Blog Archives

Membandingkan Lemahnya Rupiah pada 1998 dan 2018

Ilustrasi Rupiah Melemah

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan banyak menuai perbincangan publik. Kondisi nilai tukar yang hampir Rp 15 ribu per dolar AS itu banyak dikhawatirkan sama dengan kondisi 1998 dulu.

Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM), Tony Prasetiantono mengatakan, kondisi itu banyak membuat masyarakat khawatir terjadinya krisis. Tapi, ia berharap kondisi itu bisa dilihat seksama.

Ia menjelaskan, dulu angka Rp 15 ribu pada 1998 terjadi pada 15 Januari 1998. Angka itu mengalami loncatan sangat jauh dari Oktober 1997 yang nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hanya berada di angka Rp 2.300.

Sedangkan, lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini, terjadi dengan loncatan yang tidak terlalu jauh. Pasalnya, angka hampir Rp 15 ribu pada September itu naik sekitar 1.300 dari Rp 13.700 pada awal tahun. Read the rest of this entry

Advertisements

Sri Mulyani dalam Bayang-bayang Kegagalan Ekonomi

Pemerintahan Jokowi-JK menargetkan pertumbuhan ekonomi 8% pada 2019. Tak main-main, cita-cita ini tertulis dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

Namun, capaian pertumbuhan ekonomi 2015-2018 ini, masih jauh dari keinginan itu. Realisasinya tak jauh-jauh dari angka 5%. Mirisnya lagi, ketika pertumbuhan ekonomi kontet, penerimaan jeblok. Mau tak mau utang negara naik signifikan.

Dalam kaitan ini, para ekonom mengingatkan, utang (negara dan swasta) yang diklaim untuk pembangunan, layak masuk kategori lampu kuning. Karena, cicilan pokok ditambah bunga yang harus dibayar selama dua tahun (2018 dan 2019), mencapai Rp840 triliun. Atau setara dua kali anggaran infrastruktur.

Masalah yang tak kalah serius, adalah, pertama: defisit neraca perdagangan.

Kedua: service accounts negatif.

Ketiga: current accounts negatif,

Keempat: fiscal balance negatif.

Kelima: utang naik 15%.

Keenam: ya itu tadi, pertumbuhan ekonomi hanya 5%.

Enam poin itu menunjukkan bagaimana jebloknya tata kelola keuangan di negeri ini. Kata orang ekonomi, tidak prudent.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Riza Annisa Pujarama mengungkapkan, utang luar negeri Indonesia terus mengalami kenaikan signifikan. Bahkan layak disebut mengkhawatirkan. Lho kok bisa?

Hingga saat ini, kata Riza, utang luar negeri Indonesia telah mencapai Rp 7.000 triliun. Jumlah tersebut merupakan total utang pemerintah dan swasta. Dari sisi pemerintah, utang tersebut digunakan untuk menambal defisit anggaran. Dari sisi swasta dilakukan korporasi dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Jumlah utang Indonesia yang menurut kajian Indef mencapai Rp7.000 triliun itu, rasionya jelas jomplang jika dibandingkan dengan Amerika Serikat dan Jepang. “Membandingkan rasio utang dengan Amerika itu konyol. Karena AS itu tinggal cetak dollar dan jual ke luar negeri, ongkos cetak 100 dolar hanya dua dolar dan apalagi didukung hegemoni militer dan politik,” kata Rizal Ramli, Menko Perekonomian era Presiden Gus Dur itu.

Tak masuk akal kalau membandingkan utang RI dengan Jepang, sebab meskipun utang Jepang tinggi tetapi income internasionalnya juga tinggi. Dari kaca mata riil ekonomi, Jepang mempunyai net international investment positions US$2,8 triliun. Artinya, memiliki net external assets positif alias bangsa kreditor.

Jelas beda nasib dengan Indonesia yang net international investment positionnya negatif lebih dari US$400 miliar. Negeri ini memiliki net external liabilities, atau layak ditempatkan di barisan negeri debitor. Read the rest of this entry

Rupiah terpukul 13.800/dollar AS, IHSG terkapar

Rupiah terpukul dengan penguatan dollar AS. Mengutip Bloomberg pukul 9:13 WIB, rupiah diperdagangkan di Rp 13.873 per dollar AS, posisi terlemahnya sejak Januari 2016 silam.

Penguatan dollar AS mencapai 5,59% pagi ini terhadap rupiah. Kemarin, posisi USD/IDR masih di 13.138.

Pelemahan rupiah menjadi yang terbesar di Asia. Penguatan dollar AS terhadap won Korea sebesar 1,3%, terhadap peso Filipina 0,4%, terhadap baht Thailand 0,04%.

