e-commerce China, Alibaba Group Holding Ltd.

Matahari sendiri dalam beberapa bulan terakhir mengalami pukulan seiring perlambatan ekonomi. Perseroan mengaku memperoleh laba bersih Rp32,7 miliar pada periode sembilan bulan hingga September 2016, turun 88% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Namun, perseroan menyatakan optimistis bakal meraih peningkatan untuk laba bersih secara keseluruhan pada 2016, karena memangkas biasa cadangan dan terus membuka outlet baru.

Jika terlaksana, kesepakatan pelepasan saham tersebut akan menambah permintaan untuk saham yang terkait konsumen di Indonesia. Nilai kesepakatan di Indonesia tahun lalu mencapai USD8,9 miliar, naik dari USD5,5 miliar pada 2015, dengan permintaan sebagian besar untuk saham perusahaan teknologi, ritel, dan sumber daya alam, menurut data  Dealogic.

Matahari Putra Prima memiliki kapitalisasi pasar USD492 juta, dengan 24 persen saham dilepas ke publik.(ha)
Read the rest of this entry