Blog Archives

Membaca Saham BBRI Dengan Import Data Ke Metatrader 4

“When There Is A Will, There Is A Way”

Pepatah ini sangat cocok untuk menggambarkan bila memang ada kemauan yang kuat, selalu akan ada jalan.

Kita tahu bahwa sekuritas memang menampilkan grafik saham dengan indikator built in yang standar, namun tidak memungkinkan bila ingin menambahkan indikator selain yang telah disediakan. Sedangkan kita menyadari bahwa indikator adalah seperti kacamata yang membantu dalam menganalisa pergerakan saham.

Terinsipirasi dengan Metatrader yang sangat mumpuni dengan indikator-indikator terbaik sehingga sangat memudahkan membaca arah pergerakan, namun hanya terbatas untuk forex, index, CFD luar negeri.

bbri

Nah, bagaimana caranya bila ingin membaca pergerakan saham Indonesia di Metatrader ? Read the rest of this entry

Advertisements

Tips & Strategi Menghadapi Penurunan IHSG

Setelah sempat ‘absen’ dari peristiwa koreksi yang signifikan sepanjang tahun 2014 lalu, pada pertengahan tahun 2015 ini IHSG kembali membara. Ketika artikel ini ditulis, posisi IHSG tercatat 5,055, atau turun total 3.2% dibanding posisi awal tahun yakni 5,227. Dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi dll yang memang tidak begitu bagus (kita sudah berkali-kali membahasnya di website ini, coba baca lagi artikel-artikel sejak Maret lalu), maka penurunan ini sama sekali tidak mengejutkan dan sejak awal memang sudah diantisipasi. Jika tidak ada perubahan fundamental kedepannya, kemungkinan kondisi ini akan terus berlanjut, dan alhasil IHSG pada tahun 2015 ini bisa kembali ditutup turun dibanding tahun sebelumnya. Pertanyaannya, what should we do?

IHSG sebenarnya ‘secara resmi’ sudah memulai periode koreksinya sejak akhir April lalu, dimana ia tiba-tiba saja turun terus menerus dari puncaknya 5,512 hingga 5,086, yang kemungkinan karena dipicu oleh buruknya kinerja pada emiten di Kuartal I 2015. Karena penurunannya sangat signifikan (lebih dari 8% hanya dalam tempo seminggu), maka tak lama kemudian dia rebound cepat hingga sempat naik 5,300-an lagi. Tapi yah.. karena memang belum ada peristiwa apapun yang secara fundamental bisa mengubah outlook perekonomian Indonesia kedepannya (kemarin ada perubahan outlook rating dari S&P, tapi rating itu sendiri masih belum berubah), maka sangat wajar jika kemudian IHSG longsor kembali.

Dalam acara investor meeting dan gathering dengan tema ‘Strategi Investasi Menghadapi Bear Market’ yang penulis selenggarakan di Jakarta, tanggal 23 Juni lalu (ketika IHSG mengalami rebound-nya dengan naik lagi ke 5,300-an), penulis menyampaikan setidaknya tiga point utama terkait perekonomian nasional.

  1. Pertumbuhan ekonomi mulai slow down, dimana bisnis terasa lesu di segala sektor, para emiten di BEI mengalami penurunan laba, inflasi masih tinggi di level 6.9%, dan Rupiah masih lemah di level Rp13,000-an per USD.
  2. Namun demikian, kondisi ekonomi masih jauh dari krisis. Tapi jika tidak ada perubahan terkait kebijakan pemerintah dll, maka bukan tidak mungkin krisis tersebut pada akhirnya akan terjadi.
  3. Berdasarkan pengalaman, ketika perekonomian mulai menunjukkan trend slow down, maka kalaupun nantinya ada perubahan yang positif, trend tersebut tetap tidak akan langsung berbalik arah lagi dalam waktu dekat melainkan butuh waktu minimal setahunan.

Read the rest of this entry

Price Earning Ratio dan Price to Book Value

Price Earning Ratio (PER) adalah salah satu ukuran paling dasar dalam analisis saham secara fundamental. Secara mudahnya, PER adalah ‘perbandingan antara harga saham dengan laba bersih perusahaan’, dimana harga saham sebuah emiten dibandingkan dengan laba bersih yang dihasilkan oleh emiten tersebut dalam setahun.

