Blog Archives

ICBP Bukukan Kenaikan Laba 18,6%

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) [15,275 250 (+1,7%)] membukukan laba sebesar Rp944,8 miliar atau mengalami pertumbuhan sebanyak 18,6 persen dibandingkan dengan posisi Rp796,8 miliar di periode yang sama di 2015.

Perolehan laba di di kuartal I-2016 itu banyak didorong oleh kinerja penjualan netto yang mengalami pertumbuhan sebanyak 12 persen menjadi Rp8,92 triliun. Angka itu meningkat bila dibandingkan dengan penjualan di Maret 2015 yang sebesar Rp7,97 triliun.

“Kami tetap berkomitmen untuk mempercepat pertumbuhan, dan melaksanakan berbagai inisiatif organik maupun anorganik guna mendorong kinerja yang baik,” kata Direktur Utama & CEO Indofood Sukses Makmur Anthoni Salim, dalam siaran persnya, di Jakarta, Jumat (29/4/2016).

Selain itu, kinerja laba usaha tumbuh 31,9 persen menjadi Rp1,31 triliun di kuartal I-2016 dibandingkan dengan posisi Rp1,01 triliun di kuartal I-2015. Sementara itu, porsi marjin laba usaha naik jadi 14,9 persen dari 12,7 persen. Sedangkan core profit meningkat 24,1 persen dari Rp781,45 miliar di Maret 2016 menjadi Rp969,5 miliar di Maret 2015.

“Kami akan terus mendorong budaya inovasi agar dapat secara dinamis memenuhi konsumen yang beragam, dan mempercepat pertumbuhan,” kata Anthoni.

Lebih lanjut, porsi penjualan di kuartal I-2016 banyak disumbang dari divisi mie instan, dairy, makanan ringan, penyedap makanan, nutrisi & makanan khusus dan minuman, masing-masing 66 persen, 19 persen, enam persen, dua persen, dua persen, dan lima persen. Read the rest of this entry

Advertisements

Ini Penyebab Maraknya Aksi Beli Asing di Bursa Saham Indonesia

Meskipun banyak investor bersikap waspada terhadap bursa saham emerging market belakangan ini, namun tak sedikit pemburu saham global yang terpikat oleh kinerja bursa saham Indonesia. Kepercayaan investor asing terhadap pemerintah dan daya tarik potensi perekonomian Indonesia semakin meningkat.

“Untuk tahun 2016 Indonesia bisa beranjak menjadi bagaimana seharusnya India pada 2015,” kata Herald van der Linde, ahli strategi ekuitas Asia, di HSBC, seperti dikutip Financial Times, (9/3).

Sepanjang tahun ini, indeks harga saham acuan bursa Indonesia, IHSG, sudah memberikan gain hingga 4,8 persen, atau 9,7 persen dalam hitungan dolar. Masuk dalam jajaran 10 bursa saham bekerja terbaik di dunia.

Kenaikan tersebut terjadi di tengah kecenderungan pelemahan di bursa saham Asia yang terbebani oleh kekhawatiran akan ekonomi China. Indeks MSCI Asia – tidak termasuk Jepang – turun 4 persen sejak awal tahun ini, tak jauh berbeda dengan bursa saham negara maju.

Penguatan bursa saham Indonesia, terjadi setelah mengalami turbulensi tahun lalu ketika kejatuhan harga komoditas menyeret turun pertumbuhan ekonomi ke bawah 5 persen, dan mata uang rupiah anjlok terhadap dolar. Namun dukungan reformasi kebijakan ekonomi pemerintahan Joko Widodo, menurut para analis, mampu menyegarkan kembali perekonomian untuk mendorong pertumbuhan.

“Pada dasarnya, orang berpendapat bahwa langkah-langkah tersebut akan dapat dikerjakan – dan semua itu akan mendorong pertumbuhan,” kata David Mann, kepala ekonom Asia, Standard Chartered. “Di seluruh kawasan, negara-negara yang terlihat lebih baik dalam melakukan apa yang telah diucapkan, akan mendapatkan perhatian pasar,” imbuhnya.

