Sri Mulyani dalam Bayang-bayang Kegagalan Ekonomi

Pemerintahan Jokowi-JK menargetkan pertumbuhan ekonomi 8% pada 2019. Tak main-main, cita-cita ini tertulis dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

Namun, capaian pertumbuhan ekonomi 2015-2018 ini, masih jauh dari keinginan itu. Realisasinya tak jauh-jauh dari angka 5%. Mirisnya lagi, ketika pertumbuhan ekonomi kontet, penerimaan jeblok. Mau tak mau utang negara naik signifikan.

Dalam kaitan ini, para ekonom mengingatkan, utang (negara dan swasta) yang diklaim untuk pembangunan, layak masuk kategori lampu kuning. Karena, cicilan pokok ditambah bunga yang harus dibayar selama dua tahun (2018 dan 2019), mencapai Rp840 triliun. Atau setara dua kali anggaran infrastruktur.

Masalah yang tak kalah serius, adalah, pertama: defisit neraca perdagangan.

Kedua: service accounts negatif.

Ketiga: current accounts negatif,

Keempat: fiscal balance negatif.

Kelima: utang naik 15%.

Keenam: ya itu tadi, pertumbuhan ekonomi hanya 5%.

Enam poin itu menunjukkan bagaimana jebloknya tata kelola keuangan di negeri ini. Kata orang ekonomi, tidak prudent.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Riza Annisa Pujarama mengungkapkan, utang luar negeri Indonesia terus mengalami kenaikan signifikan. Bahkan layak disebut mengkhawatirkan. Lho kok bisa?

Hingga saat ini, kata Riza, utang luar negeri Indonesia telah mencapai Rp 7.000 triliun. Jumlah tersebut merupakan total utang pemerintah dan swasta. Dari sisi pemerintah, utang tersebut digunakan untuk menambal defisit anggaran. Dari sisi swasta dilakukan korporasi dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Jumlah utang Indonesia yang menurut kajian Indef mencapai Rp7.000 triliun itu, rasionya jelas jomplang jika dibandingkan dengan Amerika Serikat dan Jepang. “Membandingkan rasio utang dengan Amerika itu konyol. Karena AS itu tinggal cetak dollar dan jual ke luar negeri, ongkos cetak 100 dolar hanya dua dolar dan apalagi didukung hegemoni militer dan politik,” kata Rizal Ramli, Menko Perekonomian era Presiden Gus Dur itu.

Tak masuk akal kalau membandingkan utang RI dengan Jepang, sebab meskipun utang Jepang tinggi tetapi income internasionalnya juga tinggi. Dari kaca mata riil ekonomi, Jepang mempunyai net international investment positions US$2,8 triliun. Artinya, memiliki net external assets positif alias bangsa kreditor.

Jelas beda nasib dengan Indonesia yang net international investment positionnya negatif lebih dari US$400 miliar. Negeri ini memiliki net external liabilities, atau layak ditempatkan di barisan negeri debitor. Read the rest of this entry

Advertisements

Mengenal Tabungan Emas, Syarat, dan Manfaatnya

Investasi sama halnya dengan menabung itulah yang ada di benak mereka yang telah lama berkecimpung di bidang ini. Sebagai contohnya saja apabila Anda saat ini memiliki banyak uang dan disimpan di bank, maka uang tersebut bisa jadi akan berkurang karena inflasi. Uang satu juta sekarang tidak sama dengan uang satu juta sepuluh tahun yang akan datang, hal itulah yang harus mulai Anda pikirkan dari sekarang.

Untuk bisa mengantisipasi hal tersebut, maka langkah menabung yang paling tepat adalah menyimpannya dalam bentuk barang termasuk juga emas. Seperti yang kita ketahui bersama emas untuk setiap tahunnya mengalami kenaikan, dan jarang sekali mengalami penurunan. Jadi selain rumah dan tanah, emas pun merupakan cara menabung yang paling tepat untuk Anda.

