Blog Archives

Akhir pekan, bursa Wall Street ditutup memerah terbebani laporan data tenaga kerja AS

Bursa saham Amerika Serikat melorot dalam dua hari berturut-turut pada Jumat, terbebani oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah dan laporan data ekonomi yang kuat dimana tingkat pengangguran menurun dan upah pekerja meningkat.

Indeks S&P 500 turun 0,55% ke level 2.885,57.  Sedangkan indeks Nasdaq turun 1,16% ke level 7.778,45. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,68% ke level 26.447,05.

Dalam sepekan, indeks S&P 500 turun 0,98%, Dow Jones turun 0,04% dan Nasdaq anjlok 3,2%. Bagi Nasdaq, penurunan saham dalam sepekan ini merupakan penurunan mingguan yang terdalam sejak Maret.

Penurunan indeks dipicu didorong oleh anjloknya saham-saham kelas berat di sektor teknologi dan komunikasi yang kerap disebut FAANG group, yakni Facebook, Amazon, Apple, Netflix, dan Alphabet. Saham Amazon bahkan turun hingga 1%. Read the rest of this entry

Advertisements

Sri Mulyani dalam Bayang-bayang Kegagalan Ekonomi

Pemerintahan Jokowi-JK menargetkan pertumbuhan ekonomi 8% pada 2019. Tak main-main, cita-cita ini tertulis dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

Namun, capaian pertumbuhan ekonomi 2015-2018 ini, masih jauh dari keinginan itu. Realisasinya tak jauh-jauh dari angka 5%. Mirisnya lagi, ketika pertumbuhan ekonomi kontet, penerimaan jeblok. Mau tak mau utang negara naik signifikan.

Dalam kaitan ini, para ekonom mengingatkan, utang (negara dan swasta) yang diklaim untuk pembangunan, layak masuk kategori lampu kuning. Karena, cicilan pokok ditambah bunga yang harus dibayar selama dua tahun (2018 dan 2019), mencapai Rp840 triliun. Atau setara dua kali anggaran infrastruktur.

Masalah yang tak kalah serius, adalah, pertama: defisit neraca perdagangan.

Kedua: service accounts negatif.

Ketiga: current accounts negatif,

Keempat: fiscal balance negatif.

Kelima: utang naik 15%.

Keenam: ya itu tadi, pertumbuhan ekonomi hanya 5%.

Enam poin itu menunjukkan bagaimana jebloknya tata kelola keuangan di negeri ini. Kata orang ekonomi, tidak prudent.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Riza Annisa Pujarama mengungkapkan, utang luar negeri Indonesia terus mengalami kenaikan signifikan. Bahkan layak disebut mengkhawatirkan. Lho kok bisa?

Hingga saat ini, kata Riza, utang luar negeri Indonesia telah mencapai Rp 7.000 triliun. Jumlah tersebut merupakan total utang pemerintah dan swasta. Dari sisi pemerintah, utang tersebut digunakan untuk menambal defisit anggaran. Dari sisi swasta dilakukan korporasi dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Jumlah utang Indonesia yang menurut kajian Indef mencapai Rp7.000 triliun itu, rasionya jelas jomplang jika dibandingkan dengan Amerika Serikat dan Jepang. “Membandingkan rasio utang dengan Amerika itu konyol. Karena AS itu tinggal cetak dollar dan jual ke luar negeri, ongkos cetak 100 dolar hanya dua dolar dan apalagi didukung hegemoni militer dan politik,” kata Rizal Ramli, Menko Perekonomian era Presiden Gus Dur itu.

Tak masuk akal kalau membandingkan utang RI dengan Jepang, sebab meskipun utang Jepang tinggi tetapi income internasionalnya juga tinggi. Dari kaca mata riil ekonomi, Jepang mempunyai net international investment positions US$2,8 triliun. Artinya, memiliki net external assets positif alias bangsa kreditor.