Karena yang menjadi fokus perhitungannya adalah laba bersih yang telah dihasilkan perusahaan, maka dengan mengetahui PER sebuah emiten, kita bisa mengetahui apakah harga sebuah saham tergolong wajar atau tidak secara real dan bukannya secara future alias perkiraan. Oke, kita langsung saja.

Menghitung PER sangat gampang, bahkan putra atau putri anda yang masih duduk di sekolah dasar pun bisa melakukannya. Yaitu dengan membagi harga saham dengan earning per share (EPS) perusahaan yang ditampilkan pada laporan keuangan terakhir perusahaan. Misalnya harga saham ADRO saat artikel ini ditulis adalah 1,990. EPS ADRO pada laporan keuangan 1Q10 adalah Rp 26.9 per saham. Karena angka 26.9 tersebut adalah EPS ADRO dalam satu kuartal (3 bulan), maka EPS-nya di-annualized-kan alias disetahunkan terlebih dahulu dengan cara dikali empat (3 bulan x 4 = 12 bulan = 1 tahun), sehingga hasilnya 26.9 x 4 = 107.6. Maka, PER ADRO adalah 1,990 dibagi 107.6, dan hasilnya adalah 19.1 kali. Dengan demikian, kita bisa mengatakan bahwa ‘harga saham ADRO adalah 19.1 kali laba bersih yang dihasilkan perusahaan’. Semakin besar nilai PER sebuah saham, maka semakin mahal saham tersebut.
Read the rest of this entry

Apa itu analisa fundamental?

  • Analisa fundamental adalah analisa yang berdasarkan kondisi riil keuangan perusahaan yang mengeluarkan saham.
  • Dengan melakukan penelitian secara langsung pada data-data perusahaan, maka dapat disimpulkan apakah saham perusahaan tersebut layak dibeli atau dijual.
  • Dalam kenyataannya data-data yang mempengaruhi kondisi keuangan suatu perusahaan sangat banyak atau bahkan tak terbatas. Sebab data-data yang mempengaruhi perusahaan tersebut bukan hanya data kondisi internal perusahaan namun juga kondisi lingkungan ataupun sentiment pasar yang mempengaruhi perusahaan, yang sangat banyak.
  • Memang faktor fundamental dalam perusahaan itu sangat banyak, namun terdapat data-data dasar yang dapat digunakan untuk mengambil kebijakan dalam membeli atau menjual saham seperti Book Value (BV), Price to Book Value (PBV), Earnings Per Share (EPS), serta Price to Earnings Ratio (PER).

1. Book Value (BV)

  • Book Value atau harga buku didefinisikan sebagai modal bersih suatu perusahaan dibagi dengan jumlah saham yang diedarkannya.
  • Modal bersih yang dimaksud adalah total aset perusahaan dikurangi dengan total kewajibannya. Jadi dari BV kita bisa melihat suatu saham itu memiliki harga yang murah atau mahal dibanding harga saham yang lain. Untuk melihat hal ini dengan lebih jelas, maka digunakan perhitungan berikutnya yaitu PBV.

2. Price to Book Value (PBV)

  • Price to Book Value didefinisikan sebagai harga (pasar) suatu saham dibagi dengan book valuenya.
  • Jadi kita bisa membandingkan harga-harga saham di sektor yang sama, apabila harga PBVnya lebih rendah maka kita bisa mengatakan harga sahamnya murah walaupun harga pasarnya mahal. Memang PBV tidak memperhitungkan kinerja perusahaan tersebut ke depannya, namun setidaknya bila kita melihat PBV suatu saham yang berkinerja baik sangat murah dibanding saham-saham lain pada sektor yang sama maka harga saham itu memiliki potensi untuk naik di masa datang, sehingga layak untuk dibeli.

