Blog Archives

Profitabilitas ASII Pulih Meski Laba Bersih Tergerus 18 Persen

Laba bersih Astra International (ASII) turun 18% (YoY) menjadi Rp8,1 triliun selama semester I 2015 (1H15) karena faktor penjualan otomotif sebab perekonomian Indonesia memburuk.

Laba bersih dari divisi otomotif anjlok 15% (YoY) menjadi Rp3,4 triliun. Segmen lain seperti agribisnis, keuangan, infrastruktur dan ITU juga tumbuh negatif. Laba bersih dari divisi penjualan alat berat yang tumbuh positif, sebesar 3% (YoY) sebagai akibat pelemahan nilai tukar rupiah.

Meski demikian, laba bersih dari penjualan kendaraan roda 4 tumbuh 17,5% (QoQ) pada kuartal II 2015 (2Q15) karena pulihnya profitabilitas. Laba bersih dari agribisnis melonjak 85% (QoQ) ditopang oleh harga CPO yang naik pada periode 2Q15. Secara keseluruhan laba bersih konsolidasi naik tipis 1% (QoQ) merupakan indikasi yang sehat mengembalikan profitabilitas namun tidak tumbuh.

Sektor Komoditas
Secara alami, sektor komoditas berfungsi sebagai lindung nilai secara alamiah terhadap pendapatan [ASII 6,650 0 (+0,0%)], tetapi saat ini hal itu tidak terjadi. Laba bersih anak usaha PT Astra Agro Lestari Tbk ( [AALI 20,550 475 (+2,4%)]) turun 68% pada 1H15 karena harga rata-rata CPO turun 14 persen (Yoy). Sedangkan volume penjualan stagnan namun diimbangi oleh kenaikan volume penjuala olein.

Pelemahan nilai tukar rupiah tidak mampu mengimbangi harga CPO yang sedang lesu, tidak berfungsi sebagai hedging terhadap pendapatan ASII. Hanya PT United Tractor Tbk ( [UNTR 20,000 -200 (-1,0%)]) mampu meraih laba akibat depresiasi rupiah. Laba UNTR tumbuh 3 persen. Walaupun demikian matrik operasional UNTR tetap lemah seiring volume penjualan alat berat yang turun 38 persen (YoY). Sedangkan produksi batubara dan overburden turun masing-masing 8 persen.

Unit Usaha Finansial
Sementara itu, pendapatan konsolidasi dari unit usaha finansial (pembiayaa) turun 16 persen (YoY) menjadi Rp2,1 triliun. Jika kontribusi laba unit pembiayaan  terhadap laba bersih, maka laba bersih konsolidasi ASII naik 2% (YoY).

Laba bersih dari pembiayaan kendaraan rodal 4 melalui Astra Sedaya Finance ASF) turun 8 persen (YoY). Sedangkan pembiayaan melalui FIF tumbuh 8 persen. Sementara Laba bersih Bank Permata [BNLI 1,590 40 (+2,6%)] naik sebesar 4% (Yoy) pada 1H15. “Meskipun kinerja ASII grup variatif, diyakini bahwa kualitas aset dari bisnis jasa keuangan tetap utuh,” demikian menurut analis PT Indo Premier Securities Chandra Pasaribu dalam riset yang dipublikasikan pekan kemarin.

Adapun unit usaha otomotif masih jadi kontributor tersebut bagi ASII. Volume penjualan mobil turun 21% (YoY). Sedangkan roda 2 turun 19 persen (YoY). Sebagai akibatnya berdampak terhadap laba Astra Otoparts ( [AUTO 2,200 -200 (-8,3%)]) sehingga jatuh 67% (yOY). Namun demikian, marjin distribusi otomatif telah pulih seperti dari penjualan suku cadang asli sebesar 0,6 persen di 2Q15 dibanding 0,4% pada 1Q15.

