Blog Archives

Saham Bank Mandiri Menguji Resisten Di Level 7.000

bmri

Sesuai dengan postingan sebelumnya, saham BMRI naik 3,84% maka kenaikan langsung menguji resisten terdekat di level 7.000 dengan posisi high di level 6.950 (Fibonacci Retracement 50%)

Ini artinya saham BMRI telah naik 8,17% dari level 6.425 hanya dalam 2 hari. Menarik bukan ? Info update bisa join channel telegram kami : https://telegram.me/invesaham.

Bila tembus level 7.000 maka saham BMRI akan bertemu dengan resisten kuat di level 7.400 dan sebaiknya harus melihat perkembangan indeks Dow Jones dan IHSG.

Advertisements

Saham BMRI Naik 3,89%. Hari Ini Lanjut ?

bmri

Saham BMRI naik lebih dari 3% kemarin dan terlihat akan menembus trendline sekaligus meninggalkan area support kuat 6.250 yang telah terbentuk sejak bulan Juni 2017.

Bentuk candlestik yaitu Bullish Engulfing mengonfirmasi kenaikan kemarin beserta volume yang tinggi, dan ini akan menguji resisten terdekat yaitu 7.000.

Untuk informasi lebih update silakan join telegram channel kami : https://telegram.me/invesaham

Biaya Provisi Naik, Laba Bank Mandiri 2016 Anjlok 32%

PT Bank Mandiri Tbk mengalami penurunan laba bersih sebesar 32 persen pada 2016, perolehan terendah dalam lima tahun, terutama disebabkan kenaikan biaya provisi untuk kredit bermasalah.

Sebagaimana diumumkan, Selasa (14/2), Bank Mandiri meraih laba bersih Rp13,8 triliun untuk tahun buku yang berakhir 31 Desember, berbading Rp20,3 triliun pada tahun sebelumnya. Menurut data Thomson Reuters, raihan laba bersih 2016 itu yang terendah sejak 2011.

Jumlah laba bersih tahun lalu itu juga di bawah perkiraan rata-rata 20 analis, yakni sebesar Rp15,7 triliun.

Provisi Bank Mandiri pada akhir 2016 di posisi Rp24,6 triliun, lebih dari dua kali lipat tahun sebelumnya yang Rp12 triliun. Kredit bermasalah (NPL) Bank Mandiri secara kotor sebesar 4 persen, tertinggi sejak 2008.

Kenaikan NPL dimulai pada kredit di sektor komoditas yang mengalami pukulan karena anjloknya harga, lalu menyebar ke bisnis yang terkait konsumen. “Kami melihat bahwa 2017 masih menantang. Pelemahan belum sepenuhnya berlalu, namun arus kas nasabah kami lebih stabil,” ungkap Dirut Bank Mandiri, Kartika Wirjoatmodjo.

Menurut Kartika, pendapatan Bank Mandiri tahun ini akan didukung oleh kenaikan kinerja perekonomian nasional dan harga komoditas yang membaik. Read the rest of this entry

Ini Penyebab Maraknya Aksi Beli Asing di Bursa Saham Indonesia

Meskipun banyak investor bersikap waspada terhadap bursa saham emerging market belakangan ini, namun tak sedikit pemburu saham global yang terpikat oleh kinerja bursa saham Indonesia. Kepercayaan investor asing terhadap pemerintah dan daya tarik potensi perekonomian Indonesia semakin meningkat.

“Untuk tahun 2016 Indonesia bisa beranjak menjadi bagaimana seharusnya India pada 2015,” kata Herald van der Linde, ahli strategi ekuitas Asia, di HSBC, seperti dikutip Financial Times, (9/3).

Sepanjang tahun ini, indeks harga saham acuan bursa Indonesia, IHSG, sudah memberikan gain hingga 4,8 persen, atau 9,7 persen dalam hitungan dolar. Masuk dalam jajaran 10 bursa saham bekerja terbaik di dunia.