3. Earnings per Share (EPS)

  • Earning per share adalah laba bersih suatu perusahaan dibandingkan dengan jumlah saham yang diedarkannya.
  • Dengan demikian yang menjadi acuan bukan aset perusahaan melainkan penghasilannya. Metode ini selain bisa digunakan untuk memprediksi pergerakan harga saham bisa juga memprediksi kemungkinan nilai deviden (keuntungan yang diberikan perusahaan pada pemegang saham secara langsung (tanpa harus menjual sahamnya)) yang akan diterima oleh investor.

  Read the rest of this entry

IHSG Anjlok, Bulan Madu Jokowi dan Investor Berakhir?

Bulan madu Presiden Joko Widodo dan investor global berakhir dengan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang anjlok dalam dan rupiah yang kian terpuruk dengan penurunan terdalam di Asia. Bobot politik Jokowi dinilai kurang, terlihat dari pencalonan Kapolri yang bermasalah, dan yang terakhir soal eksekusi mati yang mengagetkan masyarakat internasional, meski tak adil untuk menilai kinerjanya hanya dalam enam bulan masa kepresidenan.

Seperti dilansir Bloomberg, Kamis (30/4), setelah memulai masa jabatan presiden Oktober lalu dengan kebijakan ramah pasar lewat pemangkasan subsidi BBM, Jokowi kini dalam kecaman lewat  pengangkatan calon Kapolri bermasalah dan kini eksekusi warga asing penyelundup narkoba yang dinilai merugikan hubungan dengan mitra dagang. Hal itu diperparah dengan posisi Jokowi yang minim dukungan di parlemen yang bisa mempersulit dirinya menghidupkan kembali perekonomian.

Situasi itu, lanjut Bloomberg, menipiskan kesabaran pengelola dana asing yang sempat mendorong IHSG ke posisi tertinggi pada 7 April dan hingga kemarin anjlok 7,6 persen seiring penarikan dana oleh asing. Pada bagian lain, pemerintah hanya mendapatkan kurang separoh dari target lelang obligasi pada Selasa lalu. Tambahan lagi, para pemain mata uang bersikap bearish pada rupiah ketimbang mata uang regional.

“Sangat sulit menemukan hal-hal positif jika bicara ekonomi dan politik Indonesia saat ini,” ujar Michael Every, kepala riset pasar finansial Rabobank Group yang berbasis di Hong Kong. “Makin sulit untuk menjustifikasi apapun faktor premium Jokowi.”

Kekhawatiran investor asing paling terlihat di pasar saham pada Rabu (29/4) kemarin, dengan penurunan IHSG mencapai 2,6 persen hingga ditutup di posisi terendah sejak 17 Desember. Meski,  rupiah menguat 0,3 persen menjadi 12.944 terhadap dolar AS, namun tetap saja penurunan tahun ini mencapai 4,3 persen, sedangkan yield obligasi pemerintah bertenor 10 tahun turun lima basis poin menjadi 7,74 persen. Dan, hari ini, di awal perdagangan nilai tukar rupiah tergelincir  0,1 persen.

Pada hari puncak kekhawatiran itu, Indonesia mengeksekusi tujuh warga asing penyelundup narkoba, yang mendorong Australia menarik duta besarnya dan memperingatkan gangguan hubungan kedua negara. Perdagangan kedua negara mencapai USD9,7 miliar pada tahun lalu yang berakhir 30 Juni. “Eksekusi tersebut sangat tidak ramah bagi investor asing,” kata Every.

Sebelumnya, popularitas Jokowi merosot tajam dengan pencalonan Komjen Budi Gunawan yang memicu konflik kepolisian dan Komisi Pemberantas Korupsi (KPK), dan kini berujung pada keraguan atas kredibilitas KPK dengan pengangkatan orang-orang yang dinilai tak berkompeten, menggantikan pimpinan lama yang harus dinonaktifkan. Citra Jokowi sebagai pemimpin yang bisa melanjutkan reformasi dan memberantas korupsi makin dipertanyakan.

“Pesan yang didapat investor, Presiden (Jokowi) belum memiliki bobot politik,” tegas Paul Rowland, analis politik independen yang berbasis di Jakarta, dalam sebuah wawancara. “Ada tanda tanya atas kemampuannya untuk menuntaskan berbagai program reformasi.”

