Category Archives: Pasar Saham

Saham Bank Mandiri Menguji Resisten Di Level 7.000

bmri

Sesuai dengan postingan sebelumnya, saham BMRI naik 3,84% maka kenaikan langsung menguji resisten terdekat di level 7.000 dengan posisi high di level 6.950 (Fibonacci Retracement 50%)

Ini artinya saham BMRI telah naik 8,17% dari level 6.425 hanya dalam 2 hari. Menarik bukan ? Info update bisa join channel telegram kami : https://telegram.me/invesaham.

Bila tembus level 7.000 maka saham BMRI akan bertemu dengan resisten kuat di level 7.400 dan sebaiknya harus melihat perkembangan indeks Dow Jones dan IHSG.

Advertisements

Saham BMRI Naik 3,89%. Hari Ini Lanjut ?

bmri

Saham BMRI naik lebih dari 3% kemarin dan terlihat akan menembus trendline sekaligus meninggalkan area support kuat 6.250 yang telah terbentuk sejak bulan Juni 2017.

Bentuk candlestik yaitu Bullish Engulfing mengonfirmasi kenaikan kemarin beserta volume yang tinggi, dan ini akan menguji resisten terdekat yaitu 7.000.

Untuk informasi lebih update silakan join telegram channel kami : https://telegram.me/invesaham

Membaca Saham BBRI Dengan Import Data Ke Metatrader 4

“When There Is A Will, There Is A Way”

Pepatah ini sangat cocok untuk menggambarkan bila memang ada kemauan yang kuat, selalu akan ada jalan.

Kita tahu bahwa sekuritas memang menampilkan grafik saham dengan indikator built in yang standar, namun tidak memungkinkan bila ingin menambahkan indikator selain yang telah disediakan. Sedangkan kita menyadari bahwa indikator adalah seperti kacamata yang membantu dalam menganalisa pergerakan saham.

Terinsipirasi dengan Metatrader yang sangat mumpuni dengan indikator-indikator terbaik sehingga sangat memudahkan membaca arah pergerakan, namun hanya terbatas untuk forex, index, CFD luar negeri.

bbri

Nah, bagaimana caranya bila ingin membaca pergerakan saham Indonesia di Metatrader ? Read the rest of this entry

Laba PT Waskita Naik Tajam Jadi Rp1,4 T

PT Waskita Karya Tbk (WSKT) mencatat laba bersih per 30 Juni 2017 menjadi Rp1,42 triliun dari Rp582,23 miliar pada periode yang sama tahun 2016.

Peningkatan laba bersebut seiring dengan lonjakan pendapatan usaha yang menjadi Rp15,54 triliun dari Rp8,08 triliun. Untuk beban pokok pendapatan menjadi Rp12,8 triliun dari Rp6,5 triliun.

Untuk itu laba bruto menjadi Rp2,6 triliun dari Rp1,4 triliun. Demikian mengutip keterbukaan informasi di BEI, Selasa (18/7/2017).

Untuk laba sebelum pajak menjadi Rp1,5 triliun dari Rp798,6 miliar. Sedangkan beban pajak menjadi Rp162,9 miliar dari Rp216,4 miliar. Laba bersih menjadi Rp1,42 triliun dari Rp582,23 miliar.

Perseroan mencatat total aset menjadi Rp75,9 triliun dari Rp61,4 triliun. Untuk total liabilitas menjadi Rp55,03 triliun dari Rp44,6 triliun.

Saham WSKT pada perdagangan Selasa kemarin berakhir di Rp2.250 per saham. Dalam setahun terakhir harga tertinggi saham WSKT di Rp2.800 per saham pada penutupan 8 Agustus 2016. Untuk harga terendah di Rp2.180 per saham pada penutupan 14 November 2016.

 

Sumber : inilah.com

http://belajar-cara-membuat-website.blogspot.co.id/

http://ide-peluang-bisnis.blogspot.co.id/p/jasa-pembukuan.html

http://ide-peluang-bisnis.blogspot.co.id/p/program-persediaan-otomatis.html

Ini dia rekomendasi saham LSIP

Prospek sektor crude palm oil (CPO) terlihat masih cerah. NH Korindo Sekuritas memprediksi, harga CPO hingga akhir tahun nanti berada pada level Rp 8.400 per kilogram (kg).

“Kestabilan harga ini ditopang oleh permintaan domestik yang tetap kuat,” ujar Joni Wintarja, analis NH Korindo dalam riset, Senin (10/7).