Sejauh ini pemerintahan Jokowi telah menggulirkan sederet paket stimulus, memberantas pungutan liar, dan menggencarkan pembangunan sejumlah proyek infrastruktur. Kenaikan belanja negara sebesar 7,3 persen diharapkan akan mendongkrak pertumbuhan hingga ke atas 5 persen pada akhir kuartal ini.

“Saat ini, semua orang bersikap bullish terhadap Indonesia,” kata Jehanzeb Naseer, di Credit Suisse. “Perubahan yang terjadi sejak tahun lalu adalah belanja pemerintah banyak meningkat, dan menjadi perangsang pertumbuhan,” Naseer menambahkan.

Analis mengatakan, proporsi terbesar dari kenaikan IHSG dirasakan di sektor konsumer karena proyek-proyek konstruksi besar menciptakan lapangan kerja bagi pekerja kasar, mendorong permintaan akan produk konsumsi dasar seperti rokok, makanan kecil, dan pulsa telepon.

“Anda harus masuk sejauh mungkin ke pasar-pasar sebagai taktik untuk menarik masyarakat Indonesia, karena itulah yang dilakukan Jokowi,” kata Harry Su, kepala riset Bahana Securities. “Jokowi mendapat dukungan dari banyak orang di lapisan bawah dengan penciptaan kerja melalui proyek-proyek infrastruktur,” lanjutnya.

Kondisi tersebut tercermin pada kenaikan harga saham-saham rokok dan makanan di bursa saham Indonesia, seperti HM Sampoerna [HMSP 102,400 900 (+0,9%)] dan Indofood [INDF 7,425 125 (+1,7%)]. Kenaikan juga terjadi pada harga saham media yang ikut menangguk keuntungan dari kenaikan belanja iklan perusahaan produk konsumsi, seperti Media Nusantara Citra [MNCN 1,980 80 (+4,2%)].

Selain kebijakan fiskal yang ekspansif, melambatnya inflasi dan prospek penurunan suku bunga juga menjadi pendorong minat investor. Bank Indonesia telah memangkas suku bunga acuan menjadi 7 persen dari 7,5 persen pada awal tahun ini. Bahana Securities memperkirakan, BI akan kembali memangkas suku bunga pada bulan-bulan mendatang menjadi 6,25 persen pada akhir tahun nanti.

Namun penurunan suku bunga acuan BI dinilai tak akan menguntungkan saham-saham keuangan, karena akan menekan net interest marjin perbankan. Harga saham sejumlah bank besar, seperti Bank Rakyat Indonesia [BBRI 11,175 50 (+0,4%)], Bank Mandiri [BMRI 10,175 25 (+0,2%)], dan Bank BCA [BBCA 13,500 50 (+0,4%)], mulai bergreak turun. Read the rest of this entry

Ada peluang di saham bagus berharga murah

Saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun, yang harus diingat adalah buy on weakness. Membeli ketika turun dan bukan sebaliknya. Kalau kita panik dan ikut menjual saham ketika pasar turun, kemudian pasar berbalik arah, kita akan rugi. Demikian nasihat investor kenamaan Lo Kheng Hong kala berbincang dengan Tabloid KONTAN, Selasa, 5 Mei 2015 lalu.

Lo yakin, ketika IHSG turun, suatu hari nanti akan kembali naik, bahkan kenaikannya lebih tinggi dari IHSG sebelumnya. Buktinya, posisi IHSG saat ini jauh lebih tinggi dari sebelum krisis 1998 dan 2008.

Yang menjadi pekerjaan rumah (PR) investor adalah menemukan emiten berkinerja baik dan bertumbuh namun harga sahamnya murah, lepas dari kondisi pasar tengah naik atau turun. “Saya membeli saham dalam kondisi saya tidak tahu pasar akan naik atau turun,” ujar Lo, yang mendapat julukan Warren Buffett Indonesia itu.