Kenaikan tersebut terjadi di tengah kecenderungan pelemahan di bursa saham Asia yang terbebani oleh kekhawatiran akan ekonomi China. Indeks MSCI Asia – tidak termasuk Jepang – turun 4 persen sejak awal tahun ini, tak jauh berbeda dengan bursa saham negara maju.

Penguatan bursa saham Indonesia, terjadi setelah mengalami turbulensi tahun lalu ketika kejatuhan harga komoditas menyeret turun pertumbuhan ekonomi ke bawah 5 persen, dan mata uang rupiah anjlok terhadap dolar. Namun dukungan reformasi kebijakan ekonomi pemerintahan Joko Widodo, menurut para analis, mampu menyegarkan kembali perekonomian untuk mendorong pertumbuhan.

“Pada dasarnya, orang berpendapat bahwa langkah-langkah tersebut akan dapat dikerjakan – dan semua itu akan mendorong pertumbuhan,” kata David Mann, kepala ekonom Asia, Standard Chartered. “Di seluruh kawasan, negara-negara yang terlihat lebih baik dalam melakukan apa yang telah diucapkan, akan mendapatkan perhatian pasar,” imbuhnya.

Sejauh ini pemerintahan Jokowi telah menggulirkan sederet paket stimulus, memberantas pungutan liar, dan menggencarkan pembangunan sejumlah proyek infrastruktur. Kenaikan belanja negara sebesar 7,3 persen diharapkan akan mendongkrak pertumbuhan hingga ke atas 5 persen pada akhir kuartal ini.

“Saat ini, semua orang bersikap bullish terhadap Indonesia,” kata Jehanzeb Naseer, di Credit Suisse. “Perubahan yang terjadi sejak tahun lalu adalah belanja pemerintah banyak meningkat, dan menjadi perangsang pertumbuhan,” Naseer menambahkan.

Analis mengatakan, proporsi terbesar dari kenaikan IHSG dirasakan di sektor konsumer karena proyek-proyek konstruksi besar menciptakan lapangan kerja bagi pekerja kasar, mendorong permintaan akan produk konsumsi dasar seperti rokok, makanan kecil, dan pulsa telepon.

“Anda harus masuk sejauh mungkin ke pasar-pasar sebagai taktik untuk menarik masyarakat Indonesia, karena itulah yang dilakukan Jokowi,” kata Harry Su, kepala riset Bahana Securities. “Jokowi mendapat dukungan dari banyak orang di lapisan bawah dengan penciptaan kerja melalui proyek-proyek infrastruktur,” lanjutnya.

Kondisi tersebut tercermin pada kenaikan harga saham-saham rokok dan makanan di bursa saham Indonesia, seperti HM Sampoerna [HMSP 102,400 900 (+0,9%)] dan Indofood [INDF 7,425 125 (+1,7%)]. Kenaikan juga terjadi pada harga saham media yang ikut menangguk keuntungan dari kenaikan belanja iklan perusahaan produk konsumsi, seperti Media Nusantara Citra [MNCN 1,980 80 (+4,2%)].

Selain kebijakan fiskal yang ekspansif, melambatnya inflasi dan prospek penurunan suku bunga juga menjadi pendorong minat investor. Bank Indonesia telah memangkas suku bunga acuan menjadi 7 persen dari 7,5 persen pada awal tahun ini. Bahana Securities memperkirakan, BI akan kembali memangkas suku bunga pada bulan-bulan mendatang menjadi 6,25 persen pada akhir tahun nanti.

Namun penurunan suku bunga acuan BI dinilai tak akan menguntungkan saham-saham keuangan, karena akan menekan net interest marjin perbankan. Harga saham sejumlah bank besar, seperti Bank Rakyat Indonesia [BBRI 11,175 50 (+0,4%)], Bank Mandiri [BMRI 10,175 25 (+0,2%)], dan Bank BCA [BBCA 13,500 50 (+0,4%)], mulai bergreak turun. Read the rest of this entry

Investor Saham Panik Berlebihan Tanggapi Isu Margin Bank

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah menyiapkan insentif bagi perbankan yang mau melakukan efisiensi. Insentif ini diberikan pemerintah agar bank bisa menurunkan suku bunga kreditnya.

