Blog Archives

Penjualan semen mulai semakin kokoh

Penjualan semen yang lesu mulai menggeliat, setelah proyek infrastruktur pemerintah mulai berjalan. Meski demikian, efek negatif kondisi oversupply dan pelemahan nilai tukar rupiah masih mewarnai bisnis semen tahun ini. Titik terang membaiknya penjualan bubuk abu-abu terlihat dari kenaikan permintaan pada Agustus 2015.

Menurut Asosiasi Semen Indonesia (ASI), Agustus tahun ini permintaan semen naik 14,7% dibandingkan Agustus tahun lalu menjadi 5,34 juta ton. Widodo Santoso, Ketua Asosiasi Semen Indonesia, mengatakan, kenaikan permintaan bulan Agustus merupakan indikasi bergeraknya pembangunan infrastruktur dan perumahan atau apartemen. Hal ini juga terkait cairnya dana-dana proyek.

Tapi jangan happy dulu. Sebab kondisi oversupply semen masih terjadi. Namun Reza Priyambada Kepala Riset NH Korindo Securities, mengatakan, dibandingkan kuartal II, kondisi oversupply sudah tereduksi. Read the rest of this entry

Advertisements

Ini Daftar Laba 41 Emiten Bluechips LQ-45

Laba bersih emiten yang tergabung dalam indeks LQ-45 pada kuartal I/2015 jeblok alias turun 5,15% dengan pendapatan hanya tumbuh 2,57% pada periode yang sama. Simak daftar lengkapnya.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis.com, sebanyak 41 emiten LQ-45 telah mengumumkan laporan keuangan kuartal I/2015.

Sedangkan, empat emiten yang belum merilis kinerja adalah PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE), PT Excel Axiata Tbk. (EXCL), PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG), dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG).

Dari 41 emiten tersebut, sebanyak 40 emiten membukukan laba bersih dengan total Rp42,64 triliun pada periode Januari-Maret 2015, dibandingkan dengan tahun lalu Rp44,96 triliun. Read the rest of this entry

Tahun Ini Marjin Emiten Semen Diperkirakan Tergerus 3%

Awal Januari 2015 pemerintah mengumumkan harga jual semen turun Rp3000 per sak. Sebagai akibatnya PT Semen Indonesia Tbk [SMGR 13,650 0 (+0,0%)] dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk [INTP 21,925 0 (+0,0%)] menurunkan harga jual produk masing-masing 5% dan 4% di awal tahun 2015.

Intervensi pemerintah tersebut diyakini terutama karena kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga BBM pada awal Desember 2014. “Dengan inflasi yang terkontrol, diperkirakan tidak akan ada lagi intervensi pemerintah lebih lanjut. Diperkirakan produsen semen akan menikmati lagi kekuatan harga di tahun ini,” kata analis Indo Premier Securities Chandr Pasaribu dalam riset yang dipublikasikan baru-baru ini.

Meskipun harga jual turun, produsen semen dapat menghindari penciutan marjin berdasarkan manfaat penurunan biaya energi. Biaya energi, batu bara dan listrik dihitung sekitar 30%-35% dari biaya jual produk.

Harga patokan batu bara dan tarif listrik turun masing-masing 1,6% dan 2,7% (QoQ). Tarif listrik tidak mendapat subsidi dan akan fluktuatif bersamaan dengan harga minyak, nilai tukar dan inflasi.

Biaya Logistik
Diperkirakan terjadi pengurangan biaya logistik karena turunnya harga bbm subsidi dan non subsidi. Sebagian logistik diangkut dengan BBM subsidi, khususnya transportasi darat. Sementara transportasi laut memakai BBM non subsidi.

Subsidi BBM mesin diesel (high speed diesel/HSD) turun 12,3% (QoQ) menjadi Rp11.338 per liter per Maret 2015. Sedangkan BBM non subsidi bagi HSD turun 3,2% (QoQ) menjadi Rp6.400 per liter. Biaya transportasi dihitung sekitar 15%-17% dari total biaya. Penurunan harga BBM subsidi dan non subsidi akan melonggarkan tekanan terhadap marjin.

Faktor Volume
Industri semen sudah menikmati marjin tinggi paa beberapa tahun terakhir seiring keseimbangan suplai and demand. Saat ini sebagian besar pabrikan semen telah menambah kapasitas. Tingkat Kapasitas terpasang industri yang sehat 80% sampai 85%. Namun hal ini akan mengenyahkan kekuatan harga yang dinikmati oleh pabrikan semen dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan marjin yang relatif sudah normal, industri semen di Indonesia akan kurang menarik bagi pemain baru, jadi menciptakan keseimbangan yang berkelanjutan bagi industri semen. Namun demikian, ini berarti bawah pertumbuhan produsen semen akan tergantung pada volume daripada pertumbuhan marjin.