PR untuk menemukan dan berinvestasi di saham-saham bagus berharga murah sejatinya menjadi kepentingan setiap investor, bukan cuma Lo.

Repotnya, ketika IHSG berada dalam tekanan seperti saat ini, banyak saham yang harganya sudah terbanting namun tidak semua memiliki fundamental bisnis bagus dan kinerja terus bertumbuh.

Setiap orang tentu punya cara pandang yang berbeda-beda soal bagus tidaknya sebuah saham. Tabloid KONTAN mencoba menyodorkan beberapa saham pilihan dengan fundamental bagus dan berharga murah. Sudah pasti, pilihan investasi tetap di tangan Anda.
• Consumer goods

Selama ini sektor consumer goods dianggap sebagai salah satu tembok pertahanan terbaik di bursa saham. Sifat defensif ini berkat sokongan konsumsi domestik yang tinggi.

Namun, daya beli masyarakat kini sudah banyak tergerus.  Buktinya, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dibuat berdasar survei Bank Indonesia. Pada empat bulan pertama 2015, meski masih di atas level 100, IKK terus merosot. Per April, IKK hanya 107,4 turun 9,5 poin ketimbang Maret 2015.

Faktor lainnya, bahan baku impor, seperti gandum yang menjadi komponen utama banyak produk konsumsi, harus ditebus lebih mahal akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Kombinasi dua faktor inilah yang membuat kinerja sebagian emiten barang konsumsi di bursa saham di kuartal I–2015 tak sejalan dengan ekspektasi para analis.

Nama-nama besar seperti PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mengalami penurunan laba bersih yang cukup signifikan, masing-masing 37% (year-on-year/yoy) dan 9,5%. Namun emiten primadona lainnya, seperti UNVR dan ROTI memperlihatkan kinerja yang kinclong. Misalnya, laba bersih ROTI yang naik 9,6% menjadi Rp 67,12 miliar.

Steven Satya Yudha, Associate Director Marketing and Distribution Ashmore Asset Management Indonesia, tak terlalu tertarik dengan sektor defensif macam consumer goods. Salah satu alasannya, kebijakan pencabutan subsidi meski bagus untuk sektor infrastruktur, tapi tidak mendukung sektor konsumsi.

Namun, Harry Su, Kepala Riset Bahana Sekuritas, menilai, sektor barang konsumsi masih punya potensi pertumbuhan yang bagus di masa depan. Jika disimak, konsumsi rumahtangga memang masih jadi penyumbang terbesar produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Bermodal jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia, posisinya juga belum akan tergantikan dalam tempo beberapa tahun mendatang.

Harry merekomendasikan beberapa saham yang bisa dicermati, di antaranya PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dengan target harga 2015 di Rp  48.500 per saham. Reza Nugraha, analis MNC Securities, merekomendasikan posisi beli UNVR di Rp 44.900 per saham.

Kepala Riset Mandiri Sekuritas John Rachmat juga merekomendasikan saham UNVR. Rekomendasi posisi masuk ke saham ini secara teknikal di 40.000–41.000. Pada penutupan perdagangan Kamis (7/5), UNVR ditutup turun 3,93% ke Rp 43.400 per saham.

Mandiri juga merekomendasikan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dengan target harga Rp 16.800 per saham. Pintu masuk ke saham ICBP bisa di 13.000–13.300. Sementara Harry memproyeksikan target harga di Rp 18.200 per saham. Pada perdagangan Kamis, ICBP naik 1,65% ke Rp 13.900 per saham.

Sementara Henan Putihrai Sekuritas menjagokan saham PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) dengan target harga Rp 1.600 per saham. Nah, jika ingin mengoleksi saham perusahaan roti massal terbesar di Indonesia ini, analis Henan Putihrai, Boy Ariandi, menyarankan posisi beli di 1.160–1.140.