Menurut Joni, PT London Sumatra Tbk (LSIP) bakal menikmati kestabilan harga tersebut. Sebab, LSIP telah mencatat kenaikan produksi CPO.

Sepanjang kuartal I tahun ini, produksi CPO LSIP meningkat 27,5% menjadi 120.099 ton. Tahun ini, lanjut Joni, produksi CPO LSIP diperkirakan akan meningkat 18,4% pada 2017 menjadi 437.582 ton yang merupakan angka produksi normal sebelum dilanda fenomena cuaca El-Nino.

Atas dasar ini, Joni merekomendasikan buy saham LSIP dengan target harga hingga akhir tahun Rp 1.970 per saham. Target harga ini mencerminkan price earning ratio (PER) sebesar 13,5 kali.

Pada perdagangan awal pekan ini, saham LSIP menguat 10 poin ke level 1.440 per saham. Saham LSIP saat ini diperdagangkan dengan PER 9,8 kali. Read the rest of this entry

Kinerja AALI juara di sektor perkebunan tahun 2016

Tekanan yang selama ini terjadi pada sektor perkebunan mulai mereda. Kinerja sejumlah emiten di sektor itu kembali memunculkan harapan akan prospek industri perkebunan kembali positif.

Dari sisi top line, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) [14,975 75 (+0,5%)] tak beda jauh dengan emiten lainnya yang sebagian besar mencatat pertumbuhan single digit. Pendapatan AALI [14,975 75 (+0,5%)] meningkat 9% year on year (yoy) menjadi Rp 14,12 triliun sepanjang 2016 dari sebelumnya Rp 13,06 triliun.

Tapi dari segi bottom line, AALI [14,975 75 (+0,5%)] jadi yang paling moncer. Laba bersihnya melonjak 224% menjadi Rp 2,01 triliun dari sebelumnya Rp 619,11 miliar.

Laba bersih paling moncer kedua disusul oleh PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) [2,040 0 (+0,0%)]. Kenaikannya mencapai 78% yoy mejadi Rp 441,88 miliar dari sebelumnya Rp 247,57 miliar.

Kinerja PT Sinarmas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) [4,100 0 (+0,0%)] juga sejatinya menarik. Perseroan tahun lalu malah mencatat laba bersih Rp 2,6 triliun dari sebelumnya rugi Rp 386,17 miliar.

Kenaikan laba itu dicatat ditengah penurunan pendapatan sebesar 18% yoy menjadi Rp 29,75 triliun. Sayang, sentimen positif kenaikan laba itu dibatasi oleh kurang likuidnya saham perseroan.

Namun, tidak semua emiten perkebunan mencatat kinerja positif. PT London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) [1,475 10 (+0,7%)] misalnya.

Entitas Grup Salim itu mencatat penurunan pendapatan sebesar 8% yoy menjadi Rp 3,85 triliun. Laba bersihnya juga mengalami penurunan, yakni 5% yoy menjadi Rp 593,83 miliar.

Sama halnya dengan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) [484 -16 (-3,2%)]. Pendapatannya turun sekitar 10% yoy menjadi Rp 3,94 triliun. Laba bersihnya tercatat Rp 250,71 miliar, turun 7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Kendati demikian, prospek emiten perkebunan tahun ini secara keseluruhan masih lebih positif. Banyak faktor yang mendorong optimisme itu.

“Salah satunya soal pembatasan lahan baru perkebunan,” kata Joni Wintarja, analis NH Korindo Securities Indonesai kepada KONTAN belum lama ini.

Dengan lahan yang terbatas, otomatis kenaikan suplai ikut terbatas. Sehingga, kondisi itu berpotensi memicu kenaikan harga crude palm oil (CPO).

Ekspektasi meningkatnya permintaan CPO juga terlihat. Hal itu terindikasi dari aktivitas re-stocking oleh negara-negara pengimpor.

Efek El Nino juga sudah mereda. Sehingga, produksi CPO kembali membaik. Produksi yang membaik ditambah terangkatnya harga CPO membuat kinerja keuangan emiten perkebunan semakin solid.

Di sisi lain, membaiknya produksi untuk waktu yang panjang bakal menambah suplai CPO di pasar. Tentu, akibatnya harga yang kembali turun.
Read the rest of this entry

Semen Indonesia Bagi Dividen Total Rp1,81 Triliun

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) menyetujui pembagian dividen tahun buku 2016 senilai Rp304,92 per saham atau senilai total Rp1,81 triliun.