GPM distribusi otomotif telah stabil sebesar 9,2 persen pada 2Q15, atau pulih dari sebelumnya 8,2 persen pada 4Q14. “Astra Grup sudah dapat mengembalikan profitabilitas meskipun pertumbuhan laba masih kurang karena kondisi makro ekonomi yang buruk,” kata riset tersebut. (mk)

Read the rest of this entry

Advertisements

Antam Ciputra Terlempar, Ini Daftar Saham LQ-45 Agustus 2015-2016

PT Bursa Efek Indonesia mengumumkan daftar baru anggota 45 saham paling likuid dalam Indeks LQ-45 periode Agustus 2015-Januari 2016. Dua emiten terlempar dan dua lainnya masuk sebagai anggota baru.

Eko Siswanto, Kepala Divisi Operasional Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), mengatakan perubahan Indeks LQ45 berlaku untuk periode perdagangan Agustus 2015 sampai Januari 2016.

Dua emiten yang terlempar dari Indeks LQ45 yakni PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) [525 -5 (-0,9%)] dan PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) [1,070 -85 (-7,4%)]. Adapun, dua anggota baru indeks bergengsi ini adalah PT Sri Rejeki Isman Tbk. (SRIL) [455 5 (+1,1%)] dan PT Wijaya Karya Beton Tbk. (WTON) [1,020 -5 (-0,5%)].

Berikut daftar lengkap saham LQ-45 periode Agustus 2015-Januari 2016:

Read the rest of this entry

Ini Daftar Laba 41 Emiten Bluechips LQ-45

Laba bersih emiten yang tergabung dalam indeks LQ-45 pada kuartal I/2015 jeblok alias turun 5,15% dengan pendapatan hanya tumbuh 2,57% pada periode yang sama. Simak daftar lengkapnya.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis.com, sebanyak 41 emiten LQ-45 telah mengumumkan laporan keuangan kuartal I/2015.

Sedangkan, empat emiten yang belum merilis kinerja adalah PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE), PT Excel Axiata Tbk. (EXCL), PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG), dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG).

Dari 41 emiten tersebut, sebanyak 40 emiten membukukan laba bersih dengan total Rp42,64 triliun pada periode Januari-Maret 2015, dibandingkan dengan tahun lalu Rp44,96 triliun. Read the rest of this entry

IHSG Anjlok, Bulan Madu Jokowi dan Investor Berakhir?

Bulan madu Presiden Joko Widodo dan investor global berakhir dengan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang anjlok dalam dan rupiah yang kian terpuruk dengan penurunan terdalam di Asia. Bobot politik Jokowi dinilai kurang, terlihat dari pencalonan Kapolri yang bermasalah, dan yang terakhir soal eksekusi mati yang mengagetkan masyarakat internasional, meski tak adil untuk menilai kinerjanya hanya dalam enam bulan masa kepresidenan.

Seperti dilansir Bloomberg, Kamis (30/4), setelah memulai masa jabatan presiden Oktober lalu dengan kebijakan ramah pasar lewat pemangkasan subsidi BBM, Jokowi kini dalam kecaman lewat  pengangkatan calon Kapolri bermasalah dan kini eksekusi warga asing penyelundup narkoba yang dinilai merugikan hubungan dengan mitra dagang. Hal itu diperparah dengan posisi Jokowi yang minim dukungan di parlemen yang bisa mempersulit dirinya menghidupkan kembali perekonomian.

Situasi itu, lanjut Bloomberg, menipiskan kesabaran pengelola dana asing yang sempat mendorong IHSG ke posisi tertinggi pada 7 April dan hingga kemarin anjlok 7,6 persen seiring penarikan dana oleh asing. Pada bagian lain, pemerintah hanya mendapatkan kurang separoh dari target lelang obligasi pada Selasa lalu. Tambahan lagi, para pemain mata uang bersikap bearish pada rupiah ketimbang mata uang regional.