Menanggapi pandangan asing itu, Direktur Eksekutif Kebijakan Moneter Bank Indonesia, Juda Agung, menilai apa yang terjadi pada pasar saham hanya bersifat “musiman” sehingga tak terkait dengan kebijakan pemerintah, apalagi eksekusi mati. “Investor menunggu dan ingin melihat  laporan keuangan perusahaan kuartal pertama yang di bawah target. Tapi kami berharap dengan PDB yang kuat dan fundamental yang lebih baik pada kuartal kedua, investor akan kembali,” harap Juda.

Tantangan politik Jokowi telah meningkat sejak muncul kekhawatiran atas kekuatan pertumbuhan ekonomi dan laba perusahaan. Target pemerintah meningkatkan ekspansi 5,7 persen tahun ini, dari posisi terendah lima tahun sebesar 5,02 persen pada 2014, akan sulit dicapai. Hal ini diakui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil pada 21 April lalu.

Di pihak lain, mayoritas emiten, termasuk konglomerat PT Astra International Tbk [ASII 7,025 -75 (-1,1%)], telah melaporkan anjloknya laba pada kuartal pertama.

Namun, sebagian pengamat mengingatkan bahwa dampak kebijakan Jokowi harus dinilai selama bertahun-tahun, tidak dalam hitungan bulan. Menurut Alan Richardson, manajer investasi di Samsung Asset Management Co, Jokowi sudah bertekad mengakumulasi anggaran untuk membangun pelabuhan, jalan, dan rel kereta api. Program yang tentu butuh waktu untuk diterjemahkan ke angka pertumbuhan ekonomi.

Apalagi, ada beberapa tanda-tanda keberhasilan awal. Investasi langsung asing (FDI) ke Indonesia pada kuartal penuh pertama sejak Jokowi menjadi presiden, naik 14 persen dibandingkan kuartal yang sama 2014. Jokowi juga dinilai berhasil menekan subsidi energi yang selama ini sangat membebani anggaran pemerintah. “Berharap hasil hanya dalam enam bulan masa kepresidenan tentu tidak realistis,” ujar Richardson.

Kerentanan ekonomi

Hal yang pasti, perekonomian Indonesia sangat rentan terhadap prospek kenaikan suku bunga di Amerika Serikat dalam tahun ini. Neraca transaksi berjalan Indonesia telah mengalami defisit 13 kuartalan berturut-turut hingga akhir 2014. Sedangkan ratio cadangan devisa terhadap produk domestik bruto hanya kurang dari separuh jika dibandingkan dengan Malaysia, Thailand, bahkan Filipina.

Hal itu tentu menambah risiko di pasar mata uang, di mana para pemain yang disurvei Bloomberg telah memangkas estimasi rata-rata mereka untuk nilai tukar pada akhir 2016 turun 9 persen dibanding tahun ini menjadi Rp13.700 per dolar. Penurunan terbesar jika dibandingkan mata uang Asia lain.

Di pasar obligasi, investor ternyata juga berbalik arah. Hal ini terlihat dari lelang obligasi dengan target Rp10 triliun pada 28 April lalu, pemerintah hanya mendapatkan kurang dari separuh target. Ini adalah penjualan terlemah sejak Juni 2013, di saat pasar juga dikhawatirkan oleh berakhirnya program stimulus moneter di AS.

“Orang-orang (investor) sedikit terlalu optimistis tahun lalu,” ujar Divya Devesh, pakar strategi valuta asing di Standard Chartered Plc di Singapura. “Sejumlah optimisme yang tampaknya kini harus diturunkan.” Read the rest of this entry

Intraco Penta Tbk. (INTA) 08 Januari 2013

Memasuki awal tahun 2013 ini, saham-saham pertambangan sudah mulai recovery dari tidur lamanya yang dimulai dari kenaikan saham ITMG kemudian diikuti saham tambang lainnya.

Hal ini berimbas positif terhadap kenaikan saham UNTR yang fokus pada penjualan alat berat dan telah kembali pada posisi harga diatas Rp. 20.000. Selain itu terdapat saham INTA yang juga bergerak dalam bidang penjualan alat berat dan telah tertidur lama menunjukkan pembalikan arah ke arah positif.