Paket insentif rencananya akan diluncurkan dalam waktu dekat, dalam bentuk Peraturan OJK (POJK) Tentang Insentif dalam Rangka Peningkatan Efisiensi.

Bagi perbankan yang mau melakukan efisiensi melalui penyesuaian marginnya, OJK telah menyiapkan berbagai insentif.

OJK berharap, margin perbankan di Indonesia bisa sejajar dengan Thailand di kisaran 3-4% dalam 1-2 tahun ke depan. Dalam arti, OJK tidak serta-merta memaksa bank untuk memangkas margin hingga 3-4%.

Rencana penyesuaian margin ini ditanggapi berlebihan oleh investor saham. Pasar merespons negatif dan membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan lalu anjlok. Saham-saham perbankan berguguran.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Tito Sulistio, angkat bicara soal ini. Read the rest of this entry

Tertolong Laba, Bank Mandiri Mampu Mengatasi Risiko NPL

Dalam 9 bulan tahun ini (9M15), Bank Mandiri (BMRI) membukukan laba bersih Rp14,6 triliun yang berarti naik +0,9 persen (YoY). Pencapaian tersebut sesuai dengan ekspektasi (76% dari perkiraan laba tahun ini) meskipun sedikit di bawah konsensus para analis.

Laba inti Bank Mandiri sebelum provisi tumbuh kuat mencapai 22 persen ditopang oleh pertumbuhan pendapatan non bunga yang kuat (24%). Sementara operational cost tumbuh hanya 12 persen pada 9M15.

Kepala Riset PT Indo Premier Securities Stephan Hasjim menilai perkiraan laba Bank Mandiri tahun ini masih dapat tercapai. Laba terlihat rendah dalam kacamata risiko kredit macet dalam 3 kuartal ke depan. Rasio NPL yang ditetapkan perseroan 3,5% pada 2Q16 dari 2,4% pada 3Q15. Sementara rasio profitabilitas moderat relatif tinggi dengan ROAA 2,2 persen serta ROAE adalah 18,5 persen pada 9M15.

Laba inti Bank Mandiri tumbuh 22 persen pada 9M15 dengan pertumbuhan kredit paling moderat atau 11% (YoY). Pendapatan bunga bersih 5,55% (6bps) dan pertumbuhan pendapatan non bunga yang kuat sebesar 24 persen yang mana juga mendorong pendapatan transaksi yang muncul dari tingginya fluktuasi pasar finansial selama kuartal ini.

Di sisi lain biaya operasi hanya 12 persen karena pertumbuhan beban gaji yang melambat (tumbuh 5%) sebagian karena penyisihan bonus anak usaha syariah serta efisiensi biaya. Adapun pendapatan bunga bersih flat 5,6 persen pada 3Q15. Terdapat ruang pendapatan bunga bersih yang menguat pada 4Q15 karena bunga deposito turun.

Biaya kredit Bank Mandiri naik 311 bps pada 3Q15 (vs 2Q=169 bps) dan 197 bps per 9M15. Rasio NPL konsolidasi naik 2,8 persen sebagian besar karena memburuknya kualitas aset kredit komersial menengah (30% dari portfolio kredit).

Bank Mandiri mematok biaya kredit antara 2,0 persen hingga 2,1 persen pada 2015 dibanding periode sebelumnya 1,4 persen hingga 1,7 persen. Perseroan kini memperkirakan rasio NPL naik 3,5 persen pada 2Q16 (sebesar 2,4% pada 3Q15) sebelum kualitas aset mulai menguat pada semester II 2016 (2H16), sebagian besar karena rasio NPL yang berlanjut memburuk dari kredit komersial medium sebesar 4,9 persen versus 2,5 persen pada 3Q15.