Bahana Sekuritas merekomendasikan target harga Rp 1.750 per saham. Posisi beli, kata Reza, disarankan di Rp 1.300 per saham. Kamis, selembar saham ROTI ditutup turun 1,28% di Rp 1.155 per saham.
• Perbankan

Kinerja emiten sektor perbankan di kuartal I–2015 memang tidak menggembirakan. Pertumbuhan laba bersih rata-rata perbankan lebih lambat ketimbang sebelumnya, hanya satu digit. Ambil contoh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang labanya cuma naik 3,52% menjadi Rp 6,14 triliun  dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang untung bersihnya cuma naik 4,34% jadi Rp 5,13 triliun.

Namun, Kepala Riset Universal Broker Satrio Utomo menilai perbankan menjadi salah satu sektor yang paling cepat pulih jika ada perbaikan ekonomi. “Ketika kembali ke bursa saham lokal, para investor asing biasa melihat sektor bank dulu,” kata Tommy, sapaan akrabnya.

Dari jajaran bank kelas menengah,  Irwan Ariston Napitupulu menyebut PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) layak dicermati. Di kuartal I–2015, laba BBTN naik 18% menjadi Rp 402 miliar.

Nah, investor saham kawakan ini menilai, target pertumbuhan laba bersih BBTN 40% sepanjang tahun ini bisa tercapai. Salah satunya lewat program satu juta rumah yang dicanangkan pemerintah. “Harga Rp 1.500 per saham–Rp 2.000 per saham di akhir tahun enggak sulit tercapai,” katanya. Kamis, harga BBTN turun 0,45% ke Rp 1.110 per saham.

Sementara Muhammad Al Fatih, analis Samuel Sekuritas, menyebut saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menarik dicermati. Secara teknikal, level support  kuat BMRI ada di 10.950. Sementara resistance di 11.775. “Harga ideal untuk membeli saham berada pada level 10.700–10.900,” kata Al Fatih. Pada perdagangan 7 Mei, saham BMRI turun 2,97% ke 11,175.

Analis Danpac Sekuritas Teuku Hendry Andrean mematok target harga BMRI di Rp 13.600 per saham. Cuma, ia tidak merekomendasikan level harga yang bisa menjadi titik masuk bagi investor. “Tren akan terus cenderung menurun, sehingga ketika melakukan akumulasi harus hati-hati karena sangat rawan,” terangnya.

Untuk masuk ke saham perbankan, investor sebaiknya memang berhati-hati.

Toga Yasin Panjaitan, analis Bumiputera Sekuritas, mengingatkan, jika The Federal Reserve (The Fed) jadi menaikkan suku bunga, saham-saham perbankan bisa mengalami koreksi signifikan. “Tunggu sampai tanggal 21 Mei saat Amerika kasih keputusan,” ujar Toga.
• Jasa konstruksi

Pada era pemerintahan Joko Widodo (Jokowi), ekspektasi investor terhadap emiten jasa konstruksi melambung, terutama sejak anggaran subsidi dialihkan untuk pembangunan infrastruktur. Namun kenyataannya, pengerjaan proyek-proyek infrastruktur tidak berjalan cepat. Saat ini, sekitar 80% kontrak proyek sudah diteken, namun banyak di antaranya yang masih terkendala masalah pembebasan lahan.

Tak aneh jika harapan tinggi investor tidak sejalan dengan hasil kinerja emiten jasa konstruksi, terutama pelat merah pada kuartal I–2015.

Laba bersih PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) longsor 63,2% (yoy) jadi tinggal Rp 61,5 miliar. Sementara untung bersih PT Adhi Karya Tbk (ADHI) anjlok 34,5% menjadi Rp 10,6 miliar. Hanya saja, dalam tempo yang sama, laba bersih PT PP Tbk (PTPP)  justru melonjak 52% menjadi  Rp 93,6 miliar.

Kini, investor tengah menanti apakah proyek-proyek infrastruktur pemerintah bisa segera berjalan pada kuartal II. Soalnya, kalau proyek infrastruktur baru akan digelar mulai kuartal III, dikuatirkan anggaran yang sedemikian besar, mencapai Rp 290,3 triliun, tidak terserap sepenuhnya. “Setelah melihat kuartal I, investor jadi ragu apakah dana infrastruktur segitu bisa digunakan sebagai spending 100%,” kata Steven.

