Blog Archives

Kinerja AALI juara di sektor perkebunan tahun 2016

Tekanan yang selama ini terjadi pada sektor perkebunan mulai mereda. Kinerja sejumlah emiten di sektor itu kembali memunculkan harapan akan prospek industri perkebunan kembali positif.

Dari sisi top line, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) [14,975 75 (+0,5%)] tak beda jauh dengan emiten lainnya yang sebagian besar mencatat pertumbuhan single digit. Pendapatan AALI [14,975 75 (+0,5%)] meningkat 9% year on year (yoy) menjadi Rp 14,12 triliun sepanjang 2016 dari sebelumnya Rp 13,06 triliun.

Tapi dari segi bottom line, AALI [14,975 75 (+0,5%)] jadi yang paling moncer. Laba bersihnya melonjak 224% menjadi Rp 2,01 triliun dari sebelumnya Rp 619,11 miliar.

Laba bersih paling moncer kedua disusul oleh PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) [2,040 0 (+0,0%)]. Kenaikannya mencapai 78% yoy mejadi Rp 441,88 miliar dari sebelumnya Rp 247,57 miliar.

Kinerja PT Sinarmas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) [4,100 0 (+0,0%)] juga sejatinya menarik. Perseroan tahun lalu malah mencatat laba bersih Rp 2,6 triliun dari sebelumnya rugi Rp 386,17 miliar.

Kenaikan laba itu dicatat ditengah penurunan pendapatan sebesar 18% yoy menjadi Rp 29,75 triliun. Sayang, sentimen positif kenaikan laba itu dibatasi oleh kurang likuidnya saham perseroan.

Namun, tidak semua emiten perkebunan mencatat kinerja positif. PT London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) [1,475 10 (+0,7%)] misalnya.

Entitas Grup Salim itu mencatat penurunan pendapatan sebesar 8% yoy menjadi Rp 3,85 triliun. Laba bersihnya juga mengalami penurunan, yakni 5% yoy menjadi Rp 593,83 miliar.

Sama halnya dengan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) [484 -16 (-3,2%)]. Pendapatannya turun sekitar 10% yoy menjadi Rp 3,94 triliun. Laba bersihnya tercatat Rp 250,71 miliar, turun 7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Kendati demikian, prospek emiten perkebunan tahun ini secara keseluruhan masih lebih positif. Banyak faktor yang mendorong optimisme itu.

“Salah satunya soal pembatasan lahan baru perkebunan,” kata Joni Wintarja, analis NH Korindo Securities Indonesai kepada KONTAN belum lama ini.

Dengan lahan yang terbatas, otomatis kenaikan suplai ikut terbatas. Sehingga, kondisi itu berpotensi memicu kenaikan harga crude palm oil (CPO).

Ekspektasi meningkatnya permintaan CPO juga terlihat. Hal itu terindikasi dari aktivitas re-stocking oleh negara-negara pengimpor.

Efek El Nino juga sudah mereda. Sehingga, produksi CPO kembali membaik. Produksi yang membaik ditambah terangkatnya harga CPO membuat kinerja keuangan emiten perkebunan semakin solid.

Di sisi lain, membaiknya produksi untuk waktu yang panjang bakal menambah suplai CPO di pasar. Tentu, akibatnya harga yang kembali turun.
Read the rest of this entry

Advertisements

Inilah Laba-Rugi Bersih Emiten Kuartal I-2015

Berikut ini adalah hasil rekapitulasi laba atau rugi bersih emiten kuartal I-2015 dibandingkan kuartal I-2014 hingga 27 April 2015. Seperti apa?

1. PT Astra Agro Lestari (AALI) [20,125 -1875 (-8,5%)] Rp156 miliar pada kuartal I-2015 dibandingkan Rp784 miliar pada kuartal I-2014;

2. PT Timah (TINS) [855 -40 (-4,5%)] -Rp19,1 miliar kuartal I-2015 dibandingkan Rp95 miliar kuartal I-2014;

3. PT Bank Negara Indonesia (BBNI) [6,725 -225 (-3,2%)] Rp2,82 triliun kuartal I-2015 dibandingkan Rp2,39 triliun kuartal I-2014;