Direktur Utama SMGR, Rizkan Chandra kepada pers di Jakarta, Jumat (31/4) mengatakan pembagian dividen tersebut setara 40 persen dari raihan laba bersih sepanjang 2016 lalu senilai Rp4,52 triliun.

“Jumlah dividen yang dibagikan ini terbilang sama dengan pembagian dividen tahun buku 2015,” katanya. Read the rest of this entry

Rencana pajak tekan emiten ritel dan bank

Transaksi melalui kartu kredit kini mulai masuk radar aparat pajak. Kebijakan tersebut bisa mempengaruhi prospek bisnis emiten di Bursa Efek Indonesia, terutama emiten perbankan dan ritel.

Sekadar mengingatkan, melalui surat tanggal 23 Maret lalu, Kementerian Keuangan meminta bank menyerahkan data nasabah kartu kredit, berupa data pokok pemegang kartu kredit. Bank juga diminta menyampaikan data transaksi kartu kredit nasabah.

Bahana Securities menilai, pembukaan data pokok nasabah dan transaksi kartu kredit berpotensi menekan kinerja emiten ritel modern, terutama PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI). Selama ini, MAPI menyasar segmen menengah atas. “Belanja konsumer yang menggunakan kartu kredit akan menurun,” tulis Harry Su, Kepala Riset Bahana Securities, dalam riset yang diterima KONTAN, kemarin. Read the rest of this entry

Tertekan Beban Bunga, Laba MPPA Tergerus 79 Persen

PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) meraih laba bersih Rp38 miliar atau turun -79 persen (YoY) di sepanjang 2016 (FY16). Hal ini terjadi seiring pendapatan perseroan yang turun -2,9 persen (YoY) dan operating expenditure (opex) yang melonjak 2,4 persen (YoY).

Kinerja secara triwulanan, laba bersih pada 4Q16  sebesar Rp6 miliar dibanding periode 4Q15 yang rugi bersih senilai Rp78 miliar. Sementara pendapatan pada 4Q16 turun menjadi Rp3,1 triliun (-8% QoQ dan -10% YoY).

Pencapaian bottom line MPPA [MPPA 1,145 -5 (-0,4%)] berada di bawah ekspektasi sebagian besar karena naiknya opex serta beban bunga. Marjin operasi turun 1,3% pada FY16 (vs FY15 sebesar 2,0%).

Marjin bersih melemah 0,3 persen (versus 1,3% pada FY15). Tim Riset PT Indo Premier menilai pencapaian MPPA tersebut sebagai hasil kinerja yang buruk dan mempertahankan rekomendasi jual terhadap saham MPPA. Read the rest of this entry

Biaya Provisi Naik, Laba Bank Mandiri 2016 Anjlok 32%

PT Bank Mandiri Tbk mengalami penurunan laba bersih sebesar 32 persen pada 2016, perolehan terendah dalam lima tahun, terutama disebabkan kenaikan biaya provisi untuk kredit bermasalah.

Sebagaimana diumumkan, Selasa (14/2), Bank Mandiri meraih laba bersih Rp13,8 triliun untuk tahun buku yang berakhir 31 Desember, berbading Rp20,3 triliun pada tahun sebelumnya. Menurut data Thomson Reuters, raihan laba bersih 2016 itu yang terendah sejak 2011.

Jumlah laba bersih tahun lalu itu juga di bawah perkiraan rata-rata 20 analis, yakni sebesar Rp15,7 triliun.

Provisi Bank Mandiri pada akhir 2016 di posisi Rp24,6 triliun, lebih dari dua kali lipat tahun sebelumnya yang Rp12 triliun. Kredit bermasalah (NPL) Bank Mandiri secara kotor sebesar 4 persen, tertinggi sejak 2008.

Kenaikan NPL dimulai pada kredit di sektor komoditas yang mengalami pukulan karena anjloknya harga, lalu menyebar ke bisnis yang terkait konsumen. “Kami melihat bahwa 2017 masih menantang. Pelemahan belum sepenuhnya berlalu, namun arus kas nasabah kami lebih stabil,” ungkap Dirut Bank Mandiri, Kartika Wirjoatmodjo.

Menurut Kartika, pendapatan Bank Mandiri tahun ini akan didukung oleh kenaikan kinerja perekonomian nasional dan harga komoditas yang membaik. Read the rest of this entry