Namun Irwan sedikit lebih optimistis. Menurutnya, dalam kondisi ekonomi sulit seperti sekarang, belanja pemerintah akan menjadi trigger bagi pertumbuhan. “Arah belanjanya sudah terlihat ke infrastruktur. Perusahaan yang banyak menikmati pasti BUMN,” kata Irwan.

Jika sesuai rencana, ada harapan saham-saham di sektor jasa konstruksi bakal segera kembali melambung. Toga Yasin Panjaitan, analis Bumiputera Sekuritas, merekomendasikan posisi beli ADHI di 2.750–2.815. Berdasar data Bloomberg, analis Danareksa Joko Soegi merekomendasikan target harga ADHI di Rp 3.700 per saham. Perdagangan Kamis, saham ADHI naik 0,89% ke Rp 2.825 per saham.

Sementara, analis teknikal Sucorinvest Central Gani, Achmad Yaki, menyarankan buy on weakness WSKT di 1.305–1.875. Ia mematok target harga WSKT di 2.100. Kamis (7/5) WSKT ditutup di Rp 1.775 per saham.

Untuk emiten swasta, analis Henan Putihrai, Johanes, merekomendasikan PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) dengan target harga 12 bulan di Rp 1.600  per saham. Kontrak baru yang dikantongi NRCA pada kuartal I 2015 mencapai Rp 1,5 triliun. Sementara sepanjang tahun ini target kontrak baru mereka Rp 4,1 triliun. “NRCA speculative buying jika di atas harga Rp 1.045 per saham,” tambah Boy. Pada 7 Mei lalu NRCA ditutup naik 2,90% ke Rp 1.065 per saham.

Mau ikutan koleksi?

Sumber : kontan.co.id

http://belajar-cara-membuat-website.blogspot.com/
http://ide-peluang-bisnis.blogspot.com/p/jasa-pembukuan.html

Ini Daftar Laba 41 Emiten Bluechips LQ-45

Laba bersih emiten yang tergabung dalam indeks LQ-45 pada kuartal I/2015 jeblok alias turun 5,15% dengan pendapatan hanya tumbuh 2,57% pada periode yang sama. Simak daftar lengkapnya.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis.com, sebanyak 41 emiten LQ-45 telah mengumumkan laporan keuangan kuartal I/2015.

Sedangkan, empat emiten yang belum merilis kinerja adalah PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE), PT Excel Axiata Tbk. (EXCL), PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG), dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG).

Dari 41 emiten tersebut, sebanyak 40 emiten membukukan laba bersih dengan total Rp42,64 triliun pada periode Januari-Maret 2015, dibandingkan dengan tahun lalu Rp44,96 triliun. Read the rest of this entry

Waspadai Saham-saham Ini Jika Harga BBM Subsidi Jadi Naik

Inflasi bulan Agustus diperkirakan melanjutkan trend lambat mengingat situasi agak tenang pasca musim liburan sebagaimana pula ekspektasi konsensus inflasi sebesar 0,42% (MoM) dan 4,01% (YoY) versus inflasi Juli 0,93% (MoM) dan 4,53% (YoY).

Sementara itu neraca perdagangan diperkirakan berlanjut lesu selama Juli sebagaimana ekspektasi defisit yang berlanjut sebesa 406 juta USD versus defisit bulan Juni sebesar 305 juta USD.

Hal ini tampaknya menjadi sesuai dengan estimasi Bank Indonesia yang memperkirakan defisit current account (CA) di kuartal terakhir tetap tinggi sekitar 8 miliar USD di kuartal III/3Q14) versus 2Q sebesar 9 miliar USD dan pada 1Q senilai 4 miliar USD dan sebesar 6 miliar USD pada 4Q.