Beberapa waktu lalu PT Pegadaian sebagai salah satu BUMN terbesar yang ada di Indonesia, telah meluncurkan produk terbarunya yang berbasiskan EMAS. Produk tersebut dinamakan Tabungan EMAS, memang masih dalam tahap uji coba, namun dalam waktu yang tidak lama lagi akan mulai tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Seperti kita ketahui PT Pegadaian saat ini memiliki lebih dari 4000 cabang di seluruh Indonesia.

Tabungan Emas adalah layanan pembelian dan penjualan emas dengan fasilitas titipan dengan harga yang terjangkau. Layanan ini memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk berinvestasi emas.

Berikut beberapa keunggulan serta manfaat yang bisa Anda dapatkan dari menabung dalam bentuk emas :

Keunggulan Tabungan Emas

Keunggulan Tabungan Emas via wsimg.com

 

  1. Pegadaian Tabungan Emas tersedia di Kantor Cabang di seluruh Indonesia (sementara hanya tersedia di Kantor Cabang Piloting).
  2. Pembelian emas dengan harga terjangkau (mulai dari berat 0,01 gram).
  3. Layanan petugas yang profesional.
  4. Alternatif investasi yang aman untuk menjaga portofolio aset.
  5. Mudah dan cepat dicairkan untuk memenuhi kebutuhan dana Anda.

Syarat Tabungan Emas

Membuka rekening Tabungan Emas di Kantor Cabang Pegadaian hanya dengan melampirkan fotocopy identitas diri (KTP/ SIM/ Passpor) yang masih berlaku.

  1. Mengisi formulir pembukaan rekening serta membayar biaya administrasi sebesar Rp5.000,- dan biaya fasilitas titipan selama 12 bulan sebesar Rp30.000,-.
  2. Proses pembelian emas dapat dilakukan dengan kelipatan 0.01 gram dengan atau sebesar Rp5.320,- untuk tanggal hari ini (07-04-2016). Misalnya jika ingin membeli 1 gram, maka harganya adalah Rp532.000,-.
  3. Apabila membutuhkan dana tunai, saldo titipan emas Anda dapat dijual kembali (buyback) ke Pegadaian dengan minimal penjualan 1 gram dan Anda dapat menerima uang tunai sebesar Rp515.000,- untuk tanggal 07-04-2016.
  4. Apabila menghendaki fisik emas batangan, Anda dapat melakukan order cetak dengan pilihan keping (5gr, 10gr, 25gr, 50gr, dan 100gr) dengan membayar biaya cetak sesuai dengan kepingan yang dipilih.
  5. Minimal saldo rekening adalah 0.1 gram
  6. Transaksi penjualan emas kepada Pegadaian dan pencetakan emas batangan, saat ini hanya dapat dilayani di Kantor Cabang tempat pembukaan rekening dengan menunjukkan Buku Tabungan dan identitas diri yang asli.

Cara Menabung Emas di Pegadaian

Read the rest of this entry

Laba PT Waskita Naik Tajam Jadi Rp1,4 T

PT Waskita Karya Tbk (WSKT) mencatat laba bersih per 30 Juni 2017 menjadi Rp1,42 triliun dari Rp582,23 miliar pada periode yang sama tahun 2016.

Peningkatan laba bersebut seiring dengan lonjakan pendapatan usaha yang menjadi Rp15,54 triliun dari Rp8,08 triliun. Untuk beban pokok pendapatan menjadi Rp12,8 triliun dari Rp6,5 triliun.

Untuk itu laba bruto menjadi Rp2,6 triliun dari Rp1,4 triliun. Demikian mengutip keterbukaan informasi di BEI, Selasa (18/7/2017).

Untuk laba sebelum pajak menjadi Rp1,5 triliun dari Rp798,6 miliar. Sedangkan beban pajak menjadi Rp162,9 miliar dari Rp216,4 miliar. Laba bersih menjadi Rp1,42 triliun dari Rp582,23 miliar.

