Blog Archives

Rencana pajak tekan emiten ritel dan bank

Transaksi melalui kartu kredit kini mulai masuk radar aparat pajak. Kebijakan tersebut bisa mempengaruhi prospek bisnis emiten di Bursa Efek Indonesia, terutama emiten perbankan dan ritel.

Sekadar mengingatkan, melalui surat tanggal 23 Maret lalu, Kementerian Keuangan meminta bank menyerahkan data nasabah kartu kredit, berupa data pokok pemegang kartu kredit. Bank juga diminta menyampaikan data transaksi kartu kredit nasabah.

Bahana Securities menilai, pembukaan data pokok nasabah dan transaksi kartu kredit berpotensi menekan kinerja emiten ritel modern, terutama PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI). Selama ini, MAPI menyasar segmen menengah atas. “Belanja konsumer yang menggunakan kartu kredit akan menurun,” tulis Harry Su, Kepala Riset Bahana Securities, dalam riset yang diterima KONTAN, kemarin. Read the rest of this entry

Advertisements

Ini Penyebab Maraknya Aksi Beli Asing di Bursa Saham Indonesia

Meskipun banyak investor bersikap waspada terhadap bursa saham emerging market belakangan ini, namun tak sedikit pemburu saham global yang terpikat oleh kinerja bursa saham Indonesia. Kepercayaan investor asing terhadap pemerintah dan daya tarik potensi perekonomian Indonesia semakin meningkat.

“Untuk tahun 2016 Indonesia bisa beranjak menjadi bagaimana seharusnya India pada 2015,” kata Herald van der Linde, ahli strategi ekuitas Asia, di HSBC, seperti dikutip Financial Times, (9/3).

Sepanjang tahun ini, indeks harga saham acuan bursa Indonesia, IHSG, sudah memberikan gain hingga 4,8 persen, atau 9,7 persen dalam hitungan dolar. Masuk dalam jajaran 10 bursa saham bekerja terbaik di dunia.

Kenaikan tersebut terjadi di tengah kecenderungan pelemahan di bursa saham Asia yang terbebani oleh kekhawatiran akan ekonomi China. Indeks MSCI Asia – tidak termasuk Jepang – turun 4 persen sejak awal tahun ini, tak jauh berbeda dengan bursa saham negara maju.

Penguatan bursa saham Indonesia, terjadi setelah mengalami turbulensi tahun lalu ketika kejatuhan harga komoditas menyeret turun pertumbuhan ekonomi ke bawah 5 persen, dan mata uang rupiah anjlok terhadap dolar. Namun dukungan reformasi kebijakan ekonomi pemerintahan Joko Widodo, menurut para analis, mampu menyegarkan kembali perekonomian untuk mendorong pertumbuhan.

“Pada dasarnya, orang berpendapat bahwa langkah-langkah tersebut akan dapat dikerjakan – dan semua itu akan mendorong pertumbuhan,” kata David Mann, kepala ekonom Asia, Standard Chartered. “Di seluruh kawasan, negara-negara yang terlihat lebih baik dalam melakukan apa yang telah diucapkan, akan mendapatkan perhatian pasar,” imbuhnya.

Sejauh ini pemerintahan Jokowi telah menggulirkan sederet paket stimulus, memberantas pungutan liar, dan menggencarkan pembangunan sejumlah proyek infrastruktur. Kenaikan belanja negara sebesar 7,3 persen diharapkan akan mendongkrak pertumbuhan hingga ke atas 5 persen pada akhir kuartal ini.

“Saat ini, semua orang bersikap bullish terhadap Indonesia,” kata Jehanzeb Naseer, di Credit Suisse. “Perubahan yang terjadi sejak tahun lalu adalah belanja pemerintah banyak meningkat, dan menjadi perangsang pertumbuhan,” Naseer menambahkan.

Analis mengatakan, proporsi terbesar dari kenaikan IHSG dirasakan di sektor konsumer karena proyek-proyek konstruksi besar menciptakan lapangan kerja bagi pekerja kasar, mendorong permintaan akan produk konsumsi dasar seperti rokok, makanan kecil, dan pulsa telepon.