Sebaliknya, dollar AS terhadap dollar Singapura melemah 0,21%. Dollar AS juga melemah 0,4% terhadap yen Jepang, meski yen tetap berada di seputaran titik terlemahnya ¥ 106 per dollar AS. Read the rest of this entry

Brexit Sebabkan Saham-saham AS Menurun Tajam

Saham-saham Amerika Serikat (AS) berakhir turun tajam pada Jumat (24/6/2016), mengikuti kekacauan global setelah Inggris memilih untuk meninggalkan Uni Eropa dalam sebuah referendum bersejarah.

Indeks Dow Jones Industrial Average jatuh 611,21 poin atau 3,39% menjadi ditutup pada 17.399,86. S&P 500 merosot 76,02 poin atau 3,60% menjadi berakhir di 2.037,30, dan indeks komposit Nasdaq anjlok 202,06 poin atau 4,12% menjadi 4.707,98.

Kubu “Tinggalkan” memenangkan referendum Brexit Inggris pada Jumat pagi dengan mendapatkan hampir 52% suara, menarik negara itu keluar dari blok 28 negara Uni Eropa (UE) setelah menjalani keanggotaan selama 43 tahun. Read the rest of this entry

Berdebar menanti kabar dari Inggris

Hari ini, masyarakat Inggris akan menentukan masa depannya. Inggris menggelar referendum menentukan status keanggotaan di Uni Eropa: tetap bergabung atau memilih hengkang dari blok ini alias British Exit (Brexit).

Jajak pendapat terakhir menunjukkan posisi imbang antara suara yang ingin keluar maupun bertahan di Uni Eropa. Beberapa poling mengunggulkan Inggris tetap masuk Uni Eropa dengan selisih tipis.

Yang jelas, sebagian besar pelaku pasar mengkhawatirkan Inggris keluar dari Uni Eropa karena bisa menekan ekonomi dunia. Itu sebabnya, para ekonom, lembaga ekonomi internasional  dan pemimpin dunia menentang Brexit.

Prediksi Dana Moneter Internasional (IMF), Brexit ibarat penghilangan nutrisi ekonomi dunia. Brexit bakal membawa ekonomi Inggris ke jurang resesi.

Proyeksi IMF, ekonomi Inggris akan merosot hingga 5,5% sampai 2019. “Kondisi perdagangan dan investasi global akan terpuruk karena ada ketidakpastian politik dunia,” tulis IMF seperti dilansir The Guardian, kemarin.

Sebagai negara berekonomi kelima terbesar dunia, Inggris  bakal kehilangan pertumbuhan ekonomi 0,5% di tahun ini. Jika keluar dari Uni Eropa, Inggris harus melakukan negosiasi ulang dengan 27 negara anggota lain di kawasan ini. Read the rest of this entry

The Fed Tahan Suku Bunga, Dolar AS Melemah ke Rp 13.071

Fluktuasi mata uang dolar Amerika Serikat (AS) terhdap rupiah masih terus terjadi. Pagi ini, mata uang Paman Sam bergerak melemah, bersamaan dengan keputusan FOMC (Rapat Dewan Gubernur The Fed) untuk menahan tingkat suku bunganya.

Berdasarkan data perdagangan Reuters, Kamis (17/3/2016), dolar AS pagi ini bergerak melemah ke Rp 13.071, dibandingkan posisi sore kemarin di Rp 13.237.

Dolar AS mencoba menguat dan bergerak naik hingga ke level tertingginya di Rp 13.167 pagi ini.

Perlahan, dolar AS kembali melemah. Hingga pukul 09.26 WIB, mata uang Paman Sam tersebut bergerak ke Rp 13.155. Read the rest of this entry

Merespons Pelemahan Ekspor-Impor China, Yen Melambung

Nilai tukar yen menguat terhadap mata uang utama, siang ini, karena anjloknya ekspor China menawarkan dealer lebih banyak bukti mengenai perlambatan ekonomi dunia.

Dollar sempat menyentuh 112,75 yen, level terendah dalam sepekan terhadap yen–yang dipandang sebagai investasi yang aman (safe haven) saat terjadi gejolak–sebelum rilis data China yang menunjukkan pelemahan ekspor-impor melampaui perkiraan analis, demikian laporan AFP, di Tokyo, Selasa (8/3).

Nilai ekspor ekonomi terbesar kedua di dunia itu merosot lebih dari 25 persen (year-on-year) sepanjang Februari menjadi US$126,1 miliar, sementara impor turun hampir 14 persen menjadi US$93,6 miliar.

Di Tokyo, greenback merosot jadi 113,03 yen pada sesi perdagangan petang ini, dari 113,41 yen, di New York, dini hari tadi WIB.

Euro melemah jadi 124,56 yen dari 124,90 yen di perdagangan Amerika, sementara naik ke level US$1,1018 dari US$1,1013.