Perseroan mencatat total aset menjadi Rp75,9 triliun dari Rp61,4 triliun. Untuk total liabilitas menjadi Rp55,03 triliun dari Rp44,6 triliun.

Saham WSKT pada perdagangan Selasa kemarin berakhir di Rp2.250 per saham. Dalam setahun terakhir harga tertinggi saham WSKT di Rp2.800 per saham pada penutupan 8 Agustus 2016. Untuk harga terendah di Rp2.180 per saham pada penutupan 14 November 2016.

 

Sumber : inilah.com

http://belajar-cara-membuat-website.blogspot.co.id/

http://ide-peluang-bisnis.blogspot.co.id/p/jasa-pembukuan.html

http://ide-peluang-bisnis.blogspot.co.id/p/program-persediaan-otomatis.html

The Fed Naikkan Suku Bunga, Saatnya Membeli Emas(?)

Harga emas akhir-akhir mendapatkan tekanan dari tren kenaikan indeks di bursa saham dan suku bunga negara maju, namun sejumlah analis mengekspektasikan harga logam mulia akan pulih dan memberi proteksi riil dari sejumlah risiko.

Saat ini, emas diperdagangakan di kisaran harga US$1200 per troy ounce Dalam perdagangan awal pekan kemarin, harga emas turun menjadi US$1204,45,terendah sejak pertengahan Maret lalu.

Sejumlah faktor membebani harga emas, termasuk tren kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve AS yang mendorong kenaikan indeks dolar, sehingga menekan harga emas. Kendati demikian, kenaikan suku bunga diyakini akan mendongkrak laju inflasi, yang berdampak positif pada harga emas.

Menurut Nitesh Shah, ahli strategi komoditas dari ETF Securities, secara tradisional emas adalah saran alindung nilai terhadap inflasi. “Kami meyakini bahwa ibnflasi di AS akan tetap menguat dan akan tumbuh ke atas 2 persen. Oleh karena itu suku bunga riil di AS, meskipun suku bunga meningkat, akan tetap rendah,” kata Shah seperti dikutip CNBC (12/7).

Shah memprediksikan, kondisi tersebut akan memberi peluang kepada harga emas untuk meningkat menjadi sekitar US$1.260 per troy ounce, pada akhir tahun nanti. Oleh karena itu, imbuhnya, emas akan memberi perlindungan terhadap peristiwa berisiko.

“Emas tetap menjadi lindung nilai yang sangat bagus terhadap berbagai risiko, dan dengan kondisi seperti peningkatan eskalasi ketegangan di Timur Tengah, atau saling provokasi AS dan Korea Utara, kami pikir, harga emas mempunyai potensi untuk melompat jika salah satu peristiwa tersebut muncul ke permukaan,” Shah menambahkan.

Bahkan menuut Adrian Ash, direktur riset komoditas di Bullion Vault,  harga emas saat ini bisa berarti lebih murah, terutama bagi investor yang berupaya mendapatkan lindung nilai dari keumngkinan kejatuhan harga aset lain.

“Emas cenderung berperan dengan baik, ketika aset lain bertingkah buruk, dan menjadi yang terbaik dibanding yang lain ketika investor kehilangan kepercayaan kepada bank sentral,” paparnya.

“Emas dan perak cenderung akan meningkat tajam jika konsensus pasar tiba-tiba memperkirakan Bank Sentral Eropa (ECB) dan juga Bank of England akan bergabung dengan The Fed, untuk secepat mungkin memangkas stimulus moneternya,” imbuh Ash.

Sementara itu, Suki Cooper, analis logam mulia di Standard Chartered Bank berpendapat, harga emas pada saat ini berada pada titik peluang beli. “Penutupan harga emas sebesar US$1.200 per ounce, menawarkan peluang menarik untuk membeli,” ungkapn Cooper dalam catatan risetnya.