Diyakini estimasi laba Bank Mandiri tercapai meskipun NPL naik. Hal itu karena laba inti yang lebih baik dari perkiraan meskipun laba rendah karena risiko NPL dalam 3 bulan ke depan. Kualitas aset yang memburuk sudah tercermin pada harga seiring pada valuasinya yang rendah. “Rekomendasi Buy pada saham Bank Mandiri tidak berubah,” kata Stephan seperti dikutip dari riset yang dipublikasikan, Jumat (30/10).  (mk)

Read the rest of this entry

Ada peluang di saham bagus berharga murah

Saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun, yang harus diingat adalah buy on weakness. Membeli ketika turun dan bukan sebaliknya. Kalau kita panik dan ikut menjual saham ketika pasar turun, kemudian pasar berbalik arah, kita akan rugi. Demikian nasihat investor kenamaan Lo Kheng Hong kala berbincang dengan Tabloid KONTAN, Selasa, 5 Mei 2015 lalu.

Lo yakin, ketika IHSG turun, suatu hari nanti akan kembali naik, bahkan kenaikannya lebih tinggi dari IHSG sebelumnya. Buktinya, posisi IHSG saat ini jauh lebih tinggi dari sebelum krisis 1998 dan 2008.

Yang menjadi pekerjaan rumah (PR) investor adalah menemukan emiten berkinerja baik dan bertumbuh namun harga sahamnya murah, lepas dari kondisi pasar tengah naik atau turun. “Saya membeli saham dalam kondisi saya tidak tahu pasar akan naik atau turun,” ujar Lo, yang mendapat julukan Warren Buffett Indonesia itu.

PR untuk menemukan dan berinvestasi di saham-saham bagus berharga murah sejatinya menjadi kepentingan setiap investor, bukan cuma Lo.

Repotnya, ketika IHSG berada dalam tekanan seperti saat ini, banyak saham yang harganya sudah terbanting namun tidak semua memiliki fundamental bisnis bagus dan kinerja terus bertumbuh.

Setiap orang tentu punya cara pandang yang berbeda-beda soal bagus tidaknya sebuah saham. Tabloid KONTAN mencoba menyodorkan beberapa saham pilihan dengan fundamental bagus dan berharga murah. Sudah pasti, pilihan investasi tetap di tangan Anda.
• Consumer goods

Selama ini sektor consumer goods dianggap sebagai salah satu tembok pertahanan terbaik di bursa saham. Sifat defensif ini berkat sokongan konsumsi domestik yang tinggi.

Namun, daya beli masyarakat kini sudah banyak tergerus.  Buktinya, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dibuat berdasar survei Bank Indonesia. Pada empat bulan pertama 2015, meski masih di atas level 100, IKK terus merosot. Per April, IKK hanya 107,4 turun 9,5 poin ketimbang Maret 2015.

Faktor lainnya, bahan baku impor, seperti gandum yang menjadi komponen utama banyak produk konsumsi, harus ditebus lebih mahal akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Kombinasi dua faktor inilah yang membuat kinerja sebagian emiten barang konsumsi di bursa saham di kuartal I–2015 tak sejalan dengan ekspektasi para analis.

Nama-nama besar seperti PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mengalami penurunan laba bersih yang cukup signifikan, masing-masing 37% (year-on-year/yoy) dan 9,5%. Namun emiten primadona lainnya, seperti UNVR dan ROTI memperlihatkan kinerja yang kinclong. Misalnya, laba bersih ROTI yang naik 9,6% menjadi Rp 67,12 miliar.

Steven Satya Yudha, Associate Director Marketing and Distribution Ashmore Asset Management Indonesia, tak terlalu tertarik dengan sektor defensif macam consumer goods. Salah satu alasannya, kebijakan pencabutan subsidi meski bagus untuk sektor infrastruktur, tapi tidak mendukung sektor konsumsi.

Namun, Harry Su, Kepala Riset Bahana Sekuritas, menilai, sektor barang konsumsi masih punya potensi pertumbuhan yang bagus di masa depan. Jika disimak, konsumsi rumahtangga memang masih jadi penyumbang terbesar produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Bermodal jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia, posisinya juga belum akan tergantikan dalam tempo beberapa tahun mendatang.

Harry merekomendasikan beberapa saham yang bisa dicermati, di antaranya PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dengan target harga 2015 di Rp  48.500 per saham. Reza Nugraha, analis MNC Securities, merekomendasikan posisi beli UNVR di Rp 44.900 per saham.

