Monthly Archives: July 2017

Laba PT Waskita Naik Tajam Jadi Rp1,4 T

PT Waskita Karya Tbk (WSKT) mencatat laba bersih per 30 Juni 2017 menjadi Rp1,42 triliun dari Rp582,23 miliar pada periode yang sama tahun 2016.

Peningkatan laba bersebut seiring dengan lonjakan pendapatan usaha yang menjadi Rp15,54 triliun dari Rp8,08 triliun. Untuk beban pokok pendapatan menjadi Rp12,8 triliun dari Rp6,5 triliun.

Untuk itu laba bruto menjadi Rp2,6 triliun dari Rp1,4 triliun. Demikian mengutip keterbukaan informasi di BEI, Selasa (18/7/2017).

Untuk laba sebelum pajak menjadi Rp1,5 triliun dari Rp798,6 miliar. Sedangkan beban pajak menjadi Rp162,9 miliar dari Rp216,4 miliar. Laba bersih menjadi Rp1,42 triliun dari Rp582,23 miliar.

Perseroan mencatat total aset menjadi Rp75,9 triliun dari Rp61,4 triliun. Untuk total liabilitas menjadi Rp55,03 triliun dari Rp44,6 triliun.

Saham WSKT pada perdagangan Selasa kemarin berakhir di Rp2.250 per saham. Dalam setahun terakhir harga tertinggi saham WSKT di Rp2.800 per saham pada penutupan 8 Agustus 2016. Untuk harga terendah di Rp2.180 per saham pada penutupan 14 November 2016.

 

Sumber : inilah.com

http://belajar-cara-membuat-website.blogspot.co.id/

http://ide-peluang-bisnis.blogspot.co.id/p/jasa-pembukuan.html

http://ide-peluang-bisnis.blogspot.co.id/p/program-persediaan-otomatis.html

Advertisements

The Fed Naikkan Suku Bunga, Saatnya Membeli Emas(?)

Harga emas akhir-akhir mendapatkan tekanan dari tren kenaikan indeks di bursa saham dan suku bunga negara maju, namun sejumlah analis mengekspektasikan harga logam mulia akan pulih dan memberi proteksi riil dari sejumlah risiko.

Saat ini, emas diperdagangakan di kisaran harga US$1200 per troy ounce Dalam perdagangan awal pekan kemarin, harga emas turun menjadi US$1204,45,terendah sejak pertengahan Maret lalu.

Sejumlah faktor membebani harga emas, termasuk tren kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve AS yang mendorong kenaikan indeks dolar, sehingga menekan harga emas. Kendati demikian, kenaikan suku bunga diyakini akan mendongkrak laju inflasi, yang berdampak positif pada harga emas.

Menurut Nitesh Shah, ahli strategi komoditas dari ETF Securities, secara tradisional emas adalah saran alindung nilai terhadap inflasi. “Kami meyakini bahwa ibnflasi di AS akan tetap menguat dan akan tumbuh ke atas 2 persen. Oleh karena itu suku bunga riil di AS, meskipun suku bunga meningkat, akan tetap rendah,” kata Shah seperti dikutip CNBC (12/7).

Shah memprediksikan, kondisi tersebut akan memberi peluang kepada harga emas untuk meningkat menjadi sekitar US$1.260 per troy ounce, pada akhir tahun nanti. Oleh karena itu, imbuhnya, emas akan memberi perlindungan terhadap peristiwa berisiko.

“Emas tetap menjadi lindung nilai yang sangat bagus terhadap berbagai risiko, dan dengan kondisi seperti peningkatan eskalasi ketegangan di Timur Tengah, atau saling provokasi AS dan Korea Utara, kami pikir, harga emas mempunyai potensi untuk melompat jika salah satu peristiwa tersebut muncul ke permukaan,” Shah menambahkan.

Bahkan menuut Adrian Ash, direktur riset komoditas di Bullion Vault,  harga emas saat ini bisa berarti lebih murah, terutama bagi investor yang berupaya mendapatkan lindung nilai dari keumngkinan kejatuhan harga aset lain.

“Emas cenderung berperan dengan baik, ketika aset lain bertingkah buruk, dan menjadi yang terbaik dibanding yang lain ketika investor kehilangan kepercayaan kepada bank sentral,” paparnya.