Namun ia memperingatkan bahwa masih ada beberapa penghalang, yang bisa menekan harga emas tetap rendah. Pertama adalah imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) berjangka 10 tahun yang mencapai 2,4 persen, tertinggi sejak pertengahan Mei lalu.

“Penurunan kembali harga emas, berkaitan dengan kenaikan imbal hasil riil tertinggi tahun ini di AS, begitu juga dengan kenaikan tajam imbal hasi riil di Eropa ke level tertinggi selama lebih dari seteahun terakhir,” kata Joni Teves, ahli strategi UBS, dalam catatan risetnya, Senin lalu.

Kedua, reformasi pajak terbesar di India dalam 70 tahun terakhir. Pajak barang dan jasa akan membebani permintaan selama Juli ini. Penerapan pajak baru mulai awal Juli lalu, menaikkan pajak emas dari 1,2 persen menjadi 3 persen.

“Laporan media menunjukkan bahwa permintaan emas turun antara 50 hingga 75 persen pada hari pertama perdagangan di bulan Juli ini,” kata Cooper. “Ada anekdot yang memastikan pandangan kami bahwa permintaan cenderung akan melemah pada awalnya, hingga permasalahan tagihan dan persediaan teratasi, namun setelah itu akan pulih kembali,” ia menambahkan.

Namun menurut UBS, selain beberapa kendala tersebut, investor cenderung mengambil posisi untuk mendukung emas. Posisi jangka panjang neto – dimana investor mengekspektasikan harga akan terus meningkat – pada emas telah menurun hingga 53 persen, atau 12 juta ounces, selama empat pekan terakhir.

Sementara itu posisi jangka pendek – yang mengekspektasikan harga emas akan turun – telah meningkat. Menurut UBS, perubahan ini akan membatasi kekuatan untuk menjual emas.

“Kondisinya akan cenderung menantang untuk mengambil posisi yang cukup besar, dengan memperhatikan harga emas yang sudah turun cukup besar, kecuali ada keyakinan kuat harga emas akan melorot hingga menembus US$1.110, yang menurut kami akan sulit terjadi,” ujar Teves.

“Kami mempertahankan pandangan kami bahwa emas akan pulih dari kejatuhannya yang terakhir karena pergerakan suku bunga riil yang lebih tinggi cenderung tidak akan terus berlanjut, dan kami melihat nilai angka lebih panjang pada level tersebut.” Read the rest of this entry

Ini dia rekomendasi saham LSIP

Prospek sektor crude palm oil (CPO) terlihat masih cerah. NH Korindo Sekuritas memprediksi, harga CPO hingga akhir tahun nanti berada pada level Rp 8.400 per kilogram (kg).

“Kestabilan harga ini ditopang oleh permintaan domestik yang tetap kuat,” ujar Joni Wintarja, analis NH Korindo dalam riset, Senin (10/7).

Menurut Joni, PT London Sumatra Tbk (LSIP) bakal menikmati kestabilan harga tersebut. Sebab, LSIP telah mencatat kenaikan produksi CPO.

Sepanjang kuartal I tahun ini, produksi CPO LSIP meningkat 27,5% menjadi 120.099 ton. Tahun ini, lanjut Joni, produksi CPO LSIP diperkirakan akan meningkat 18,4% pada 2017 menjadi 437.582 ton yang merupakan angka produksi normal sebelum dilanda fenomena cuaca El-Nino.

Atas dasar ini, Joni merekomendasikan buy saham LSIP dengan target harga hingga akhir tahun Rp 1.970 per saham. Target harga ini mencerminkan price earning ratio (PER) sebesar 13,5 kali.