Kepala Riset Mandiri Sekuritas John Rachmat juga merekomendasikan saham UNVR. Rekomendasi posisi masuk ke saham ini secara teknikal di 40.000–41.000. Pada penutupan perdagangan Kamis (7/5), UNVR ditutup turun 3,93% ke Rp 43.400 per saham.

Mandiri juga merekomendasikan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dengan target harga Rp 16.800 per saham. Pintu masuk ke saham ICBP bisa di 13.000–13.300. Sementara Harry memproyeksikan target harga di Rp 18.200 per saham. Pada perdagangan Kamis, ICBP naik 1,65% ke Rp 13.900 per saham.

Sementara Henan Putihrai Sekuritas menjagokan saham PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) dengan target harga Rp 1.600 per saham. Nah, jika ingin mengoleksi saham perusahaan roti massal terbesar di Indonesia ini, analis Henan Putihrai, Boy Ariandi, menyarankan posisi beli di 1.160–1.140.

Bahana Sekuritas merekomendasikan target harga Rp 1.750 per saham. Posisi beli, kata Reza, disarankan di Rp 1.300 per saham. Kamis, selembar saham ROTI ditutup turun 1,28% di Rp 1.155 per saham.
• Perbankan

Kinerja emiten sektor perbankan di kuartal I–2015 memang tidak menggembirakan. Pertumbuhan laba bersih rata-rata perbankan lebih lambat ketimbang sebelumnya, hanya satu digit. Ambil contoh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang labanya cuma naik 3,52% menjadi Rp 6,14 triliun  dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang untung bersihnya cuma naik 4,34% jadi Rp 5,13 triliun.

Namun, Kepala Riset Universal Broker Satrio Utomo menilai perbankan menjadi salah satu sektor yang paling cepat pulih jika ada perbaikan ekonomi. “Ketika kembali ke bursa saham lokal, para investor asing biasa melihat sektor bank dulu,” kata Tommy, sapaan akrabnya.

Dari jajaran bank kelas menengah,  Irwan Ariston Napitupulu menyebut PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) layak dicermati. Di kuartal I–2015, laba BBTN naik 18% menjadi Rp 402 miliar.

Nah, investor saham kawakan ini menilai, target pertumbuhan laba bersih BBTN 40% sepanjang tahun ini bisa tercapai. Salah satunya lewat program satu juta rumah yang dicanangkan pemerintah. “Harga Rp 1.500 per saham–Rp 2.000 per saham di akhir tahun enggak sulit tercapai,” katanya. Kamis, harga BBTN turun 0,45% ke Rp 1.110 per saham.

Sementara Muhammad Al Fatih, analis Samuel Sekuritas, menyebut saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menarik dicermati. Secara teknikal, level support  kuat BMRI ada di 10.950. Sementara resistance di 11.775. “Harga ideal untuk membeli saham berada pada level 10.700–10.900,” kata Al Fatih. Pada perdagangan 7 Mei, saham BMRI turun 2,97% ke 11,175.

Analis Danpac Sekuritas Teuku Hendry Andrean mematok target harga BMRI di Rp 13.600 per saham. Cuma, ia tidak merekomendasikan level harga yang bisa menjadi titik masuk bagi investor. “Tren akan terus cenderung menurun, sehingga ketika melakukan akumulasi harus hati-hati karena sangat rawan,” terangnya.

Untuk masuk ke saham perbankan, investor sebaiknya memang berhati-hati.

Toga Yasin Panjaitan, analis Bumiputera Sekuritas, mengingatkan, jika The Federal Reserve (The Fed) jadi menaikkan suku bunga, saham-saham perbankan bisa mengalami koreksi signifikan. “Tunggu sampai tanggal 21 Mei saat Amerika kasih keputusan,” ujar Toga.
• Jasa konstruksi

Pada era pemerintahan Joko Widodo (Jokowi), ekspektasi investor terhadap emiten jasa konstruksi melambung, terutama sejak anggaran subsidi dialihkan untuk pembangunan infrastruktur. Namun kenyataannya, pengerjaan proyek-proyek infrastruktur tidak berjalan cepat. Saat ini, sekitar 80% kontrak proyek sudah diteken, namun banyak di antaranya yang masih terkendala masalah pembebasan lahan.