Jelas beda nasib dengan Indonesia yang net international investment positionnya negatif lebih dari US$400 miliar. Negeri ini memiliki net external liabilities, atau layak ditempatkan di barisan negeri debitor. Read the rest of this entry

Petinggi Samsung ditahan, bursa Asia memerah

Pasar saham Asia dibuka di zona merah pada transaksi perdagangan akhir pekan (17/2). Data yang dihimpun CNBC menunjukkan, pada pukul 08.20 waktu Singapura, indeks Kospi Korea Selatan tergerus 0,35%. Sedangkan indeks Kosdaq naik 0,15%.

Salah satu saham yang pergerakannya mempengaruhi bursa Korsel adalah Samsung ELectronics. Pagi ini, saham Samsung turun 0,4% setelah pimpinan perusahaan ini ditangkap pihak kepolisian.

Jay Y Lee akhirnya ditahan pada Jumat (17/2) terkait perannya di kasus skandal korupsi yang mendorong parlemen Korsel melakukan impeachment Presiden Park Geun-hye. Lee ditahan di Pusat Penahanan Seoul, di mana dia akan menunggu keputusan hakim pengadilan.

Baik Samsung maupun Lee, membantah terlibat kasus ini. Read the rest of this entry

Utang Trump Berceceran di Wall Street, Berpotensi Timbulkan Konflik

Utang Presiden AS terpilih, Donald Trump dan jaringan bisnisnya berceceran di bank, reksa dana dan institusi keuangan lainnya di sekitar Wall Street, memperbesar kerumitan yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan dalam pemerintahan Trump.

Ratusan juta dolar utang tersebut melibatkan bisnis properti Trump, beberapa di antaranya didukung dengan jaminan pribadi Trump. Analisis Wall Street Journal (WSJ) terhadap dokumen legal dan properti Trump menemukan bahwa utang-utang tersebut dikemas dalam bentuk surat berharga dan dijual ke inevestor selama lima tahun terakhir.

Sebelumnya, Trump pernah mengungkapkan bahwa jaringan bisnisnya berutang sedikitnya US$315 miliar kepada 10 perusahaan. Namun menurut hasil analis WSJ, utang bisnis Trump berasal dari 150 institusi lebih. Mereka membeli utang-utang tersebut setelah dipecah-pecah dan dikemas kembali dalam bentuk obligasi (proses ini disebut sekuritisasi), yang diterapkan pada utang bernilai lebih dari US$1 miliar yang terkait dengan perusahaan-perusahaan Trump.

Akibatnya, semakin banyak intitisi keuangan yang kini mempunyai posisi kuat yang berpotensi mempengaruhi Trump. Jika bisnis Trumo mengalami gagal bayar utang, lembaga-lemabga keuangan raksasa yang bertindak sebagai “pemberi jasa khusus” dalam pembentukan “kolam utang” itu akan mempunyai kewenangan untuk mengambil alih sejumlah properti Trump atau mengupayakan puluhan juta dolar jaminan pribadi Trump terhadap berbagai pinjamannya.

“Permasalahan pada utang-utang itu adalah jika terjadi sesuatu yang tidak benar, dan jika terjadi situasi dimana secara tiba-tiba presiden AS terikat secara pribadi atau rentan terhadap ancaman dari para pemberi pinjaman,” kata Trevor Potter, yang bertindak sebagai konsultan umum kampanye pemilu calon presiden Republiken, George HW Bush dan John Mc Cain, seperti dikutip The Wall Street Journal (5/1).

Salah satu lembaga keuangan yang mempunyai keterkaitan besar dengan Trump adalah Wells Fargo & Co. Menurut analisis yangdilakukan Mornigstar untuk WSJ, Wells menyelenggarakan sedikitnya lima reksa dana yang mempunyai bagian dalam sekuritisasi utang bisnis Trump. Wells juga menjadi wali amanat atau administrator pengumpulan dana dari sekuritisasi pinjaman, termasuk pinjaman senilai US$282 juta untuk Trump.

Wells juga bertindak sebagai pemberi jasa khusus senilai US$950 juta berupa pinjaman untuk properti sebagian diantaranya dimiliki oleh perusahaan Trump. Segera seteolah dilantik menjadi Presiden AS, Trump akan menunjuk pimpinan dan kepala lembaga-lembaga regulator yang akan mengawasi perbankan.