“Sangat sulit menemukan hal-hal positif jika bicara ekonomi dan politik Indonesia saat ini,” ujar Michael Every, kepala riset pasar finansial Rabobank Group yang berbasis di Hong Kong. “Makin sulit untuk menjustifikasi apapun faktor premium Jokowi.”

Kekhawatiran investor asing paling terlihat di pasar saham pada Rabu (29/4) kemarin, dengan penurunan IHSG mencapai 2,6 persen hingga ditutup di posisi terendah sejak 17 Desember. Meski,  rupiah menguat 0,3 persen menjadi 12.944 terhadap dolar AS, namun tetap saja penurunan tahun ini mencapai 4,3 persen, sedangkan yield obligasi pemerintah bertenor 10 tahun turun lima basis poin menjadi 7,74 persen. Dan, hari ini, di awal perdagangan nilai tukar rupiah tergelincir  0,1 persen.

Pada hari puncak kekhawatiran itu, Indonesia mengeksekusi tujuh warga asing penyelundup narkoba, yang mendorong Australia menarik duta besarnya dan memperingatkan gangguan hubungan kedua negara. Perdagangan kedua negara mencapai USD9,7 miliar pada tahun lalu yang berakhir 30 Juni. “Eksekusi tersebut sangat tidak ramah bagi investor asing,” kata Every.

Sebelumnya, popularitas Jokowi merosot tajam dengan pencalonan Komjen Budi Gunawan yang memicu konflik kepolisian dan Komisi Pemberantas Korupsi (KPK), dan kini berujung pada keraguan atas kredibilitas KPK dengan pengangkatan orang-orang yang dinilai tak berkompeten, menggantikan pimpinan lama yang harus dinonaktifkan. Citra Jokowi sebagai pemimpin yang bisa melanjutkan reformasi dan memberantas korupsi makin dipertanyakan.

“Pesan yang didapat investor, Presiden (Jokowi) belum memiliki bobot politik,” tegas Paul Rowland, analis politik independen yang berbasis di Jakarta, dalam sebuah wawancara. “Ada tanda tanya atas kemampuannya untuk menuntaskan berbagai program reformasi.”

Menanggapi pandangan asing itu, Direktur Eksekutif Kebijakan Moneter Bank Indonesia, Juda Agung, menilai apa yang terjadi pada pasar saham hanya bersifat “musiman” sehingga tak terkait dengan kebijakan pemerintah, apalagi eksekusi mati. “Investor menunggu dan ingin melihat  laporan keuangan perusahaan kuartal pertama yang di bawah target. Tapi kami berharap dengan PDB yang kuat dan fundamental yang lebih baik pada kuartal kedua, investor akan kembali,” harap Juda.

Tantangan politik Jokowi telah meningkat sejak muncul kekhawatiran atas kekuatan pertumbuhan ekonomi dan laba perusahaan. Target pemerintah meningkatkan ekspansi 5,7 persen tahun ini, dari posisi terendah lima tahun sebesar 5,02 persen pada 2014, akan sulit dicapai. Hal ini diakui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil pada 21 April lalu.

Di pihak lain, mayoritas emiten, termasuk konglomerat PT Astra International Tbk [ASII 7,025 -75 (-1,1%)], telah melaporkan anjloknya laba pada kuartal pertama.

Namun, sebagian pengamat mengingatkan bahwa dampak kebijakan Jokowi harus dinilai selama bertahun-tahun, tidak dalam hitungan bulan. Menurut Alan Richardson, manajer investasi di Samsung Asset Management Co, Jokowi sudah bertekad mengakumulasi anggaran untuk membangun pelabuhan, jalan, dan rel kereta api. Program yang tentu butuh waktu untuk diterjemahkan ke angka pertumbuhan ekonomi.

Apalagi, ada beberapa tanda-tanda keberhasilan awal. Investasi langsung asing (FDI) ke Indonesia pada kuartal penuh pertama sejak Jokowi menjadi presiden, naik 14 persen dibandingkan kuartal yang sama 2014. Jokowi juga dinilai berhasil menekan subsidi energi yang selama ini sangat membebani anggaran pemerintah. “Berharap hasil hanya dalam enam bulan masa kepresidenan tentu tidak realistis,” ujar Richardson.