Tak aneh jika harapan tinggi investor tidak sejalan dengan hasil kinerja emiten jasa konstruksi, terutama pelat merah pada kuartal I–2015.

Laba bersih PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) longsor 63,2% (yoy) jadi tinggal Rp 61,5 miliar. Sementara untung bersih PT Adhi Karya Tbk (ADHI) anjlok 34,5% menjadi Rp 10,6 miliar. Hanya saja, dalam tempo yang sama, laba bersih PT PP Tbk (PTPP)  justru melonjak 52% menjadi  Rp 93,6 miliar.

Kini, investor tengah menanti apakah proyek-proyek infrastruktur pemerintah bisa segera berjalan pada kuartal II. Soalnya, kalau proyek infrastruktur baru akan digelar mulai kuartal III, dikuatirkan anggaran yang sedemikian besar, mencapai Rp 290,3 triliun, tidak terserap sepenuhnya. “Setelah melihat kuartal I, investor jadi ragu apakah dana infrastruktur segitu bisa digunakan sebagai spending 100%,” kata Steven.

Namun Irwan sedikit lebih optimistis. Menurutnya, dalam kondisi ekonomi sulit seperti sekarang, belanja pemerintah akan menjadi trigger bagi pertumbuhan. “Arah belanjanya sudah terlihat ke infrastruktur. Perusahaan yang banyak menikmati pasti BUMN,” kata Irwan.

Jika sesuai rencana, ada harapan saham-saham di sektor jasa konstruksi bakal segera kembali melambung. Toga Yasin Panjaitan, analis Bumiputera Sekuritas, merekomendasikan posisi beli ADHI di 2.750–2.815. Berdasar data Bloomberg, analis Danareksa Joko Soegi merekomendasikan target harga ADHI di Rp 3.700 per saham. Perdagangan Kamis, saham ADHI naik 0,89% ke Rp 2.825 per saham.

Sementara, analis teknikal Sucorinvest Central Gani, Achmad Yaki, menyarankan buy on weakness WSKT di 1.305–1.875. Ia mematok target harga WSKT di 2.100. Kamis (7/5) WSKT ditutup di Rp 1.775 per saham.

Untuk emiten swasta, analis Henan Putihrai, Johanes, merekomendasikan PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) dengan target harga 12 bulan di Rp 1.600  per saham. Kontrak baru yang dikantongi NRCA pada kuartal I 2015 mencapai Rp 1,5 triliun. Sementara sepanjang tahun ini target kontrak baru mereka Rp 4,1 triliun. “NRCA speculative buying jika di atas harga Rp 1.045 per saham,” tambah Boy. Pada 7 Mei lalu NRCA ditutup naik 2,90% ke Rp 1.065 per saham.

Mau ikutan koleksi?

Sumber : kontan.co.id

http://belajar-cara-membuat-website.blogspot.com/
http://ide-peluang-bisnis.blogspot.com/p/jasa-pembukuan.html

Ini Daftar Laba 41 Emiten Bluechips LQ-45

Laba bersih emiten yang tergabung dalam indeks LQ-45 pada kuartal I/2015 jeblok alias turun 5,15% dengan pendapatan hanya tumbuh 2,57% pada periode yang sama. Simak daftar lengkapnya.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis.com, sebanyak 41 emiten LQ-45 telah mengumumkan laporan keuangan kuartal I/2015.

Sedangkan, empat emiten yang belum merilis kinerja adalah PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE), PT Excel Axiata Tbk. (EXCL), PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG), dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG).