“Jika hal ini terbukti akurat, ini akan mengantarkan defisit CA sekitar 27 miliar USD di tahun 2014,” demikian menurut PT Indo Premier Securities dalam risetnya, Senin (1/9). Defisit CA 2013 senilai 29 miliar USD. Data CA tersebut hanya akan menjadi kenaikan yang marjinal menjadi 3,2% terhadap GDP di tahun 2014 versus 3,3% di tahun 2013.

Menurut Indo Premier, kini pasar fokus pada implikasi rencana Joko Widodo untuk menaikkan harga BBM subsidi yang diperkirakan pada Nopember mendatang. Presiden terpilih tersebut mengindikasikan alokasi belanja APBN pada pos subsidi BBM kepada pembiayaan program populisnya. Kenaikan BBM subsidi antara Rp 500 – Rp3.000 per liter diterapkan secara bertahap. “Kami perkirakan paling mungkin harga BBM subsidi akan naik Rp1.500 per liter (naik 23%),” tulis Indo Premier.

Pemerintah memperkirakan tiap kenaikan harga BBM subsidi sebesar Rp500 per liter berdampak pada kenaikan CPI inflasi 0,6%. Ini berarti potensi kenaikan inflasi 1,8 ppt di bawah skenario ini yang berpotensi mendongkrak inflasi akhir tahun 7% di tahun 2014 versus tahun 2013 sebesar 8,38% berdasarkan ekspektasi konsensus inflasi pra kenaikan BBM subsidi saat ini sebesar 5,1%. Dengan demikian BI diperkirakan akan mempertahankan BI rate di level 7,5%. Menurut Indo Premier, kenaikan harga BBM subsidi berdampak positif terhadap keberhasilan neraca fiskal dan neraca eksternal secara berkelanjutan.

Kinerja Emiten
Meskipun kenaikan harga BBM subsidi berdampak positif terhadap makroekonomi Indonesia, pasar akan fokus pada dampak negatif terhadap laba emiten dibanding perbaikan makro ekonomi. Dampak terhadap laba emiten akan tercermin tahun depan.

Diperkirakan dampak negatif kenaikan harga BBM subsidi pada sebagian besar sektor dan emiten di Indonesia di berbagai tingkatan. Dampak yang terasa pada laba karena kenaikan inflasi/kenaikan harga, biaya/margin karena naiknya biaya transportasi/logistik/energi atau karena faktor keduanya. Transportasi, otomotif, semen, konsumer sebagai berpotensi sensitif terhadap kenaikan harga BBM.

Sementara sektor lainnya seperti banking, komoditas, telekomunikasi, utility (distribusi gas, jalan tol) dan properti/konstruksi akan netral terhadap kenaikan harga BBM dengan asumsi tidak ada kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Di sektor konsumer, emiten dengan harga yang kuat, merek terkenal dan atau karena elastis terhadap demand akan kurang terkena dampak negatif kenaikan harga BBM subsidi. Sedangkan emiten dengan target market low-end seperti ritel low-end dan produsen dengan bahan baku massal mungkin akan terkena dampak negatif dengan adanya kenaikan inflasi akibat kenaikan harga BBM.

Indo Premier menyarankan pasar fokus pada dampak potensi kenaikan harga BBM pada saham transportasi seperti Express Transindo [TAXI 1,320 10 (+0,8%)] (rekomendasi Buy), produsen otomotif Astra International [ASII 7,625 50 (+0,7%)] (Buy) dan juga saham-saham semen seperti Semen Indonesia [SMGR 16,250 25 (+0,2%)] (Buy) dan Indocement Tunggal Prakarsa [INTP 24,125 -125 (-0,5%)] (Buy).

Sektor consumer, Indofood CBP [ICBP 10,900 400 (+3,8%)] (Hold), Ramayana [RALS 1,020 25 (+2,5%)] dan Mayora Indah [MYOR 30,875 250 (+0,8%)] relatif paling rentan terhadap rencana kenaikan harga BBM subsidi.
Read the rest of this entry

Musim Berbelanja Bagi Grup Salim

Grup Salim benar-benar sedang gila belanja. Kini, hampir tiap bulan kita disodori kabar tentang akuisisi yang dilakukan oleh konglomerasi bisnis ini.