Kerentanan ekonomi

Hal yang pasti, perekonomian Indonesia sangat rentan terhadap prospek kenaikan suku bunga di Amerika Serikat dalam tahun ini. Neraca transaksi berjalan Indonesia telah mengalami defisit 13 kuartalan berturut-turut hingga akhir 2014. Sedangkan ratio cadangan devisa terhadap produk domestik bruto hanya kurang dari separuh jika dibandingkan dengan Malaysia, Thailand, bahkan Filipina.

Hal itu tentu menambah risiko di pasar mata uang, di mana para pemain yang disurvei Bloomberg telah memangkas estimasi rata-rata mereka untuk nilai tukar pada akhir 2016 turun 9 persen dibanding tahun ini menjadi Rp13.700 per dolar. Penurunan terbesar jika dibandingkan mata uang Asia lain.

Di pasar obligasi, investor ternyata juga berbalik arah. Hal ini terlihat dari lelang obligasi dengan target Rp10 triliun pada 28 April lalu, pemerintah hanya mendapatkan kurang dari separuh target. Ini adalah penjualan terlemah sejak Juni 2013, di saat pasar juga dikhawatirkan oleh berakhirnya program stimulus moneter di AS.

“Orang-orang (investor) sedikit terlalu optimistis tahun lalu,” ujar Divya Devesh, pakar strategi valuta asing di Standard Chartered Plc di Singapura. “Sejumlah optimisme yang tampaknya kini harus diturunkan.” Read the rest of this entry

Meneropong Saham Terbaik dari Segi Pertumbuhan

Berinvestasi reksa dana, maka tidak hanya akan memperoleh dividen, namun keuntungan dalam satu tahun akan dikurangi management fee sebesar 1 – 2%.

Pengamat pasar modal Teguh Hidayat menuturkan, jika memperoleh keuntungan 20% per tahun, maka realisasinya kurang lebih hanya 17%.

PT Astra International Tbk (ASII) dengan CAGR 27,7%, dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dengan CAGR 27,5%. Dia mengatakan perusahaan ini cukup royal dalam membagikan dividen.
Read the rest of this entry

Ellen May: IHSG Akhiri Masa Konsolidasi Dengan Breaking Down

Indeks Dow Jones ditutup di level 16,801.05 melemah 3.66 point (-0.02%) . IHSG 2 Oktober 2014 ditutup di level 5,000.81 turun 140.10 point (-2.73%), breakdown dari suport 5100. Pola double tops & suport 5000 seperti telah disebutkan dalam Kopipagi (Update Market Harian) 29 Sept 2014 terkonfirmasi. Range IHSG saat ini 5000-5100. Ada potensi hari ini IHSG tertahan di area suport 5000 dan mengalami pantulan.

Jika gagal bertahan di atas 5000, IHSG berpotensi turun ke ruang di bawahnya, uji suport berikutnya di area 4850 dan 4650. Weekly dan monthly chart menunjukkan tanda bearish.

ASII breakdown dari suport kuat 7000, turun dengan volume besar, next suport 6000. Batasi resiko. BBNI breakdown 5500, next suport area 5150. BMRI breakdown 1000 batasi resiko, next suport 9600. INTP on suport 21000, waspada breakdown ke next suport 19500-20000. KLBF on suport 1650, wait and see waspada breakdown.

MEDC dari #kopipagi kemarin masih di atas suport 3650, jika di bawah itu batasi resiko !

Cara menggunakan range Kopipagi : best buy di range bawah, dekat range atas waspada profit taking, di bawah range bawah stop loss.