“Emas dan perak cenderung akan meningkat tajam jika konsensus pasar tiba-tiba memperkirakan Bank Sentral Eropa (ECB) dan juga Bank of England akan bergabung dengan The Fed, untuk secepat mungkin memangkas stimulus moneternya,” imbuh Ash.

Sementara itu, Suki Cooper, analis logam mulia di Standard Chartered Bank berpendapat, harga emas pada saat ini berada pada titik peluang beli. “Penutupan harga emas sebesar US$1.200 per ounce, menawarkan peluang menarik untuk membeli,” ungkapn Cooper dalam catatan risetnya.

Namun ia memperingatkan bahwa masih ada beberapa penghalang, yang bisa menekan harga emas tetap rendah. Pertama adalah imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) berjangka 10 tahun yang mencapai 2,4 persen, tertinggi sejak pertengahan Mei lalu.

“Penurunan kembali harga emas, berkaitan dengan kenaikan imbal hasil riil tertinggi tahun ini di AS, begitu juga dengan kenaikan tajam imbal hasi riil di Eropa ke level tertinggi selama lebih dari seteahun terakhir,” kata Joni Teves, ahli strategi UBS, dalam catatan risetnya, Senin lalu.

Kedua, reformasi pajak terbesar di India dalam 70 tahun terakhir. Pajak barang dan jasa akan membebani permintaan selama Juli ini. Penerapan pajak baru mulai awal Juli lalu, menaikkan pajak emas dari 1,2 persen menjadi 3 persen.

“Laporan media menunjukkan bahwa permintaan emas turun antara 50 hingga 75 persen pada hari pertama perdagangan di bulan Juli ini,” kata Cooper. “Ada anekdot yang memastikan pandangan kami bahwa permintaan cenderung akan melemah pada awalnya, hingga permasalahan tagihan dan persediaan teratasi, namun setelah itu akan pulih kembali,” ia menambahkan.

Namun menurut UBS, selain beberapa kendala tersebut, investor cenderung mengambil posisi untuk mendukung emas. Posisi jangka panjang neto – dimana investor mengekspektasikan harga akan terus meningkat – pada emas telah menurun hingga 53 persen, atau 12 juta ounces, selama empat pekan terakhir.

Sementara itu posisi jangka pendek – yang mengekspektasikan harga emas akan turun – telah meningkat. Menurut UBS, perubahan ini akan membatasi kekuatan untuk menjual emas.

“Kondisinya akan cenderung menantang untuk mengambil posisi yang cukup besar, dengan memperhatikan harga emas yang sudah turun cukup besar, kecuali ada keyakinan kuat harga emas akan melorot hingga menembus US$1.110, yang menurut kami akan sulit terjadi,” ujar Teves.

“Kami mempertahankan pandangan kami bahwa emas akan pulih dari kejatuhannya yang terakhir karena pergerakan suku bunga riil yang lebih tinggi cenderung tidak akan terus berlanjut, dan kami melihat nilai angka lebih panjang pada level tersebut.” Read the rest of this entry

Ini dia rekomendasi saham LSIP

Prospek sektor crude palm oil (CPO) terlihat masih cerah. NH Korindo Sekuritas memprediksi, harga CPO hingga akhir tahun nanti berada pada level Rp 8.400 per kilogram (kg).

“Kestabilan harga ini ditopang oleh permintaan domestik yang tetap kuat,” ujar Joni Wintarja, analis NH Korindo dalam riset, Senin (10/7).

Menurut Joni, PT London Sumatra Tbk (LSIP) bakal menikmati kestabilan harga tersebut. Sebab, LSIP telah mencatat kenaikan produksi CPO.

Sepanjang kuartal I tahun ini, produksi CPO LSIP meningkat 27,5% menjadi 120.099 ton. Tahun ini, lanjut Joni, produksi CPO LSIP diperkirakan akan meningkat 18,4% pada 2017 menjadi 437.582 ton yang merupakan angka produksi normal sebelum dilanda fenomena cuaca El-Nino.

Atas dasar ini, Joni merekomendasikan buy saham LSIP dengan target harga hingga akhir tahun Rp 1.970 per saham. Target harga ini mencerminkan price earning ratio (PER) sebesar 13,5 kali.

Pada perdagangan awal pekan ini, saham LSIP menguat 10 poin ke level 1.440 per saham. Saham LSIP saat ini diperdagangkan dengan PER 9,8 kali. Read the rest of this entry