Para trader terus mengantisipasi pertemuan kebijakan Bank Sentral Eropa yang digelar Kamis–bank sentral utama pertama yang menghelat pertemuan bulan ini.

Pertemuan ECB diperkirakan menghasilkan langkah stimulus yang baru untuk zona euro–beranggotakan 19 negara–yang bisa mencakup penurunan suku bunga atau anggaran baru untuk pembelian obligasi.

Sementara itu, mata uang emerging market secara luas melemah terhadap dollar, dengan investor lebih berhati-hati tentang prospek ekonomi dunia.

“Tantangan global tetap menjadi ancaman bagi emerging market,” ucap Vishnu Varathan, Ekonom Mizuho Bank, di Singapura.

Rupiah tercatat melemah 0,34 persen terhadap greenback, sementara dollar Singapura menyusut 0,38 persen dan won Korea Selatan kehilangan 0,39 persen.

Ringgit Malaysia yang terkait minyak, dollar Taiwan, baht Thailand dan peso Filipina juga melemah terhadap mata uang Amerika itu. Read the rest of this entry

Mata Uang Emerging Market Menguat … Sampai Kapan?

Nilai tukar mata uang emergng market telah mencapai level tertinggi dalam dua bulan terakhir, ditopang oleh kenaikan harga komoditas.

Indeks mata uang emerging market versi JP Morgan pada awal perdagangan di pasar uang Eropa, Jumat ini (4/3), mencapai 66,2, level tertinggi sejak Desember lalu. Indeks terdongkrak oleh lonjakan nilai tukar won Korea Selatan, ringgi Malaysia, dan renminb China.

Mata uang emerging market menguat tajam sejak akhir Januari lalu, setelah indeks menyentuh titik terendah sepanjang masa. Pekan ini indeks naik 2,2 persen, disokong oleh reli harga minyak.

Sejak Senin lalu ringgit melesat 2,5 persen terhadap dolar, won melonjak 3,2 persen, dan renminbi di pasar uang internasional menguat 0,6%. Rupee India melaju 2,4 persen dan rupiah naik 1,9%. Stabilitas harga komoditas juga membantu mengangkat dolar Kanada – lebih dari 9 persen sejak 20 Januari lalu – dolar Australia melomapt 7,4 persen pada periode yang sama.

Kendati demikian, muncul pertanyaan apakah reli mata uang emerging market bakal berkelanjutan? Ahli strategi valas BNY Mellon, Neil Mellor memperingatkan bahwa kekhawatiran akan isu pasokan minyak global dan strategi ekonomi Chinamasih belum berakhir.

“Mata uang berbasis komoditas bergulir cepat selama beberapa pekan terakhir dan sementara ini dunia menjadi ‘tempat yang lebih baik’ … investor dapat diekspektasikan akan terus berjemur di bawah sinar matahari,” kata Mellor. “Tapi selama fundamental tak dapat mengejar ketertinggalannya dengan entusiasme pasar saat ini, hampir pasti awan gelap kembali dengan cepat,” imbuh Mellor, seperti dikutip Financial Times (4/3).

Ada juga kekhawatiran, jika rilis data penggajian AS Jumat ini memperlihatkan penguatan tajam, bisa  meningkatkan kembali ekspektasi  akan kenaikan suku bunga AS untuk kedua kalinya, sehingga dapat memukul aset dan mata uang emerging market.

“Bagi kami, kasus pengetatan moneter The Fed merupakan bola liar,” ungkap ahli strategi Brown Brothers Harriman dalam catatannya kepada klien. “Proyeksi likuiditas global saat ini sudah bergerak mendukung emerging market. Tapi meningkanya ekspektasi akan kenaikan suku bunga The Fed akan mengecewakan pasar.”

Menurutnya, kondisi tersebut akan mendorong kembali dolar ke jalur penguatan. Gambaran pertumbuhan global masih belum menguntungkan bagai emerging market,” ujarnya. Read the rest of this entry

Banyak Dana Masuk RI, Sampai Level Berapa Rupiah Menguat?

Nilai tukar rupiah masih berada dalam tren penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa bulan terakhir.  Mata uang Paman Sam tersebut sempat turun sampai kisaran Rp 13.200. Berdasarkan data perdagangan Reuters, dolar AS sore ini ditutup di Rp 13.285.

Salah satu pemicunya memang datang dari kebijakan suku bunga negatif oleh Jepang dan Uni Eropa. Banyak investor yang kebingungan untuk menempatkan dananya agar tetap untung. Pasar keuangan Indonesia menjadi pilihan untuk saat ini.