Jaringan bisnis Trump juga tercatat memiliki sejumlah besar utang ke lembaga keuangan non-Amerika. Diantaranya total utang sebesar US$340 juta, termasuk US$170 juta pinjaman siaga ke Deutsche Bank. Bersama-sama dengan UBS Group AG, Goldman Sachs Group dan Bank of China, pada 2012 lalu Deutsche Bank menyepakati pemberian pinjaman sebesar US$950 juta ke sebuah perusahaan yang 30 persen sahamnya dimiliki Trump.

Lembaga keuangan lain yang disebut-sebut memiliki utang piutang dengan bisnis Trump antara lain  J.P. Morgan Chase & Co.,  BlackRock Inc., Fidelity Investments, Invesco Ltd., Pacific Investment Management Co., Prudential PLC and Vanguard Group. Namun para pembantu Trump, dan juru bicara lembaga-lembaga keuangan tersebut menolak mengomentari atau tidak merespon permintaan WSJ untuk mengklarifikasi.

Sebenarnya lumrah saja bila investor real estat besar di AS memiliki utang yang tersebar di lembaga-lemabga keuangan di seputaran Wall Street. Namun luasnya sebaran dan besarnya utang-utang jaringan bisnis Trump berpotensi menimbulkan konflik kepentingan antara perannya sebagai presiden dan masalah keuangan pribadinya. Apalagi jika Trump memilih untuk melepas kepemilikan bisnis real estatnya.

“Potensi konfliknya sanga berbahaya dan benar-benar ada pada situasi saat ini,” kata Lawarenco Noble, mantan konsultan Federal Election Commission, yang kini bergabung di lembaa nonpartisan Campaign Legal Center.

Apalagi Trump belum mengumumkan rencananya untuk melepas kepentingannya di kerjaan bisnisnya sebelum dilantik menjadi presiden pada 20 Januari nanti. Meskipun sempat mengatakan telah  mengambil langkah dan akan mengumumkannya pada Desember lalu, namun rencana tersebut ditunda. Rencananya, Trump akan menggelar  konferensi pers pada 11 Januari nanti, namn tidak jelas apakah akan menjelaskan masalah bisnisnya di forum tersebut. Read the rest of this entry

Rupiah terpukul 13.800/dollar AS, IHSG terkapar

Rupiah terpukul dengan penguatan dollar AS. Mengutip Bloomberg pukul 9:13 WIB, rupiah diperdagangkan di Rp 13.873 per dollar AS, posisi terlemahnya sejak Januari 2016 silam.

Penguatan dollar AS mencapai 5,59% pagi ini terhadap rupiah. Kemarin, posisi USD/IDR masih di 13.138.

Pelemahan rupiah menjadi yang terbesar di Asia. Penguatan dollar AS terhadap won Korea sebesar 1,3%, terhadap peso Filipina 0,4%, terhadap baht Thailand 0,04%.

Sebaliknya, dollar AS terhadap dollar Singapura melemah 0,21%. Dollar AS juga melemah 0,4% terhadap yen Jepang, meski yen tetap berada di seputaran titik terlemahnya ¥ 106 per dollar AS. Read the rest of this entry

Berdebar menanti kabar dari Inggris

Hari ini, masyarakat Inggris akan menentukan masa depannya. Inggris menggelar referendum menentukan status keanggotaan di Uni Eropa: tetap bergabung atau memilih hengkang dari blok ini alias British Exit (Brexit).

Jajak pendapat terakhir menunjukkan posisi imbang antara suara yang ingin keluar maupun bertahan di Uni Eropa. Beberapa poling mengunggulkan Inggris tetap masuk Uni Eropa dengan selisih tipis.

Yang jelas, sebagian besar pelaku pasar mengkhawatirkan Inggris keluar dari Uni Eropa karena bisa menekan ekonomi dunia. Itu sebabnya, para ekonom, lembaga ekonomi internasional  dan pemimpin dunia menentang Brexit.

Prediksi Dana Moneter Internasional (IMF), Brexit ibarat penghilangan nutrisi ekonomi dunia. Brexit bakal membawa ekonomi Inggris ke jurang resesi.