Dari 41 emiten tersebut, sebanyak 40 emiten membukukan laba bersih dengan total Rp42,64 triliun pada periode Januari-Maret 2015, dibandingkan dengan tahun lalu Rp44,96 triliun. Read the rest of this entry

Bank Mandiri Cetak Laba Rp 14,5 triliun

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) [10,125 -50 (-0,5%)] mampu mencatatkan laba bersih sebesar Rp 14,5 triliun pada kuartal III 2014. Laba tersebut tumbuh 12,9 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Utama Bank Mandiri, Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, selain mampu membukukan laba positif, Bank Mandiri juga mampu meningkatkan aset menjadi Rp 798,2 triliun.

“Ini menjadi pertama kali dalam sejarah aset Bank Mandiri hampir menyentuh Rp 800 triliun‎, berarti kami tumbuh 14 persen secara year on year,” kata Budi di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Kamis (23/10/2014).

Sayangnya, pertumbuhan laba pada kuartal III ini jika dibandingkan dengan pertumbuhan laba ‎di kuartal II mengalami perlambatan. Pada Juni 2014 lalu, pertumbuhan laba perseroan sebesar 15,6 persen.

Budi menjelaskan, kinerja yang dibukukan oleh perseroan pada kuartal III termasuk bagus mengingat kondisi ekonomi nasional dan juga global masih belum pasti.

“Bank Mandiri itu bank terbesar di Indoensia, strategi kami di tengah ekonomi seperti ini itu tidak terlalu agresif, kalau kepleset sedikit saja itu bisa bahaya, jadi tumbuh di double digit itu sudah sangat bagus,” tegas Budi.

Pertumbuhan Kredit

Penyaluran kredit Bank Mandiri pada September 2014 mengalami pertumbuhan sebesar 12,4 persen menjadi Rp 506,5 triliun dibandingkan dengan September 2013 yang tercatat Rp 450,8 triliun.

Penyaluran kredit tersebut dibarengi dengan kehati-hatian. Terbukti, Non Performing Loan (NPL) atau kredit bermasalah secara gross dapat dikendalikan dengan hanya mengalami kenaikan tipis dari 1,9 persen menjadi 2,16 persen. Kenaikan NPL tersebut dikatakan Budi lebih disebabkan kenaikan NPL di anak usaha mereka yaitu PT Bank Syariah Mandiri.

Secara sektoral kredit sektor produktif tercatata tumbuh 14,3 persen menjadi Rp 389,4 triliun, kredit investasi sebesar 10,8 persen dan kredit modal kerja sebesar 16,4 persen, sedangkan sektor konstruksi tumbuh sebesar 23,9 persen‎.

Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun Bank Mandiri tumbuh 14,9 persen menjadi Rp 590,9 triliun pada September 2014 dari di periode yang sama tahun lalu Rp 514,2 triliun.

Dari capaian itu, total dana murah (giro dan tabungan) yang berhasil dikumpulkan Bank Mandiri sampai dengan triwulan ketiga 2014 mencapai Rp 361,8, terutama di dorong oleh pertumbuhan giro sebesar 16,4 persen atau Rp 18,5 triliun hingga mencapai Rp 131,5 triliun.
Read the rest of this entry

Defisit Perdagangan Diperkirakan Sampai Q3, Peluang Buy 6 Saham

Laju inflasi Indonesia berlanjut membaik dalam 5 bulan hingga Mei (1,56% secara kumulatif), yang masih sesuai dengan target inflasi BI antara 3,5% – 5,5%.

Sementara itu neraca perdagangan kembali defisit sebesar 1,96 miliar USD di bulan April (Maret surlus 0,67 miliar USD), sebagian karena kenaikan impor secara musiman pada kuartal kedua tahun ini (2Q14)

Kepala Riset Indo Premier Securities, Stephan Hasjim memperkirakan defisit transaksi berjalan (current account/CA) akan melebar pada 2Q dan 3Q (2% dari GDP pada 1Q). Namun dia yakin CA akan sesuai target BI sebesar 2,5%- 3,0% dari GDP di sepanjang 2014 (FY14) versus 3,3% dari GDP pada FY13. “Dengan demikian pelemahan pasar saat ini sebagai peluang untuk melakukan buy,” kata dia seperti dikutip dalam riset-nya Senin (2/6).