“Kami perkirakan perimintaan terhadap semen tumbuh 5,5% di tahun 2015 dan kemudian naik 10% di tahun 2016 dengan asumsi investasi di sektor infrastruktur membaik. Diperkirakan marjin emiten semen akan melemah 2% hingga 3% di tahun ini,” kata Chandra. (mk)Â

Read the rest of this entry

Inilah Target Harga Saham SMGR dan INTP 2015

Capital gain saham-saham di sektor semen khususnya saham SMGR dan INTP diprediksi potensial tumbuh 20% untuk 2015. Karena itu, rekomendasi beli untuk target tahun ini.

Pada perdagangan Jumat (2/1/2015) saham PT Semen Indonesia (SMGR) ditutup stagnan di Rp16.200 per saham dan saham PT Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) ditutup turun Rp200 (0,8%) ke Rp24.800 per saham.

Pengamat pasar modal John Veter mengaku optimistis untuk saham-saham di sektor semen pada 2015. “Saya optimistis, potensi IHSG, saham-saham konstruksi, dan saham-saham semen memang cukup baik,” katanya kepada INILAHCOM di Jakarta, akhir pekan ini.

Untuk sektor semen, saya perkirakan masih ada potensi penguatan hingga 20% untuk 2015. “Saham PT Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) masih potensial naik ke Rp28.000 per saham. Lalu, PT Semen Indonesia (SMGR) masih berpotensi menguat ke Rp20.000-21.000,” ujarnya.

Sementara itu, untuk saham PT Holcim Indonesia (SMCB), Veter mengaku tidak mencermatinya. “Sebab, di antara saham-saham semen yang menarik adalah hanya SMGR dan INTP. SMCB dan PT Semen Baturaja (SMBR), tidak terlalu menarik karena laporan keuangannya tidak bagus,” timpal dia.

SMBR, dia menjelaskan, memang masih kecil dari sisi pertumbuhannya dan merupakan emiten BUMN. “Akan tetapi, sejak lama SMBR memang kecil, enggak gede-gede, sehingga untuk sahamnya, saya tidak mencermatinya,” ucap dia.

Katalis di sektor semen, dia menegaskan, masih berasal dari pengeluaran pemerintah. “Sebab, APBN 2015, pengeluaran pemerintah untuk infrastruktur naik dari Rp200-an triliun menjadi Rp400 triliun. Karena itu, target IHSG 2015 adalah 6.250 yang ditopang oleh saham-saham konstruksi dan semen,” papar dia.

Soal Produk Domestik Bruto (PDB), dengan pengeluaran pemerintah untuk infrastruktur bukan untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, seharusnya PDB 2015, menurut dia, bisa tumbuh lebih cepat dibandingkan 2014.

Jadi, pengeluaran untuk konstruksi justru menjadi sumber pertumbuhan ekonomi. “Saya rekomendasikan beli saham SMGR dan INTP untuk investasi jangka panjang dengan target full year 2015 yang saya sebutkan tadi,” imbuhnya.

Read the rest of this entry

Harga BBM Naik, Beli Saham-saham Ini

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dinilai jadi katalis positif bagi penguatan pasar saham Indonesia. Banyak saham direkomendasikan beli.

Gema Goeyardi, pendiri PT Astronacci Internasional mengatakan, venus memasuki zodiac baru pada 17 November 2014 kemarin dan Dua siklus astrologi Sun Square Jupiter dan Mars Square Uranus yang terjadi minggu lalu akan memberikan dampak bullish continuation pada IHSG.

“Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi sebanyak Rp2.000 untuk premium dan solar akan menjadi katalis positif penguatan pasar saham Indonesia yang secara bersamaan pola harga pada IHSG telah siap naik lebih tinggi pasca mengalami konsolidasi kecil,” katanya kepada INILAHCOM di Jakarta, Selasa (18/11/2014).

Selasa menurut Gema, akan menjadi the confirmation day untuk pergerakan IHSG ke depan. Break out pada 17 November 2014 seharusnya disertai dengan penguatan lanjutan mencapai target harga terdekat di level 5.124 menutup area gap 1 Oktober 2014.

Bayang-bayang negatif dari ekonomi Jepang yang mengalami technical recession di kuartal ke 3 sehingga membuat indeks Nikkei terjatuh dalam, akan menjadi penghambat indeks naik secara agresif dalam minggu ini. “Oleh karena itu, bullish pendek IHSG terbatas hingga 5.180,” tuturnya.

Dari perspektif pasar AS, kenaikan Dow Jones diperkirakan hingga 17.800 dan 18.200. Anda tetap aman untuk trading hingga 20 November 2014 menyambut New Moon dan effect dari Sun Conjunction Saturn. “Selama IHSG tidak turun dari 4.900 maka bullish jangka menengah tetap akan bertahan di pasar,” imbuhnya.