“Anda harus masuk sejauh mungkin ke pasar-pasar sebagai taktik untuk menarik masyarakat Indonesia, karena itulah yang dilakukan Jokowi,” kata Harry Su, kepala riset Bahana Securities. “Jokowi mendapat dukungan dari banyak orang di lapisan bawah dengan penciptaan kerja melalui proyek-proyek infrastruktur,” lanjutnya.

Kondisi tersebut tercermin pada kenaikan harga saham-saham rokok dan makanan di bursa saham Indonesia, seperti HM Sampoerna [HMSP 102,400 900 (+0,9%)] dan Indofood [INDF 7,425 125 (+1,7%)]. Kenaikan juga terjadi pada harga saham media yang ikut menangguk keuntungan dari kenaikan belanja iklan perusahaan produk konsumsi, seperti Media Nusantara Citra [MNCN 1,980 80 (+4,2%)].

Selain kebijakan fiskal yang ekspansif, melambatnya inflasi dan prospek penurunan suku bunga juga menjadi pendorong minat investor. Bank Indonesia telah memangkas suku bunga acuan menjadi 7 persen dari 7,5 persen pada awal tahun ini. Bahana Securities memperkirakan, BI akan kembali memangkas suku bunga pada bulan-bulan mendatang menjadi 6,25 persen pada akhir tahun nanti.

Namun penurunan suku bunga acuan BI dinilai tak akan menguntungkan saham-saham keuangan, karena akan menekan net interest marjin perbankan. Harga saham sejumlah bank besar, seperti Bank Rakyat Indonesia [BBRI 11,175 50 (+0,4%)], Bank Mandiri [BMRI 10,175 25 (+0,2%)], dan Bank BCA [BBCA 13,500 50 (+0,4%)], mulai bergreak turun. Read the rest of this entry

Investor Saham Panik Berlebihan Tanggapi Isu Margin Bank

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah menyiapkan insentif bagi perbankan yang mau melakukan efisiensi. Insentif ini diberikan pemerintah agar bank bisa menurunkan suku bunga kreditnya.

Paket insentif rencananya akan diluncurkan dalam waktu dekat, dalam bentuk Peraturan OJK (POJK) Tentang Insentif dalam Rangka Peningkatan Efisiensi.

Bagi perbankan yang mau melakukan efisiensi melalui penyesuaian marginnya, OJK telah menyiapkan berbagai insentif.

OJK berharap, margin perbankan di Indonesia bisa sejajar dengan Thailand di kisaran 3-4% dalam 1-2 tahun ke depan. Dalam arti, OJK tidak serta-merta memaksa bank untuk memangkas margin hingga 3-4%.

Rencana penyesuaian margin ini ditanggapi berlebihan oleh investor saham. Pasar merespons negatif dan membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan lalu anjlok. Saham-saham perbankan berguguran.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Tito Sulistio, angkat bicara soal ini. Read the rest of this entry

Antam Ciputra Terlempar, Ini Daftar Saham LQ-45 Agustus 2015-2016

PT Bursa Efek Indonesia mengumumkan daftar baru anggota 45 saham paling likuid dalam Indeks LQ-45 periode Agustus 2015-Januari 2016. Dua emiten terlempar dan dua lainnya masuk sebagai anggota baru.

Eko Siswanto, Kepala Divisi Operasional Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), mengatakan perubahan Indeks LQ45 berlaku untuk periode perdagangan Agustus 2015 sampai Januari 2016.

Dua emiten yang terlempar dari Indeks LQ45 yakni PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) [525 -5 (-0,9%)] dan PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) [1,070 -85 (-7,4%)]. Adapun, dua anggota baru indeks bergengsi ini adalah PT Sri Rejeki Isman Tbk. (SRIL) [455 5 (+1,1%)] dan PT Wijaya Karya Beton Tbk. (WTON) [1,020 -5 (-0,5%)].

Berikut daftar lengkap saham LQ-45 periode Agustus 2015-Januari 2016:

Read the rest of this entry

Ini Daftar Laba 41 Emiten Bluechips LQ-45

Laba bersih emiten yang tergabung dalam indeks LQ-45 pada kuartal I/2015 jeblok alias turun 5,15% dengan pendapatan hanya tumbuh 2,57% pada periode yang sama. Simak daftar lengkapnya.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis.com, sebanyak 41 emiten LQ-45 telah mengumumkan laporan keuangan kuartal I/2015.