4. PT Astra Graphia (ASGR) [2,140 -60 (-2,7%)] Rp47,5 miliar kuartal I-2015 dibandingkan Rp33,1 miliar kuartal I-2014;

5. PT Astra Otopart (AUTO) [3,200 -55 (-1,7%)] Rp87,4 miliar kuartal I-2015 dibandingkan Rp265,5 miliar kuartal I-2014;

6. PT Siloam International Hospital (SILO) [14,200 175 (+1,2%)] Rp34,5 miliar kuartal I-2015 dibandingkan Rp26,9 miliar kuartal I-2014;

7. PT Bank CIMB-Niaga (BNGA) [690 -5 (-0,7%)] Rp82,7 miliar kuartal I-2015 dibandingkan Rp1,09 triliun kuartal I-2014;

8. PT Arwana Citramulia (ARNA) [530 -5 (-0,9%)] Rp39,6 miliar kuartal I-2015 dibandingkan Rp77,1 miliar kuartal I-2014;

9. PT Unilever Indonesia (UNVR) [42,750 -250 (-0,6%)] Rp1,59 triliun kuartal I-2015 dibandingkan Rp1,36 triliun kuartal I-2014;

10. PT Elnusa (ELSA) [575 -10 (-1,7%)] Rp65 miliar kuartal I-2015 dibandingkan Rp54 miliar kuartal I-2014;

11. PT AKR Corporindo (AKRA) [5,075 -75 (-1,5%)] Rp295 miliar kuartal I-2015 dibandingkan Rp180 miliar kuartal I-2014;

12. PT Logindo Samuderamakmur (LEAD) [1,370 -40 (-2,8%)] US$1,09 juta kuartal I-2015 dibandingkan US$5,69 juta kuartal I-2014; dan

13. PT Nirvana Development (NIRO) [203 -3 (-1,5%)] Rp19,7 miliar kuartal I-2015 dibandingkan Rp3,8 miliar kuartal I-2014. Read the rest of this entry

Produksi CPO AALI Q3 Tumbuh 24%

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mencatat pertumbuhan produksi minyak kelapa sawit sebesar 24% menjadi 1,29 juta ton.

Buletin AALI edisi Oktober 2014, sejalan dengan peningkatan produksi harga rata-rata turut meningkat sekitar 19,3% menjadi Rp8.474 /kg.

“Capaian ini seiring dengan kenaikkan produksi TBS AALI yang sampai dengan bulan September 2014 juga meningkat 13,8% atau menjadi 4,18 juta ton dari 3,67 juta ton tahun lalu,” demikian ulas tim manajemen AALI.

AALI turut mencatat pertumbuhan produksi dan harga penjualan kernel masing-masing 19,6% dan 77,7% atau menjadi 276.261 ton dan Rp5.487 /kg. Read the rest of this entry

Target Price AALI Dinaikkan 17,6 Persen, Begini Alasan Analis

Semester I 2014 (1H14) Astra Agro Lestari (AALI) membukukan laba bersih Rp1,37 triliun, naik 86,9% secara tahunan (year on year/YoY). Pencapaian laba yang solid tersebut terutama ditopang oleh kuatnya harga jual rata-rata (ASP) seiring harga patokan CPO yang stabil dan depresiasi nilai tukar rupiah.

Pencapaian ini mengimbangi volume penjualan yang turun 10,3% menjadi 675 ribu ton karena alokasi 92.400 ton CPO ke unit usaha olein baru AALI di periode 1H14. “Kami mempertahankan perkiraan kinerja positif AALI dan valuasi  sampai 2015,” kata analis PT Indo Premier Securities William Simadiputra dalam riset yang dipublikasikan Kamis (24/7). Menurutnya target price (TP) saham AALI Rp30.000 didasarkan pada valuasi rasio P/E 12,0 kali sampai akhir 2015.

Laba [AALI 26,575 575 (+2,2%)] naik 86,9% (YoY) menjadi Rp1,37 triliun yang berarti 42% dari estimasi laba tahun 2014 dengan pulihnya AS. ASP pada 1H14 Rp8.728/kg atau naik 31,5% (YoY).