Cerita ini hampir persis seperti yang terjadi pada beberapa tahun lalu. Saat AS juga memberlakukan hal yang sama. Indonesia ikut menikmati berkah, karena besarnya arus modal yang masuk membuat dolar AS turun ke level di bawah Rp 10.000.
Read the rest of this entry

Rupiah Akan Menjadi Mata Uang Berkinerja Terburuk di Asia

Rupiah Indonesia diperkirakan akan menempati posisi sebagai mata uang Asia berkinerja terburuk akibat penyusutan cadangan devisa dan berisiko tinggi mengalami arus keluar modal. Survei Bloomberg terhadap sejumlah ahli strategi mata uang Asia mengungkapkan, nilai rupiah diperkirakan akan melorot 6,2 persen terhadap dolar sejak 30 November lalu hingga akhir 2016.

Sebelumnya, rupiah juga pernah mengalami penurunan terbesar diantara mata uang negara-negara emerging Asia pada 2012 dan 2013, masing-masing sebesar 5,9 persen dan 21 persen. Ketika itu, harga komoditas global berguguran, dan terjadi arus keluar dana dari negara berkembang akibat pengetatan kebijakan moneter AS.

“Rupiah menempati ranking tertinggi dalam kartu skor kami karena kerentanannya terhadap arus modal,” kata Jason Daw, kepala strategi valas Asia, Societe Generale AS, Singapura, seperti dikutip Bloomberg, (21/12).

Cadangan devisa Indonesia mengalami penurunan selama sembilan bulan berturut-turut hingga November lalu. Investor asing memiliki 38 persen obligasi pemerintah dalam rupiah, yang dinilai akan memperentan rupiah terhadap penarikan modal ketika suku bunga Federal Reserve AS naik dan ekonomi China melambat.

Meskipun pemerintah Indonesia tengah berupaya mengurangi ketergantungannya pada komoditas impor, namun transisi dari upaya tersebut akan membutuhkan waktu. Para ekonom memperkirakan hanya akan terjadi sedikit perbaikan pertumbuhan Indonesia pada tahun depan.

Societe Generale berpendapat, rupiah akan turun hingga 15.300 per dolar pada akhir 2016, lebih tinggi dibanding estimasi rata-rata hasil survei Bloomberg sebesar 14.750. Hanya mata uang Argentina dan Brazil yang akan mengalami penurunan lebih buruk dibanding rupiah, di antara 23 mata uang lain di emerging market.

Sepanjang tahun ini, cadangan devisa turun 10 persen, terendah sejak Desember 2013. Kondisi tersebut akan membatasi kemampuan Bank Indonesia untuk mempertahankan rupiah ketika menghadapi kenaikan suku bunga AS, dan perlambatan di China. Kedua kondisi eksternal itu akan makin menekan harga komoditas dan dapat menghasilkan pelemahan yuan secara signifikan, sehingga memicu arus keluar modal.

Kepemilikan obligasi rupiah oleh asing sudah meningkat dari 30 persen pada lima tahun lalu dan mencapai puncaknya menjadi 40 persen pada Januari lalu.

Hasil survei Bloomberg memperkirakan ekonomi Indonesia akan naik 4,7 persen pada tahun ini, dan 5,1% pada 2016. Kamis pekan lalu, Bank Indonesia memperkirakan angka pertumbuhan tahun depan dalam rentang 5,2 persen hingga 5,6 persen, sehingga memperbesar ruang untuk memangkas suku bunga. Penurunan suku bunga cenderung akan memperlemah rupiah.

Nomura Hodings Inc., pada bulan ini memperkirakan nilai tukar rupiah pada akhir 2016 akan mencapai 14.850 per dolar, lebih baik dari perkiraan sebelumnya 15.200. “Proyeksi kami terhadap Indonesia dan rupiah pada 2016, lebih optimistik,” kata Dushyant Padmanabhan, ahli strateng Nomura, Singapura.

“Secara lokal, kami melihat adanya perbaikan permintaan domestik dan kenaikan belanja modal publik karena stimulus fiskal dan moneter mulai membuahkan hasil,” imbuhnya.

Dalam pernyataannya pekan lalu, Bank Dunia menyatakan bahwa tahun 2016 akan lebih menantang bagi Indonesia. “Mungkin akan terjadi turbulensi,” karena permintaan China terus melemah dan terjadi kenaikan suku bunga AS.

Menurut Bank Dunia, meskipun belanja sektor publik telah meningkat namun penerimaan tetap menjadi tantangan yang dapat mengurangi pencarian rencana belanja pemerintah pada tahun depan. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan Indonesia bisa mencapai 5,3 persen tahun depan.

“Rupiah lebih rentan jika dibandingkan dengan mata uang Asia lainnya dalam menghadapi ketidakseimbangan eksternal, pelemahan harga komoditas dan penarikan dana asing pada obligasi pemerintah akibat pengetatan The Fed,” kata Roy Teo, ahli strategi valas ABN Amro Bank NV, Singapura. ABN Amro memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar pada akhir 2016, akan mencapai 15.000 per dolar. Read the rest of this entry