Sedangkan, empat emiten yang belum merilis kinerja adalah PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE), PT Excel Axiata Tbk. (EXCL), PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG), dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG).

Dari 41 emiten tersebut, sebanyak 40 emiten membukukan laba bersih dengan total Rp42,64 triliun pada periode Januari-Maret 2015, dibandingkan dengan tahun lalu Rp44,96 triliun. Read the rest of this entry

Bijak, Akumulasi Bertahap Saham Bank

Seiring kenaikan BI rate ke 7,5%, fundamental emiten-emiten bank mendapat tekanan negatif. Tapi, harga saham-sahamnya sudah terhitung murah. Saatnya akumulasi bertahap.

Raymond Budiman, analis PT Panin Sekuritas mengatakan hal itu. Secara umum, dia merekomendasikan akumulasi bertahan dengan pola buy on weakness pada saham BBRI, BBCA, BBNI, dan BBCA. Dia juga mematok target harganya hingga akhir 2013.

Dari sisi PER, saham-saham bank besar sudah murah di kisaran 9 kali di bawah 10 kali. Kalau dihitung murah ya murah, tapi belum ada katalis positif secara fundamental sehingga sektor saham ini dalam tekanan. “Lebih bijak kalau akumulasi saham-saham bank besar dilakukan secara bertahap,” katanya kepada INILAH.COM.

Pada perdagangan Selasa (19/11/2013) saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) ditutup menguat Rp50 (0,64%) ke Rp7.800; PT Bank Mandiri (BMRI) melemah Rp150 (1,91%) ke Rp7.700; PT Bank Negara Indonesia (BBNI) stagnan di Rp4.475; dan PT Bank Central Asia (BBCA) melemah Rp100 (0,97%) ke Rp10.200 per saham. Berikut ini wawancara lengkapnya: Read the rest of this entry

Aset Mandiri Tertinggi, Laba BCA Kian Wah

Kompetisi di industri perbankan Tanah Air semakin memanas. Dua bank papan atas saling menunjukkan kebolehannya masing-masing.

Tengok saja, Bank Mandiri yang tetap mempertahankan gelar sebagai bank dengan aset terbesar di seluruh Indonesia. Di akhir September 2013, total aset bank berlogo pita emas ini menyentuh angka Rp 700 triliun.

Jumlah ini tumbuh 19% dibandingkan posisi sebelumnya Rp 588,4 triliun di tahun lalu. “Pertumbuhan aset dilakukan dengan tetap menjaga rasio kredit bermasalah (NPL),” terang Budi Gunadi Sadikin, Direktur Utama Mandiri Rabu (30/10).

Di akhir September, NPL nett Bank Mandiri bertengger di level 0,53%. Sejalan dengan pertumbuhan aset, laba bersih konsolidasi Bank Mandiri tumbuh 15,1%, yaitu dari

Rp 11,1 triliun menjadi Rp 12,8 triliun.
Read the rest of this entry

Inilah Potensi Dividend Yield Saham Bank

Penurunan harga saham sektor perbankan belakangan ini tentu menjanjikan capital gain ke depannya. Tapi, berapakah potensi dividend yield untuk kinerja keuangan full year 2011?

Pada perdagangan Selasa (7/1), saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) [6,850 -150 (-2,1%)] ditutup melemah Rp150 (2,14%) ke level Rp6.850, PT Bank Mandiri (BMRI) [6,400 0 (+0,0%)] stagnan stagnan di level Rp6.400, PT Bank Central Asia (BBCA) [7,900 -150 (-1,9%)] turun Rp150 (1,86%) ke Rp7.900, PT Bank Danamon (BDMN) [4,825 25 (+0,5%)] naik Rp25 (0,52%) ke posisi Rp4.825 dan PT Bank Negara Indonesia (BBNI) [3,425 0 (+0,0%)] stagnan di level Rp3.425.

Managing Research Indosurya Asset Management Reza Priyambada mengatakan, secara historis emiten perbankan selalu merilis kinerja keuangan lebih awal. Dia optimistis kinerja perbankan untuk kuartal IV dan full year 2011 mengalami peningkatan baik dari sisi pendapatan bunga bersih maupun laba bersih.
Read the rest of this entry