Indikator MACD telah menunjukkan trend positif yang ditunjang oleh volume yang meningkat tajam, kemudian dalam beberapa hari terakhir ini telah menembus batas Bollinger Band atas sehingga garis Trendline mulai mendatar.

Untuk saham sektor pertambangan masih tetap harus berhati-hati dan menerapkan Money Management serta Stop Loss yang ketat, karena kondisi kebijakan ekonomi yang masih belum kondusif sepenuhnya.

S : 440 — R : 510

inta0801

 

 

United Tractors Tbk. (UNTR) 03 Juli 2012

Pertemuan Uni Eropa pada minggu lalu menghasilkan kesepakatan positif yang berdampak pada menguatnya IHSG sehingga kembali pada level diatas 4.000. Namun masih ada saham bluechip yang masih menunjukkan tanda-tanda akan naik yaitu saham UNTR yang bergerak di bidang alat berat dan masih merupakan grup Astra.

Asing mulai melakukan pembelian terhadap saham UNTR terutama 1 broker asing yang agresif mengumpulkan saham UNTR pada hari ini, hal ini menguatkan tanda-tanda bahwa saham UNTR akan segera mengakhiri trend menurun dan berbalik ke arah positif.

S : 21.000 — R : 25.200

Bank Rakyat Indonesia (BBRI) 08 Juni 2012

Pengaruh dari krisis Eropa yang masih belum reda telah membuat saham-saham dunia rontok termasuk di Indonesia. Pada awal bulan Juni ini, mata dunia masih menantikan hasil pemilu di Yunani pada tanggal 17 Juni 2012.

Saat ini bursa saham sedang mulai rebound dengan kecenderungan ketidakpastian yang masih cukup besar, sehingga kita sebagai investor harus pandai-pandai memanfaatkan kondisi ini untuk berinvestasi pada saham yang mempunyai fundamental kuat.

Bank BRI (BBRI) mempunyai peringkat AAA dan termasuk dalam 200 perusahaan besar dunia versi Forbes sehingga dengan menggunakan Money Management yang tepat maka saham BBRI layak untuk dikoleksi oleh investor untuk jangka panjang dengan target harga Rp. 8.000.

Walau kondisi saham BBRI masih downtrend namun telah menunjukkan perlawanan yang kuat, indikator Stochastic telah mengarah keatas dan indikator MACD telah golden cross.

S : 5.450 — R : 6.600

Indo Tambangraya Megah (ITMG) 18 April 2012

Mulai triwulan II tahun ini, maka emiten-emiten mulai membagikan dividen saham sehingga pasar saham masih bergairah. Salah satu diantaranya adalah saham bluechip batubara yaitu saham ITMG yang berencana membagikan dividen pada tanggal 27 April 2012 sebesar Rp. 2.506,-

Dividen yang tinggi dengan persentase diatas 5% membuat harga saham ini yang telah beberapa hari ditekan, mulai menunjukkan perlawanan dengan penutupan hari ini naik sebesar 2,1% menjadi Rp. 41.900,-.

Indikator Stochastic hampir golden cross, kemudian indikator MACD mulai mengarah keatas didukung oleh volume yang besar dalam beberapa hari terakhir. Target saham terdekat adalah Rp. 44.000,- namun perlu diwaspadai kondisi regional terutama zona Euro yang masih menunjukkan tanda-tanda pelemahan yang mana hal ini tentu akan berimbas terhadap kondisi saham di Indonesia.

S : 40.900 — R : 44.000

 

Astra International (ASII) 09 Maret 2012

Ditengah rencana kenaikan BBM, maka saham yang kinerjanya akan terpengaruh adalah leader IHSG yaitu saham ASII. Namun seiring dengan perkiraan harga yang mulai diprediksi oleh pelaku pasar maka saham ASII ini mulai kembali dikumpulkan oleh broker-broker asing secara perlahan.

Terlihat dari indikator MACD yang sudah golden cross, maka saham ASII walaupun masih downtrend namun untuk pelaku saham retail maka boleh mulai mengumpulkan saham leader IHSG ini.

S : 67.050 — R : 74.500