Blog Archives

Waspadai Saham-saham Ini Jika Harga BBM Subsidi Jadi Naik

Inflasi bulan Agustus diperkirakan melanjutkan trend lambat mengingat situasi agak tenang pasca musim liburan sebagaimana pula ekspektasi konsensus inflasi sebesar 0,42% (MoM) dan 4,01% (YoY) versus inflasi Juli 0,93% (MoM) dan 4,53% (YoY).

Sementara itu neraca perdagangan diperkirakan berlanjut lesu selama Juli sebagaimana ekspektasi defisit yang berlanjut sebesa 406 juta USD versus defisit bulan Juni sebesar 305 juta USD.

Hal ini tampaknya menjadi sesuai dengan estimasi Bank Indonesia yang memperkirakan defisit current account (CA) di kuartal terakhir tetap tinggi sekitar 8 miliar USD di kuartal III/3Q14) versus 2Q sebesar 9 miliar USD dan pada 1Q senilai 4 miliar USD dan sebesar 6 miliar USD pada 4Q.

“Jika hal ini terbukti akurat, ini akan mengantarkan defisit CA sekitar 27 miliar USD di tahun 2014,” demikian menurut PT Indo Premier Securities dalam risetnya, Senin (1/9). Defisit CA 2013 senilai 29 miliar USD. Data CA tersebut hanya akan menjadi kenaikan yang marjinal menjadi 3,2% terhadap GDP di tahun 2014 versus 3,3% di tahun 2013.

Menurut Indo Premier, kini pasar fokus pada implikasi rencana Joko Widodo untuk menaikkan harga BBM subsidi yang diperkirakan pada Nopember mendatang. Presiden terpilih tersebut mengindikasikan alokasi belanja APBN pada pos subsidi BBM kepada pembiayaan program populisnya. Kenaikan BBM subsidi antara Rp 500 – Rp3.000 per liter diterapkan secara bertahap. “Kami perkirakan paling mungkin harga BBM subsidi akan naik Rp1.500 per liter (naik 23%),” tulis Indo Premier.

Pemerintah memperkirakan tiap kenaikan harga BBM subsidi sebesar Rp500 per liter berdampak pada kenaikan CPI inflasi 0,6%. Ini berarti potensi kenaikan inflasi 1,8 ppt di bawah skenario ini yang berpotensi mendongkrak inflasi akhir tahun 7% di tahun 2014 versus tahun 2013 sebesar 8,38% berdasarkan ekspektasi konsensus inflasi pra kenaikan BBM subsidi saat ini sebesar 5,1%. Dengan demikian BI diperkirakan akan mempertahankan BI rate di level 7,5%. Menurut Indo Premier, kenaikan harga BBM subsidi berdampak positif terhadap keberhasilan neraca fiskal dan neraca eksternal secara berkelanjutan.

Kinerja Emiten
Meskipun kenaikan harga BBM subsidi berdampak positif terhadap makroekonomi Indonesia, pasar akan fokus pada dampak negatif terhadap laba emiten dibanding perbaikan makro ekonomi. Dampak terhadap laba emiten akan tercermin tahun depan.

Diperkirakan dampak negatif kenaikan harga BBM subsidi pada sebagian besar sektor dan emiten di Indonesia di berbagai tingkatan. Dampak yang terasa pada laba karena kenaikan inflasi/kenaikan harga, biaya/margin karena naiknya biaya transportasi/logistik/energi atau karena faktor keduanya. Transportasi, otomotif, semen, konsumer sebagai berpotensi sensitif terhadap kenaikan harga BBM.

Sementara sektor lainnya seperti banking, komoditas, telekomunikasi, utility (distribusi gas, jalan tol) dan properti/konstruksi akan netral terhadap kenaikan harga BBM dengan asumsi tidak ada kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Di sektor konsumer, emiten dengan harga yang kuat, merek terkenal dan atau karena elastis terhadap demand akan kurang terkena dampak negatif kenaikan harga BBM subsidi. Sedangkan emiten dengan target market low-end seperti ritel low-end dan produsen dengan bahan baku massal mungkin akan terkena dampak negatif dengan adanya kenaikan inflasi akibat kenaikan harga BBM.

Indo Premier menyarankan pasar fokus pada dampak potensi kenaikan harga BBM pada saham transportasi seperti Express Transindo [TAXI 1,320 10 (+0,8%)] (rekomendasi Buy), produsen otomotif Astra International [ASII 7,625 50 (+0,7%)] (Buy) dan juga saham-saham semen seperti Semen Indonesia [SMGR 16,250 25 (+0,2%)] (Buy) dan Indocement Tunggal Prakarsa [INTP 24,125 -125 (-0,5%)] (Buy).

Sektor consumer, Indofood CBP [ICBP 10,900 400 (+3,8%)] (Hold), Ramayana [RALS 1,020 25 (+2,5%)] dan Mayora Indah [MYOR 30,875 250 (+0,8%)] relatif paling rentan terhadap rencana kenaikan harga BBM subsidi.
Read the rest of this entry

Pasar Saham Sedang Muram, Inilah Rating Emiten Banking, Infrastructure dan Automotive

Apa saja sektor saham yang bakal tahan banting terhadap dampak kenaikan BBM? Sebaliknya saham-saham mana yang rentan terjungkal setelah harga bensin subsidi naik jadi Rp6500/liter dari Rp4500/liter.