Pada perdagangan awal pekan ini, saham LSIP menguat 10 poin ke level 1.440 per saham. Saham LSIP saat ini diperdagangkan dengan PER 9,8 kali. Read the rest of this entry

Tutorial on Average Directional Index (ADX)

Most profitable and least risky strategy is to trade with the trends. The stronger the trend the better the reward is. Finding the trend, measuring its strength is possible with Average Directional Index (ADX), an indicator developed by Welles Wilder. It may be worth mentioning here that of Welder contribution to technical analysis was also in developing RSI, ATR and Parabolic SAR.

ADX indicator is used to find whether Stock is in trend and also finds the strength of the trend. It, however, does not indicate about the direction of the trend. It provides similar value for both uptrending and down-trending stocks. Stock direction is provided by additional lines that supplement with ADX. We will cover them later.

Though complex in calculating its value, its usage is very simple. Its value oscillates between 0 and 100. Wilder suggested that if ADX is above 25 then stock is trending and as the trend gets stronger, ADX moves up. A value above 40 is considered a very Strong uptrend. A value below 20 is considered as no trend or side ways market.O wing to its vast acceptance, most of technical Analysis software does the calculation including TopStockResearch.

 

Trading Strategies with ADX and Interpretation

ADX Value Trend Strength Comments Stock Screener at TSR
0-20 Non Trending Sideways market or a phase of Accumulation/Distribution Yes
20-25 Trending for less Volatile Stocks Some Analyst use value above 20 as Trending. Works for lesser volatile stocks Yes
25-40 Strong Trend This indicates very strong trend. Traders should take advantage of it. Yes
40-60 Very Strong Trend Rare but they do occur Yes
60-100 Extremely Strong Trend Very rare. Such trends are not sustainable and traders should be ready for trend reversal Yes

Read the rest of this entry

Kinerja AALI juara di sektor perkebunan tahun 2016

Tekanan yang selama ini terjadi pada sektor perkebunan mulai mereda. Kinerja sejumlah emiten di sektor itu kembali memunculkan harapan akan prospek industri perkebunan kembali positif.

Dari sisi top line, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) [14,975 75 (+0,5%)] tak beda jauh dengan emiten lainnya yang sebagian besar mencatat pertumbuhan single digit. Pendapatan AALI [14,975 75 (+0,5%)] meningkat 9% year on year (yoy) menjadi Rp 14,12 triliun sepanjang 2016 dari sebelumnya Rp 13,06 triliun.

Tapi dari segi bottom line, AALI [14,975 75 (+0,5%)] jadi yang paling moncer. Laba bersihnya melonjak 224% menjadi Rp 2,01 triliun dari sebelumnya Rp 619,11 miliar.

Laba bersih paling moncer kedua disusul oleh PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) [2,040 0 (+0,0%)]. Kenaikannya mencapai 78% yoy mejadi Rp 441,88 miliar dari sebelumnya Rp 247,57 miliar.

Kinerja PT Sinarmas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) [4,100 0 (+0,0%)] juga sejatinya menarik. Perseroan tahun lalu malah mencatat laba bersih Rp 2,6 triliun dari sebelumnya rugi Rp 386,17 miliar.

Kenaikan laba itu dicatat ditengah penurunan pendapatan sebesar 18% yoy menjadi Rp 29,75 triliun. Sayang, sentimen positif kenaikan laba itu dibatasi oleh kurang likuidnya saham perseroan.

Namun, tidak semua emiten perkebunan mencatat kinerja positif. PT London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) [1,475 10 (+0,7%)] misalnya.

Entitas Grup Salim itu mencatat penurunan pendapatan sebesar 8% yoy menjadi Rp 3,85 triliun. Laba bersihnya juga mengalami penurunan, yakni 5% yoy menjadi Rp 593,83 miliar.

Sama halnya dengan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) [484 -16 (-3,2%)]. Pendapatannya turun sekitar 10% yoy menjadi Rp 3,94 triliun. Laba bersihnya tercatat Rp 250,71 miliar, turun 7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Kendati demikian, prospek emiten perkebunan tahun ini secara keseluruhan masih lebih positif. Banyak faktor yang mendorong optimisme itu.