Proyeksi IMF, ekonomi Inggris akan merosot hingga 5,5% sampai 2019. “Kondisi perdagangan dan investasi global akan terpuruk karena ada ketidakpastian politik dunia,” tulis IMF seperti dilansir The Guardian, kemarin.

Sebagai negara berekonomi kelima terbesar dunia, Inggris  bakal kehilangan pertumbuhan ekonomi 0,5% di tahun ini. Jika keluar dari Uni Eropa, Inggris harus melakukan negosiasi ulang dengan 27 negara anggota lain di kawasan ini. Read the rest of this entry

Waspada, Reli Emerging Market Dibayangi Sinyal Mengkhawatirkan

Dibalik reli indeks harga saham emerging markets pada Maret lalu, yang mencapai level tertinggi sejak 2009, ada sejumlah sinyal mengkhawatirkan bahwa reli tersebut bakal membentur tembok tebal.

Data Bloomberg menunjukkan, kenaikan harga saham hingga 13 persen pada bulan lalu berlangsung dengan volume perdagangan yang tipis, terendah dalam lima tahun. Di pasar valas, pergerakan nilai tukar mata uang banyak mengikuti pergerakan harga minyak, yang mengindikasikan kerentanan nilai tukar mata uang terhadap perubahan harga komoditas.

Kondisi tersebut menegaskan kerapuhan yang mendasari rebound indeks saham yang digerakkan oleh aliran modal investor pada Maret lalu, tertinggi sejak Juni 2014. Menurut Barclays Plc. dan UBS AG, reli di bursa saham EM itu tidak sejalan dengan kejatuhan ekspor dan kontraksi sektor manufaktur di negara-negara berkembang.

Sementara itu, pendorong terjadinya reli – sikap melunak Federal Reserve, stabilitas ekonomi China dan kenaikan harga minyak – dinilai tidak akan bertahan lama.

“Gambaran makro emerging markets tidak banyak berubah sejak Januari,” kata Yerlan Syzdykov, manajer obligasi emerging market Pioneer Investment Management Ltd. “Pelambatan ekonomi di emerging markets akan berlanjut hingga 2018,” imbuhnya, seperti dikutip Bloomberg, (1/4).

Setelah kehilangan sekitar seperempat dari nilainya sejak 2012, nilai saham, mata uang, obligasi EM bangkit kembali. Pada Maret lalu, harga saham di sejumlah negara berkembang mengalami kenaikan nilai sekitar US$1,8 triliun, lompatan tertinggi sejak 2007 silam. Indeks MSCI Emerging Market meningkat 22 persen dari nilai terendah dalam tujuh tahun, pada Januari lalu, atau dua kali lipat kenaikan indeks acuan saham negara maju.

Sejumlah penghalang itu, setidaknya kini sudah memudar. Harga minyak naik 46 persen dari harga terendah selama 13 tahun pada Februari lalu. China juga mulai bertindak untuk mendongkrak pertumbuhan, dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed sudah menyurut.

Pelemahan nilai tukar dolar AS, membuat rata-rata imbal hasil surat utang EM dalam mata uang lokal sekitra 6,5 persen menjadi daya tarik, ketika sekitar US$8 triliun surat utang pemerintah global menawarkan suku bunga di bawah nol.

“Landasan mata uang emerging market  menjadi sedikti lebih baik, begitu juga dengan komoditas,” kata Pablo Goldberg, ahli strategi surat utang EM dari BlackRock Inc, New York.

Namun menurut Guillermo Modino, ahli strategi Citigroup, investor perlu mewaspadai semakin menyempitnya gap imbal hasil US Treasuries berjangka dua tahun dan 10 tahun, yang menunjukkan rentang terendah sejak 2007. Penyempitan gap yang menjadi barometer minat untuk aset-aset berimbal hasil tinggi – mengindikasikan bahwa EM rentan berbalik arah ketika inflasi AS mulai meningkat.

Sejumlah indikator lain, berdasarkan data Bloomberg, juga mendukung sinyalemen Modino. Indikator tersebut antara lain  seperti lebih sedikitnya saham EM yang ditransaksikan setiap harinya ketimbang saham negara maju, dan korelasi yang semakin erat antara nilai mata uang EM dengan harga minyak.