Catatan KONTAN, sejak awal tahun ini sampai dengan November 2013, Grup Salim sudah menghabiskan nyaris Rp 25 triliun. Dana tersebut untuk membiayai akuisisi dan ekspansi bisnis, mulai dari bisnis makanan dan minuman, hingga sektor otomotif.

Yang terbaru, anak usaha Grup Salim, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) membentuk perusahaan patungan dengan JC Comsa Corp asal Jepang.  Rencananya, perusahaan ini akan berdiri Januari 2014. Elly Putranti, Sekretaris Perusahaan ICBP, menyatakan, ICBP memegang 51% saham di perusahaan
patungan tersebut.

Read the rest of this entry

Tertinggi, Level Return Emiten Berbasis Konsumer Dan Properti Di Indeks LQ-45

Tingkat imbal hasil emiten berbasis konsumsi masyarakat dan properti tercatat paling tinggi dibandingkan sektor lain di indeks LQ-45. Ketidakpastian ekonomi global membuat investor banyak mengalihkan portofolio investasinya dengan mengoleksi saham berbasis konsumer dan properti yang lini bisnisnya berorientasi dalam negeri.

Berdasarkan data Bloomberg seperti diolah Ipotnews, saham berbasis konsumsi masyarakat seperti PT Malindo Feedmill Tbk [MAIN 3,200 -50 (-1,5%)], PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk [ICBP 10,900 -600 (-5,2%)], dan PT Kalbe Farma Tbk [KLBF 1,380 -10 (-0,7%)] tercatat memiliki tingkat imbal hasil tertinggi dalam satu tahun dibandingkan saham berbasis lainnya seperti komoditas.

Selain itu saham berbasis properti dan sarana pendukungnya seperti PT Lippo Karawaci Tbk [LPKR 1,350 -30 (-2,2%)], PT Bumi Serpong Damai Tbk [BSDE 1,690 -20 (-1,2%)], PT Alam Sutera Realty Tbk [ASRI 690 -20 (-2,8%)], PT Semen Indonesia (Persero) Tbk [SMGR 15,650 -350 (-2,2%)], dan PT Surya Semesta Internusa Tbk [SSIA 1,150 -40 (-3,4%)] juga memiliki tingkat imbal hasil yang cukup tinggi.
Read the rest of this entry

Indofood Bagi Dividen Tunai Rp169 Per Saham

Induk usaha Grup Salim PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) [4,900 25 (+0,5%)] membagikan dividen tunai sebesar Rp169 per saham atau total sebesar Rp1,4 triliun.

Jumlah tersebut setara dengan 50% dari total laba bersih yang diperoleh perseroan sepanjang 2011 sebesar Rp3,08 triliun.

Keputusan tersebut telah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) yang diselenggarakan pada hari ini, 11 Mei 2012.

Dalam kesempatan yang sama, pemegang saham anak usaha perseroan yakni PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk juga menyetujui pembagian dividen tahun buku 2011 sebesar Rp175 per saham atau total Rp1,02 triliun.
Read the rest of this entry

Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP) 25 Februari 2011

Setelah tertinggal cukup jauh dari induk perusahaannya yaitu INDF, akhirnya saham ICBP dapat mengejar ketinggalannya dan ditutup diatas garis MA20 yaitu di level 4.650.

Indikator Stochastic masih menunjukkan trend penguatan dan MACD telah golden cross, sehingga tantangan berikutnya adalah menuju resisten kuat di level 4.850.

S : 4.350 — R : 4.850

Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP) 04 Januari 2011

Saham ICBP mempunyai fundamental yang bagus, didukung oleh pembelian kembali (Buy Back) oleh induk perusahaannya yaitu INDF membuat saham ini berbalik arah dan melejit naik. Setelah melewati resisten di level 4.775 maka langsung membuat kenaikan spektakuler +5,2%. Bila dapat mempertahankan momentum reversal ini maka akan berpotensi menuju harga perdana IPO kembali.

S : 4.700 — R : 5.200