Analis PT Indo Premier Securities Stephan Hajim dan Wendy Zhangs dalam risetnya yang dirilis Senin (24/6) menilai kenaikan harga bensin subsidi berdampak positif bagi makro ekonomi RI. “Emiten-emiten yang memiliki demand kuat cuma akan terkena dampak yang minim,” ujar kedua analis tersebut dalam dokumen risetnya.

Performa sektor bank berbasis corporate dan semen masih berpotensi positif. Sementara dampak buruk kenaikan harga BBM subsidi akan menerpa bank berbasis mass market, otomotif, dan emiten ritel.
Read the rest of this entry

Tahun 2012, Laba Bersih Astra Rp 19,4 Triliun

PT Astra International Tbk (ASII) mencetak laba bersih sepanjang 2012 sebesar Rp 19,4 triliun atau naik 9 persen dibanding pencapaian 2011 sebesar Rp 17,8 triliun.

Kenaikan laba karena operasional perseroan. Presiden Direktur Astra International Prijono Sugiarto menjelaskan kinerja grup Astra ini terutama didukung oleh tingginya penjualan mobil sehingga menyebabkan pendapatan bersih perseroan naik 16 persen dari Rp 162,6 triliun menjadi Rp 188,1 triliun.

“Namun menurunnya permintaan di sektor alat berat yang disebabkan oleh melemahnya harga batu bara serta turunnya harga CPO meskipun produksinya meningkat, telah mempengaruhi tingkat keuntungan perseroan,” kata Prijono dalam siaran pers di Jakarta, Kamis (28/2/2013). Read the rest of this entry

Rupiah Loyo, Saham Apa yang Diuntungkan?

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) yang terjadi belakang ini, dirasa cukup mempengaruhi beberapa sektor saham di pasar modal Indonesia. Saham di sektor berbasis ekspor menjadi yang sangat diuntungkan akibat pelemahan nilai tukar rupiah ini.

Chief Economist Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih mengungkapkan, keuntungan saham di sektor berbasis ekspor atas pelemahan rupiah dikarenakan nilai pendapatan dalam dollar dengan biaya dalam rupiah. “Terutama sektor komoditas, seperti CPO maupun pertambangan,” kata Lana ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Sabtu (19/1/2013).
Read the rest of this entry

Penjualan Mobil Grup Astra Naik 25,38%

Grup Astra mencatatkan penjualan mobil mencapai 605.191 unit pada Desember 2012 atau naik 25,38% dari periode sama sebelumnya 482.659 unit.

Demikian seperti dikutip dari siaran pers, Senin (14/1/2013). Perseroan meraih pangsa pasar penjualan mobil mencapai 54% dari total penjualan mobil mencapai 1.116.230 unit. Penjualan mobil grup Astra antara lain Daihatsu sebesar 162.742 unit, Isuzu 33.165 unit, UD Trucks 2.925 unit, Toyota 406.026 unit, dan Peugeot 333 unit. Read the rest of this entry

Astra Bagi Dividen Interim Rp66 Per Saham

PT Astra International Tbk (ASII) [7,350 -50 (-0,7%)] akan membagikan dividen interim tahun buku 2012 sebesar Rp66.

Hal itu disampaikan manajemen PT Astra International Tbk (ASII) [7,350 -50 (-0,7%)] dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (24/9/2012). Pembagian dividen interim 2012 tersebut akan dibagikan kepada pemegang saham Perseroan yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham Perseroan pada 23 Oktober 2012.

Pembagian dividen interim tersebut disetujui dalam rapat direksi pada 18 September 2012. Pelaksanaan pembayaran dividen interim dilakukan pada 7 November 2012.

Jadwal pelaksanaan untuk saham perseroan antara lain cum dividen interim di pasar reguler dan negoisasi pada 18 Oktber 2012, ex dividen interim di pasar reguler dan negoisasi pada 19 Oktober 2012, cum dividen interim di pasar tunai pada 23 Oktober 2012, ex dividen interim di pasar tunai pada 24 Oktober 2012, recording date pada 23 Oktober 2012.
Read the rest of this entry

IHSG Cukup Kuat, Akumulasi 4 Saham Berkapitalisasi Besar

Senior Research HD Capital Yuganur Wijanarko, mengatakan performa IHSG sepekan ke depan akan terus melaju meskipun dibayangi oleh sentimen negatif yang mungkin dapat terjadi. Laporan keuangan emiten semester pertama 2012 masih akan menjadi sentimen positif.

Menurut Yuganur, hasil laporan keuangan semester pertama 2012 yang relatif cukup baik dan kenaikan laba bersih di beberapa emiten akan melawan sentimen negatif dari melebarnya defisit perdagangan dan fluktuatifnya bursa regional yang membuat IHSG secara mingguan berhasil ditutup di atas harga tertinggi selama 5 pekan terakhir. Selama sepekan ke depan IHSG masih memiliki potensi menguat meski investor perlu mewaspadai aksi akumulasi keuntungan yang terjadi di pasar (profit taking).