Area 5000 adalah suport kuat, jika terjadi teknikal rebound manfaatkan untuk membatasi resiko / mengurangi posisi. Membatasi resiko 100x lebih penting daripada mengejar keuntungan. Demikian Kopipagi (Update Market Harian) 3 Oktober 2014 semoga mencerahkan. Salam profit! Read the rest of this entry

Waspadai Saham-saham Ini Jika Harga BBM Subsidi Jadi Naik

Inflasi bulan Agustus diperkirakan melanjutkan trend lambat mengingat situasi agak tenang pasca musim liburan sebagaimana pula ekspektasi konsensus inflasi sebesar 0,42% (MoM) dan 4,01% (YoY) versus inflasi Juli 0,93% (MoM) dan 4,53% (YoY).

Sementara itu neraca perdagangan diperkirakan berlanjut lesu selama Juli sebagaimana ekspektasi defisit yang berlanjut sebesa 406 juta USD versus defisit bulan Juni sebesar 305 juta USD.

Hal ini tampaknya menjadi sesuai dengan estimasi Bank Indonesia yang memperkirakan defisit current account (CA) di kuartal terakhir tetap tinggi sekitar 8 miliar USD di kuartal III/3Q14) versus 2Q sebesar 9 miliar USD dan pada 1Q senilai 4 miliar USD dan sebesar 6 miliar USD pada 4Q.

“Jika hal ini terbukti akurat, ini akan mengantarkan defisit CA sekitar 27 miliar USD di tahun 2014,” demikian menurut PT Indo Premier Securities dalam risetnya, Senin (1/9). Defisit CA 2013 senilai 29 miliar USD. Data CA tersebut hanya akan menjadi kenaikan yang marjinal menjadi 3,2% terhadap GDP di tahun 2014 versus 3,3% di tahun 2013.

Menurut Indo Premier, kini pasar fokus pada implikasi rencana Joko Widodo untuk menaikkan harga BBM subsidi yang diperkirakan pada Nopember mendatang. Presiden terpilih tersebut mengindikasikan alokasi belanja APBN pada pos subsidi BBM kepada pembiayaan program populisnya. Kenaikan BBM subsidi antara Rp 500 – Rp3.000 per liter diterapkan secara bertahap. “Kami perkirakan paling mungkin harga BBM subsidi akan naik Rp1.500 per liter (naik 23%),” tulis Indo Premier.

Pemerintah memperkirakan tiap kenaikan harga BBM subsidi sebesar Rp500 per liter berdampak pada kenaikan CPI inflasi 0,6%. Ini berarti potensi kenaikan inflasi 1,8 ppt di bawah skenario ini yang berpotensi mendongkrak inflasi akhir tahun 7% di tahun 2014 versus tahun 2013 sebesar 8,38% berdasarkan ekspektasi konsensus inflasi pra kenaikan BBM subsidi saat ini sebesar 5,1%. Dengan demikian BI diperkirakan akan mempertahankan BI rate di level 7,5%. Menurut Indo Premier, kenaikan harga BBM subsidi berdampak positif terhadap keberhasilan neraca fiskal dan neraca eksternal secara berkelanjutan.

Kinerja Emiten
Meskipun kenaikan harga BBM subsidi berdampak positif terhadap makroekonomi Indonesia, pasar akan fokus pada dampak negatif terhadap laba emiten dibanding perbaikan makro ekonomi. Dampak terhadap laba emiten akan tercermin tahun depan.

Diperkirakan dampak negatif kenaikan harga BBM subsidi pada sebagian besar sektor dan emiten di Indonesia di berbagai tingkatan. Dampak yang terasa pada laba karena kenaikan inflasi/kenaikan harga, biaya/margin karena naiknya biaya transportasi/logistik/energi atau karena faktor keduanya. Transportasi, otomotif, semen, konsumer sebagai berpotensi sensitif terhadap kenaikan harga BBM.