Rendahnya tingkat inflasi bulan Mei (CPI: 0,16% ; inti: 0,23% MoM) mengantarkan inflasi kumulatif dalam 5 bulan di tahun 2014 sebesar 1,56% lebih rendah dibanding periode yang sama di tahun 2013 sebesar 2,26%.

Menurut Stephan, dengan basis year on year (YoY), inflasi tetap stabil 7,32% (core : 4,82%). Atas dasar dampak yang kuat kenaikan BBM tahun lalu diharapkan mulai lenyap, dia memperkirakan inflasi tahunan turun signifikan di waktu mendatang meskipun terdapat dampak negatif tarif listrik pada semester kedua. Kata dia inflasi akan mencapai batas atas dari target inflasi BI sebesar 3,5% – 5,5% pada tahun ini.

Kontras dengan berita positif inflasi, neraca perdagangan RI kembali defisit ke tingkat 1,96 miliar USD pada periode April setelah dua bulan berturut-turut surplus (Maret surplus 669 juta USD, Februari surplus 843 juta USD).

Defisit perdagangan besar ini terutama terkait kenaikan impor non migas senilai 2 miliar USD (MoM) karena faktor musim dan ekspor non migas yang tercatat turun menjadi 890 juta USD (MoM) karena faktor turunnya harga komoditi (batubara, CPO) serta turunnya volume ekspor terutama ke China dan India. Meskipun impor non migas pada 2Q naik tidak sepenuhnya tak terduga, khususnya memasuki bulan Ramadhan pada bulan Juli, tetapi besarnya kenaikan masih sebagai hal mengejutkan.

Statistik menunjukkan, kenaikan secara berurutan impor bulanan didorong oleh kenaikan impor bahan baku non BBM dan impor barang modal. Sedangkan kenaikan impor konsumsi lebih moderat. Meskipun defisit CA diperkirakan melebar pada 2 kuartal mendatang, setelah defisit relatif turun sebesar 2% dari GDP di 1Q dan 4Q, diyakini target defisit CA oleh BI sebesar 2,5% – 3,0% dari GDP di sepanjang 2014 akan tercapai.

Mendorong peningkatan financial account akan dapat mengurangi kekhawatiran atas melebarnya defisit CA dalam 2 kuartal mendatang. Aliran investasi asing langsung (FDI) tetap kuat sebesar 4,5 miliar USD pada 2 kuartal terakhir. Kenaikan aliran investasi portfolio menjadi 8,5 miliar USD di 1Q versus 1,6 miliar USD pada 4Q13 berkontribusi terhadap neraca pembayaran.

Menurut Stephan, aliran investasi portfolio tampaknya akan berlanjut pada 2Q seiring kepemilikan investor asing pada surat utang RI yang mencapai rekor sebesar Rp394 triliun per 23 Mei 2014 (35,7% dari total surat utang). Sementara di pasar saham sejauh ini terlihat juga aliran dana asing bersih mencapai 1,6 miliar USD di periode 2Q14 (pada 1Q sebesar 2,0 miliar USD). Ini akan menunjukkan kepercayaan investor asing atas neraca pembayaran Indonesia dan merupakan antisipasi dari katalis positif pilpres 9 Juli.

Pasar saham RI tetap bergairah di tahun 2014 dengan target IHSG ke level 5.300 yang didasarkan kepada rasio P/E sebesar 14 kali dalam 12 bulan ke depan. Dengan demikian koreksi pasar di tengah ekspektasi neraca perdagangan yang tetap defisit di 2Q dan 3Q sebagai peluang untuk buy. Pilihan saham yang disukai sektor banking ( [BMRI 10,200 0 (+0,0%)] dan [BBNI 4,905 125 (+2,6%)]), operator jalan tol ( [JMSR 0 0 (+0,0%)]), saham terkait infrastruktur seperti di sektor konstruksi ( [PTPP 1,840 -15 (-0,8%)], [WSKT 685 -10 (-1,4%)]) dan operator menara telco ( [TBIG 7,950 325 (+4,3%)]).

Read the rest of this entry