“Salah satunya soal pembatasan lahan baru perkebunan,” kata Joni Wintarja, analis NH Korindo Securities Indonesai kepada KONTAN belum lama ini.

Dengan lahan yang terbatas, otomatis kenaikan suplai ikut terbatas. Sehingga, kondisi itu berpotensi memicu kenaikan harga crude palm oil (CPO).

Ekspektasi meningkatnya permintaan CPO juga terlihat. Hal itu terindikasi dari aktivitas re-stocking oleh negara-negara pengimpor.

Efek El Nino juga sudah mereda. Sehingga, produksi CPO kembali membaik. Produksi yang membaik ditambah terangkatnya harga CPO membuat kinerja keuangan emiten perkebunan semakin solid.

Di sisi lain, membaiknya produksi untuk waktu yang panjang bakal menambah suplai CPO di pasar. Tentu, akibatnya harga yang kembali turun.
Read the rest of this entry

Semen Indonesia Bagi Dividen Total Rp1,81 Triliun

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) menyetujui pembagian dividen tahun buku 2016 senilai Rp304,92 per saham atau senilai total Rp1,81 triliun.

Direktur Utama SMGR, Rizkan Chandra kepada pers di Jakarta, Jumat (31/4) mengatakan pembagian dividen tersebut setara 40 persen dari raihan laba bersih sepanjang 2016 lalu senilai Rp4,52 triliun.

“Jumlah dividen yang dibagikan ini terbilang sama dengan pembagian dividen tahun buku 2015,” katanya. Read the rest of this entry

Rencana pajak tekan emiten ritel dan bank

Transaksi melalui kartu kredit kini mulai masuk radar aparat pajak. Kebijakan tersebut bisa mempengaruhi prospek bisnis emiten di Bursa Efek Indonesia, terutama emiten perbankan dan ritel.

Sekadar mengingatkan, melalui surat tanggal 23 Maret lalu, Kementerian Keuangan meminta bank menyerahkan data nasabah kartu kredit, berupa data pokok pemegang kartu kredit. Bank juga diminta menyampaikan data transaksi kartu kredit nasabah.

Bahana Securities menilai, pembukaan data pokok nasabah dan transaksi kartu kredit berpotensi menekan kinerja emiten ritel modern, terutama PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI). Selama ini, MAPI menyasar segmen menengah atas. “Belanja konsumer yang menggunakan kartu kredit akan menurun,” tulis Harry Su, Kepala Riset Bahana Securities, dalam riset yang diterima KONTAN, kemarin. Read the rest of this entry

Tertekan Beban Bunga, Laba MPPA Tergerus 79 Persen

PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) meraih laba bersih Rp38 miliar atau turun -79 persen (YoY) di sepanjang 2016 (FY16). Hal ini terjadi seiring pendapatan perseroan yang turun -2,9 persen (YoY) dan operating expenditure (opex) yang melonjak 2,4 persen (YoY).

Kinerja secara triwulanan, laba bersih pada 4Q16  sebesar Rp6 miliar dibanding periode 4Q15 yang rugi bersih senilai Rp78 miliar. Sementara pendapatan pada 4Q16 turun menjadi Rp3,1 triliun (-8% QoQ dan -10% YoY).

Pencapaian bottom line MPPA [MPPA 1,145 -5 (-0,4%)] berada di bawah ekspektasi sebagian besar karena naiknya opex serta beban bunga. Marjin operasi turun 1,3% pada FY16 (vs FY15 sebesar 2,0%).

Marjin bersih melemah 0,3 persen (versus 1,3% pada FY15). Tim Riset PT Indo Premier menilai pencapaian MPPA tersebut sebagai hasil kinerja yang buruk dan mempertahankan rekomendasi jual terhadap saham MPPA. Read the rest of this entry