Sementara sektor lainnya seperti banking, komoditas, telekomunikasi, utility (distribusi gas, jalan tol) dan properti/konstruksi akan netral terhadap kenaikan harga BBM dengan asumsi tidak ada kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Di sektor konsumer, emiten dengan harga yang kuat, merek terkenal dan atau karena elastis terhadap demand akan kurang terkena dampak negatif kenaikan harga BBM subsidi. Sedangkan emiten dengan target market low-end seperti ritel low-end dan produsen dengan bahan baku massal mungkin akan terkena dampak negatif dengan adanya kenaikan inflasi akibat kenaikan harga BBM.

Indo Premier menyarankan pasar fokus pada dampak potensi kenaikan harga BBM pada saham transportasi seperti Express Transindo [TAXI 1,320 10 (+0,8%)] (rekomendasi Buy), produsen otomotif Astra International [ASII 7,625 50 (+0,7%)] (Buy) dan juga saham-saham semen seperti Semen Indonesia [SMGR 16,250 25 (+0,2%)] (Buy) dan Indocement Tunggal Prakarsa [INTP 24,125 -125 (-0,5%)] (Buy).

Sektor consumer, Indofood CBP [ICBP 10,900 400 (+3,8%)] (Hold), Ramayana [RALS 1,020 25 (+2,5%)] dan Mayora Indah [MYOR 30,875 250 (+0,8%)] relatif paling rentan terhadap rencana kenaikan harga BBM subsidi.
Read the rest of this entry

Pasar Saham Sedang Muram, Inilah Rating Emiten Banking, Infrastructure dan Automotive

Apa saja sektor saham yang bakal tahan banting terhadap dampak kenaikan BBM? Sebaliknya saham-saham mana yang rentan terjungkal setelah harga bensin subsidi naik jadi Rp6500/liter dari Rp4500/liter.

Analis PT Indo Premier Securities Stephan Hajim dan Wendy Zhangs dalam risetnya yang dirilis Senin (24/6) menilai kenaikan harga bensin subsidi berdampak positif bagi makro ekonomi RI. “Emiten-emiten yang memiliki demand kuat cuma akan terkena dampak yang minim,” ujar kedua analis tersebut dalam dokumen risetnya.

Performa sektor bank berbasis corporate dan semen masih berpotensi positif. Sementara dampak buruk kenaikan harga BBM subsidi akan menerpa bank berbasis mass market, otomotif, dan emiten ritel.
Read the rest of this entry

Tahun 2012, Laba Bersih Astra Rp 19,4 Triliun

PT Astra International Tbk (ASII) mencetak laba bersih sepanjang 2012 sebesar Rp 19,4 triliun atau naik 9 persen dibanding pencapaian 2011 sebesar Rp 17,8 triliun.

Kenaikan laba karena operasional perseroan. Presiden Direktur Astra International Prijono Sugiarto menjelaskan kinerja grup Astra ini terutama didukung oleh tingginya penjualan mobil sehingga menyebabkan pendapatan bersih perseroan naik 16 persen dari Rp 162,6 triliun menjadi Rp 188,1 triliun.

“Namun menurunnya permintaan di sektor alat berat yang disebabkan oleh melemahnya harga batu bara serta turunnya harga CPO meskipun produksinya meningkat, telah mempengaruhi tingkat keuntungan perseroan,” kata Prijono dalam siaran pers di Jakarta, Kamis (28/2/2013). Read the rest of this entry

Rupiah Loyo, Saham Apa yang Diuntungkan?

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) yang terjadi belakang ini, dirasa cukup mempengaruhi beberapa sektor saham di pasar modal Indonesia. Saham di sektor berbasis ekspor menjadi yang sangat diuntungkan akibat pelemahan nilai tukar rupiah ini.

Chief Economist Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih mengungkapkan, keuntungan saham di sektor berbasis ekspor atas pelemahan rupiah dikarenakan nilai pendapatan dalam dollar dengan biaya dalam rupiah. “Terutama sektor komoditas, seperti CPO maupun pertambangan,” kata Lana ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Sabtu (19/1/2013).
Read the rest of this entry