Kata William, hasil kinerja ini inline dengan estimasi meskipun laba secara triwulanan (QoQ) turun 25,6% menjadi Rp584 miliar di 2Q14 karena rugi kurs. Volume penjalan naik 14,7% (QoQ) menjadi 361 rubu ton. Sementara ASP terpangkas 4,9% (QoQ) menjadi Rp8.507/kg di 2Q14. “Penurunan ASP pada 2Q14 relatif karena patokan harga CPO yang turun pelemahan rupiah di periode tersebut,” tambahnya.

Pada sisi bottom line, net margin terkonstraksi 800 bps menjadi 14% dengan rugi kurs Rp139 miliar di 2Q14 versus hanya Rp26,8 miliar pada 1Q14.

Produksi buah segar mencapai 2,75 juta tons atau naik 14,6% (YoY) di 1H14 dengan yield pertumbuhan tandan buah 11,0 ton per ha dibandingkan dengan 10,0 ton/ha di 1H13. Pada 2Q14 tandan buah mencapai 1,45 juta tons naik 12,6% (QoQ) sejalan dengan estimasi berkat kuatnya produksi perkebunan di Kalimantan. Produksi perkebunan di Kalimantan naik 28,7% (YoY) menjadi sebanyak 1,2 juta ton. Area kebun di Kalimantan relatif berpohon lebih mudah dibandingkan lokasi kebun lainnnya dan memberikan yield pertumbuhan lebih baik.

Sementara itu kontribusi pihak ketiga terhadap total produksi tandan buah segar naik 48,0% (1H13 sebanyak 44,0%) ditopang oleh usaha maksimal kapasitas tambahan pabrik CPO baru seraya menunggu ekspansi produksi lebih lanjut perkebunan inti di Kalimantan. Volume penjualan CPO turun 10,3% (YoY) di 1H14 (pada 2Q14 naik 14,7% secara tahunan menjadi 1,451 juta ton.

William memperkirakan laba AALI akan kuat pada 2H14 didukung oleh siklus produksi yang tinggi dan margin yang normal. Kuatnya kinerja AALI juga akan ditunjang ekspansi pohon yang mulai matang terutama di perkebunan Kalimantan serta kuatnya neraca keuangan untuk akuisisi lahan. Dia mempertahankan estimasi laba AALI dan merekomendasikan Buy saham AALI dengan TP Rp30.000/saham versus sebelumnya Rp25.000/saham.

Key Financials 2012F 2013F 2014F 2015F 2016F
Sales 11,564 11,441 16,067 18,774 19,453
EBITDA 4,036 3,075 5,282 6,261 7,037
Net profit 2,410 1,254 3,248 3,965 4,517
EPS 1,531 796 2,063 2,519 2,869
Dividend yield 4.10% 2.60% 1.40% 3.70% 3.80%
EBIT Margin 30% 21% 28% 30% 32%
ROIC 21% 10% 23% 23% 35%
EV/EBITDA 10.9 x 14.6 x 8.2 x 6.4 x 5.8 x
P/E 18 x 34.5 x 13.2 x 10.2 x 9.6 x
source : AALI, Indo Premier Securities

Read the rest of this entry

AALI Catat Pendapatan Mencapai Rp5,89 Triliun

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) [26,250 100 (+0,4%)] mengumumkan sepanjang enam bulan pertama tahun ini berhasil catat pendapatan dari penjualan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) mencapai Rp5,89 triliun, naik 18,04% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp4,99 triliun. Pendapatan CPO didukung meningkatnya harga di tengah menurunnya volume CPO.

Tercatat sejak Januari-Juni 2014, volume penjualan CPO AALI [26,250 100 (+0,4%)] menurun 10,3% menjadi 674.730 ton dari periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 752.202 ton. Peningkatan harga jual CPO ini merupakan dampak dari menguatnya harga CPO dunia pada tiga bulan pertama tahun 2014.

Laporan perseroan yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (21/7) diebutkan, harga penjualan CPO AALI [26,250 100 (+0,4%)] hingga Juni melonjak 31,5% menjadi Rp8.728 per kilogram (kg) dibanding semester I tahun lalu Rp6.638 per kg.  Pada periode yang sama, volume penjualan komoditas kebun perseroan lainnya, yakni kernel mengalami kenaikan 8,1% menjadi 174.589 ton dibanding periode yang sama tahun lalu 161.555 ton. Adapun harga komoditas ini melonjak 98,8% menjadi Rp5.792 per kg dari Rp2.914 per kg.