Sinyal pelemahan ekonomi di EM juga tersirat dalam tingkat keuntungan perusahaan. Masih berdasarkan data Bloomberg, return on equity perusahaan dalam acuan indeks MSCI EM juga turn menjadi 10,5, mendekati level terendah sejak 2010.

“Terlalu awal untuk mengatakan bahwa rintangan sudah berakhir,” kata John Carlson, manajer valas Fidelity Investment. “Kemampuan untuk mempertahankan reli akan membutuhkan banyak hal agar segalanya tepat berada di tempatnya.” Read the rest of this entry

Mata Uang Emerging Market Menguat … Sampai Kapan?

Nilai tukar mata uang emergng market telah mencapai level tertinggi dalam dua bulan terakhir, ditopang oleh kenaikan harga komoditas.

Indeks mata uang emerging market versi JP Morgan pada awal perdagangan di pasar uang Eropa, Jumat ini (4/3), mencapai 66,2, level tertinggi sejak Desember lalu. Indeks terdongkrak oleh lonjakan nilai tukar won Korea Selatan, ringgi Malaysia, dan renminb China.

Mata uang emerging market menguat tajam sejak akhir Januari lalu, setelah indeks menyentuh titik terendah sepanjang masa. Pekan ini indeks naik 2,2 persen, disokong oleh reli harga minyak.

Sejak Senin lalu ringgit melesat 2,5 persen terhadap dolar, won melonjak 3,2 persen, dan renminbi di pasar uang internasional menguat 0,6%. Rupee India melaju 2,4 persen dan rupiah naik 1,9%. Stabilitas harga komoditas juga membantu mengangkat dolar Kanada – lebih dari 9 persen sejak 20 Januari lalu – dolar Australia melomapt 7,4 persen pada periode yang sama.

Kendati demikian, muncul pertanyaan apakah reli mata uang emerging market bakal berkelanjutan? Ahli strategi valas BNY Mellon, Neil Mellor memperingatkan bahwa kekhawatiran akan isu pasokan minyak global dan strategi ekonomi Chinamasih belum berakhir.

“Mata uang berbasis komoditas bergulir cepat selama beberapa pekan terakhir dan sementara ini dunia menjadi ‘tempat yang lebih baik’ … investor dapat diekspektasikan akan terus berjemur di bawah sinar matahari,” kata Mellor. “Tapi selama fundamental tak dapat mengejar ketertinggalannya dengan entusiasme pasar saat ini, hampir pasti awan gelap kembali dengan cepat,” imbuh Mellor, seperti dikutip Financial Times (4/3).

Ada juga kekhawatiran, jika rilis data penggajian AS Jumat ini memperlihatkan penguatan tajam, bisa  meningkatkan kembali ekspektasi  akan kenaikan suku bunga AS untuk kedua kalinya, sehingga dapat memukul aset dan mata uang emerging market.

“Bagi kami, kasus pengetatan moneter The Fed merupakan bola liar,” ungkap ahli strategi Brown Brothers Harriman dalam catatannya kepada klien. “Proyeksi likuiditas global saat ini sudah bergerak mendukung emerging market. Tapi meningkanya ekspektasi akan kenaikan suku bunga The Fed akan mengecewakan pasar.”

Menurutnya, kondisi tersebut akan mendorong kembali dolar ke jalur penguatan. Gambaran pertumbuhan global masih belum menguntungkan bagai emerging market,” ujarnya. Read the rest of this entry

Banyak Dana Masuk RI, Sampai Level Berapa Rupiah Menguat?

Nilai tukar rupiah masih berada dalam tren penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa bulan terakhir.  Mata uang Paman Sam tersebut sempat turun sampai kisaran Rp 13.200. Berdasarkan data perdagangan Reuters, dolar AS sore ini ditutup di Rp 13.285.

Salah satu pemicunya memang datang dari kebijakan suku bunga negatif oleh Jepang dan Uni Eropa. Banyak investor yang kebingungan untuk menempatkan dananya agar tetap untung. Pasar keuangan Indonesia menjadi pilihan untuk saat ini.