“Bila dilihat dari grafik teknikal mingguan, rentang pergerakan IHSG selama sepekan ke depan harusnya berada di level 4.080 poin – 4.175 poin. Masih ada beberapa pilihan saham berkapitalisasi besar yang layak diakumulasi investor untuk mendapatkan keuntungan,” tambah Yuganur dalam risetnya, Senin (6/8/2012).

Saham-saham tersebut adalah PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk [TLKM 8,950 50 (+0,6%)] dengan target harga di Rp 9.250 per saham dan harus cut loss apabila melemah hingga ke level di Rp 8.650 per saham, PT Astra International Tbk [ASII 7,000 0 (+0,0%)] dengan target Rp 7.250 per saham dan cut loss point di Rp 6.750 per saham.

Selain itu ada saham [UNTR 21,300 900 (+4,4%)] dengan target harga di Rp 22.500 per saham dan cut loss point di Rp 19.850 per saham, dan saham PT Gudang Garam Tbk [GGRM 51,000 150 (+0,3%)] dengan target harga di Rp 55.000 per saham dan cut loss poin di Rp 48.500 per saham.
Read the rest of this entry

Strategi Income Investing : Dividend Yield Saham Setara Deposito

Ketika bursa mengalami penurunan, sebetulnya waktu tersebut adalah waktu yang tepat untuk membeli saham atau reksa dana saham. Permasalahannya, terkadang investor sudah ketakutan terlebih dahulu. Ketakutan yang umum adalah kekhawatiran bahwa harga masih akan terus terun sehingga menunda melakukan investasi. Dalam konteks investasi saham, sebetulnya ada strategi investasi alternatif untuk mengatasi ketakutan tersebut. Caranya adalah dengan membeli saham tersebut ketika dividend yield sudah mencapai tingkat yang sama atau kalau bisa lebih tinggi daripada deposito.

Asumsinya kalaupun harga saham terus turun, besaran dividend yield sudah setara dengan deposito, Jadi didiamkan saja sudah seperti investasi deposito. Kalau misalnya di masa mendatang harga naik karena siklus berbalik, keuntungannya dobel, dari dividen dan kenaikan harga. Jika investasi diibaratkan berenang mengarungi lautan ketidakpastian, strategi income investing mempersiapkan pelampung bagi investor. Pelampung ini memberikan pengamanan karena memberikan tingkat returnnya minimal deposito.

Read the rest of this entry

Tak Cuma Astra, Indomobil Juga Stock Split

Langkah perusahaan otomotif memecah nilai nominal saham (stock split) tak hanya dilakukan PT Astra International Tbk. Pesaing bisnis Astra, PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) [17,300 -450 (-2,5%)], juga berencana menggelar aksi korporasi serupa dengan memecah nilai nominal saham dari Rp500 menjadi Rp250 per saham.

Direktur Utama Indomobil Sukses Internasional, Jusak Kertowidjojo, mengatakan, stock split bertujuan untuk meningkatkan likuiditas dan meningkatkan volume perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia.

“Mengubah nilai dengan pelaksanaan stock split, nanti berubah jadi Rp250 per saham,” kata Jusak ketika ditemui usai paparan publik di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Jumat, 27 April 2012.

Jusak mengatakan, rencana stock split tersebut telah disetujui oleh pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) tahun buku 2011 dan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB). Direksi diberi kuasa untuk menentukan jadwal stock split.

Walau belum bisa memastikan jadwal pelaksanaan stock split, manajemen Indomobil optimistis langkah itu seharusnya bisa terealisasi pada semester I-2012. “Kami akan melewati prosedur-prosedur. Setelah itu baru bisa direalisasikan. Mestinya di semester pertama ini sudah bisa,” ujar dia.

Dalam RUPST tersebut, pemegang saham juga menyetujui pemberian remunerasi kepada seluruh dewan komisaris dan direksi perseroan. Total keseluruhan remunerasi, termasuk gaji dan bonus, selama satu tahun mencapai Rp15 miliar.

Sementara itu, bagi para pemegang saham, RUPS menyetujui pembagian dividen sebesar Rp118 per saham atau total seluruhnya mencapai Rp163,15 miliar. Untuk dana cadangan perusahaan, disepakati sebesar Rp5 miliar.
Read the rest of this entry

Astra International (ASII) 09 Maret 2012

Ditengah rencana kenaikan BBM, maka saham yang kinerjanya akan terpengaruh adalah leader IHSG yaitu saham ASII. Namun seiring dengan perkiraan harga yang mulai diprediksi oleh pelaku pasar maka saham ASII ini mulai kembali dikumpulkan oleh broker-broker asing secara perlahan.

Terlihat dari indikator MACD yang sudah golden cross, maka saham ASII walaupun masih downtrend namun untuk pelaku saham retail maka boleh mulai mengumpulkan saham leader IHSG ini.

S : 67.050 — R : 74.500