Pendapatan perseroan dari penjualan kernel hingga Juni 2014 sebesar Rp1,01 triliun. Angka itu tumbuh signifikan 114,54% dibanding periode yang sama 2013 senilai Rp470,77 miliar. Jika pendapatan CPO dan kernel perseroan sepanjang paruh pertama tahun ini digabung menjadi Rp6,9 triliun. Angka ini naik 26,37% dibanding penjualan CPO dan kernel perseroan pada periode yang sama 2013 senilai Rp5,45 triliun. Read the rest of this entry

Astra Agro Lestari Bagikan Dividen Rp1,8 Triliun

Anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) [7,825 75 (+1,0%)], PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) [28,350 1250 (+4,6%)] membagikan keuntungan bagi hasil (dividen) kepada pemegang saham sekira Rp810 miliar atau 45 persen dari laba bersih tahun buku 2013 Rp1,80 triliun.

Pemberian ini setelah diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang diselenggarakan di Hotel Gran Melia, Jakarta, Kamis (17/4/2014).

“Perolehan laba bersih pada tahun buku 2013 di antaranya akan dibagikan sebagai dividen tunai kepada para pemegang saham sebesar Rp515 per saham,” ucap Presiden Direktur AALI [28,350 1250 (+4,6%)], Widya Wiryawan.

Read the rest of this entry

Inilah Target Harga Saham Perkebunan

Secara fundamental, saham-saham perkebunan dinilai prospektif seiring pemulihan ekonomi global. Hanya saja, untuk saat ini resistensinya sangat kuat. Seperti apa?

Pengamat pasar modal Sem Susilo mengatakan, dari sentimen fundamental, saham-saham perkebunan tetap masih prospektif. Sebab, pemulihan ekonomi global memacu kebutuhan komoditas yang angkanya semakin besar.

Hanya saja, kata Sem, untuk saat ini, resistensinya cukup kuat karena harga sahamnya sudah cukup tinggi. “Karena itu, saham-saham perkebunan kemungkinan akan mengalami proses konsolidasi terlebih dahulu,” katanya kepada INILAHCOM. Berikut ini penjelasan rinci dari Sem Susilo: Read the rest of this entry

Mereka Yang Berkibar Saat IHSG Rontok

Indeks Harga Saham Gabungan pada akhir pekan, Jumat (6/12) terperosok ke zona merah. Indeks acuan Indonesia itu turun 36.11 poin atau melemah 0,86%. Sembilan sektor berkubang ke zona merah, hanya satu sektor yang ada di zona hijau, yakni sektor perkebunan.

Sampai penutupan perdagangan, sektor perkebunan menjadi satu-satunya sektor yang mencatat poin positif dengan kenaikan 1,71%. Kenaikan saham-saham yang ada di sektor perkebunan memperpanjang reli yang sudah tertoreh sejak November.

Dalam riset KONTAN, sektor perkebunan selama November telah menguat 14,60%. Penguatan saham sektor perkebunan terjadi saat posisi IHSG terperosok 7,31% di bulan yang sama.

Penguatan saham perkebunan disumbang oleh kenaikan saham-saham emiten kelapa sawit, diantaranya; PT PP London Sumatera Tbk (LSIP) yang mencatat kenaikan 14,28% selama November menjadi Rp 1.840. Kemudian, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menguat 13,52% selama November menjadi Rp 22.250. Read the rest of this entry

Sektor Plantation Neutral, Ini Alasan AALI dan BWPT Jadi Top Picks

Emiten-emiten CPO kini diwarnai sentimen sinyal pemulihan harga CPO di tengah turunnya produksi CPO Indonesia dan prospek demand biodiesel lokal. Sementara pertumbuhan produksi CPO Indonesia hanya mencapai 3,7% secara tahunan (YoY) atau jauh lebih rendah dibandingkan dengan target 10% YoY jika mengacu kepada data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki).

Analis sektor plantation PT Indo Premier Securities William Simadiputra mengatakan rendahnya pertumbuhan produksi karena terutama karena produktivitas perkebunan terutama di wilayah Sumatera selama semester I 2013 (1H13).
Read the rest of this entry