Cerita ini hampir persis seperti yang terjadi pada beberapa tahun lalu. Saat AS juga memberlakukan hal yang sama. Indonesia ikut menikmati berkah, karena besarnya arus modal yang masuk membuat dolar AS turun ke level di bawah Rp 10.000.
Read the rest of this entry

Sekarang Saatnya Membeli Emas: Deutsche Bank

Harga emas saat ini masih terbilang mahal, namun meningkatnya risiko ekonomi dan gejolak pasar sebaiknya disiasati investor dengan membeli emas untuk berjaga-jaga.

“Ada kenaikan tekanan di sistem keuangan global; terutama meningkatnya risiko siklus gagal bayar korporasi AS dan risiko devaluasi tajam renminbi yang disebabkan oleh tingginya arus keluar modal China,” papar Deutsche Bank dalam catatannya, Jumat (26/2).

“Membeli emas sebagai `asuransi` sangat dianjurkan,” imbuh bank Jerman itu, seperti dikutip CNBC. Deutsche Bank berpendapat sinyal ekonomi akhir-akhir ini menunjuk ke emas sebagai safe haven.

Kendati harga emas sudah turun dari kisaran US$1.900 pada 2011, menjadi sekitar US$1.200 per ounce akhir-akhir ini, Deutsche Bank menilai harga emas masih cukup mahal. Emasa masih berada dalam peringkat komoditas paling mahal, selama 15 tahun historis perdagangan emas.

“Agak seperti asuransi, yang pembeliannya seringkali tidak disukai banyak orang, sejumlah investor kemungkinan akan menolak untuk membeli pada level harga saat ini,” ungkap Deutsche Bank.

“Kendati demikian, kami berpendapat bahwa dengan semakin banyaknya penerapan suku bunga negatif secara global, biaya kepemilikan emas kini bisa diabaikan di banyak yurisdiksi. Oleh karena itu, emas layak diperdagangkan di level yang tinggi dibandingkan banyak aset lain,” tulis Deutsche Bank

Salah satu argumen yang menolak investasi di emas adalah sifatnya yang tidak menghasilkan imbal hasil (zero-yielding). Namun dengan kondisi pemangkasan suku bunga hingga memasuki teritori negatif oleh sejumlah bank sentral – termasuk Bank Sentral Eropa, Bank of Japan, bank sentral Swedia – mengikis keuntungan dari kepemilikan dana tunai, bertolak belakang dengan emas.

Pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat, menurut Deutsche Bank, juga dapat meringankan sejumlah risiko kejatuhan harga emas.

“Risikonya sedang menurun. Emas cenderung berkinerja buruk dalam kondisi pertumbuhan global yang kuat, bukan ketika sedang banyak hambatan. Pelambatan pertumbuhan, pasti menurunkan tekanan pada emas,” Deutsche Bank menambahkan.

Sebelumnya, bank swasta terbesar Jerman itu mengekspektasikan harga emas akan jatuh ke bawah US$1.000 per ounce pada kuartal keempat tahun ini, seiring dengan meningkatnya suku bunga Federal Reserve AS. Namun, alih-alih kenaikan suku bunga hingga tiga kali pada tahun ini, Deustche Bank belakangan mengekspektasikan The Fed akan lebih lama lagi menahan kenaikan suku bunga.

Dengan memperhatikan adanya kontraksi di sektor manufaktur yang berisiko menyebar ke sektor jasa-jasa, Deutsche Bank mengantisipasi hanya akan ada sekali kenaikan The Fed rate pada 2016. Sebaliknya, Deutsche Bank menaikkan perkiraan harga emas hingga kuartal empat nanti sebesar 26 persen ke kisaran US$1.230 per ounce.

Sepanjang tahun ini, berdaarkan data BNY Mellon, harga emas sudah naik hingga 16 persen terhadap euro, 17,5 persen terhadap dolar AS, hampir 24 persen terhadap poundsterling. Bahkan dibanding yen Jepang yang tengah mengalami apresiasi terhadap dolar AS, harga emas masih nak 9 persen terhadap yen.

Deutsche Bank mencatat harga emas cenderung menguat selama kuartal pertama tahun ini. Emas diekspektasikan akan mengalami pelemahan musiman, pada kuartal kedua dan ketiga nanti. Read the rest of this entry