Di atas semua itu, Gema menyodorkan strategi trading. Berikut ini rincian penjelasannya:

Read the rest of this entry

Waspadai Saham-saham Ini Jika Harga BBM Subsidi Jadi Naik

Inflasi bulan Agustus diperkirakan melanjutkan trend lambat mengingat situasi agak tenang pasca musim liburan sebagaimana pula ekspektasi konsensus inflasi sebesar 0,42% (MoM) dan 4,01% (YoY) versus inflasi Juli 0,93% (MoM) dan 4,53% (YoY).

Sementara itu neraca perdagangan diperkirakan berlanjut lesu selama Juli sebagaimana ekspektasi defisit yang berlanjut sebesa 406 juta USD versus defisit bulan Juni sebesar 305 juta USD.

Hal ini tampaknya menjadi sesuai dengan estimasi Bank Indonesia yang memperkirakan defisit current account (CA) di kuartal terakhir tetap tinggi sekitar 8 miliar USD di kuartal III/3Q14) versus 2Q sebesar 9 miliar USD dan pada 1Q senilai 4 miliar USD dan sebesar 6 miliar USD pada 4Q.

“Jika hal ini terbukti akurat, ini akan mengantarkan defisit CA sekitar 27 miliar USD di tahun 2014,” demikian menurut PT Indo Premier Securities dalam risetnya, Senin (1/9). Defisit CA 2013 senilai 29 miliar USD. Data CA tersebut hanya akan menjadi kenaikan yang marjinal menjadi 3,2% terhadap GDP di tahun 2014 versus 3,3% di tahun 2013.

Menurut Indo Premier, kini pasar fokus pada implikasi rencana Joko Widodo untuk menaikkan harga BBM subsidi yang diperkirakan pada Nopember mendatang. Presiden terpilih tersebut mengindikasikan alokasi belanja APBN pada pos subsidi BBM kepada pembiayaan program populisnya. Kenaikan BBM subsidi antara Rp 500 – Rp3.000 per liter diterapkan secara bertahap. “Kami perkirakan paling mungkin harga BBM subsidi akan naik Rp1.500 per liter (naik 23%),” tulis Indo Premier.

Pemerintah memperkirakan tiap kenaikan harga BBM subsidi sebesar Rp500 per liter berdampak pada kenaikan CPI inflasi 0,6%. Ini berarti potensi kenaikan inflasi 1,8 ppt di bawah skenario ini yang berpotensi mendongkrak inflasi akhir tahun 7% di tahun 2014 versus tahun 2013 sebesar 8,38% berdasarkan ekspektasi konsensus inflasi pra kenaikan BBM subsidi saat ini sebesar 5,1%. Dengan demikian BI diperkirakan akan mempertahankan BI rate di level 7,5%. Menurut Indo Premier, kenaikan harga BBM subsidi berdampak positif terhadap keberhasilan neraca fiskal dan neraca eksternal secara berkelanjutan.

Kinerja Emiten
Meskipun kenaikan harga BBM subsidi berdampak positif terhadap makroekonomi Indonesia, pasar akan fokus pada dampak negatif terhadap laba emiten dibanding perbaikan makro ekonomi. Dampak terhadap laba emiten akan tercermin tahun depan.

Diperkirakan dampak negatif kenaikan harga BBM subsidi pada sebagian besar sektor dan emiten di Indonesia di berbagai tingkatan. Dampak yang terasa pada laba karena kenaikan inflasi/kenaikan harga, biaya/margin karena naiknya biaya transportasi/logistik/energi atau karena faktor keduanya. Transportasi, otomotif, semen, konsumer sebagai berpotensi sensitif terhadap kenaikan harga BBM.

Sementara sektor lainnya seperti banking, komoditas, telekomunikasi, utility (distribusi gas, jalan tol) dan properti/konstruksi akan netral terhadap kenaikan harga BBM dengan asumsi tidak ada kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Di sektor konsumer, emiten dengan harga yang kuat, merek terkenal dan atau karena elastis terhadap demand akan kurang terkena dampak negatif kenaikan harga BBM subsidi. Sedangkan emiten dengan target market low-end seperti ritel low-end dan produsen dengan bahan baku massal mungkin akan terkena dampak negatif dengan adanya kenaikan inflasi akibat kenaikan harga BBM.

Indo Premier menyarankan pasar fokus pada dampak potensi kenaikan harga BBM pada saham transportasi seperti Express Transindo [TAXI 1,320 10 (+0,8%)] (rekomendasi Buy), produsen otomotif Astra International [ASII 7,625 50 (+0,7%)] (Buy) dan juga saham-saham semen seperti Semen Indonesia [SMGR 16,250 25 (+0,2%)] (Buy) dan Indocement Tunggal Prakarsa [INTP 24,125 -125 (-0,5%)] (Buy).

Sektor consumer, Indofood CBP [ICBP 10,900 400 (+3,8%)] (Hold), Ramayana [RALS 1,020 25 (+2,5%)] dan Mayora Indah [MYOR 30,875 250 (+0,8%)] relatif paling rentan terhadap rencana kenaikan harga BBM subsidi.
Read the rest of this entry

Emiten Semen, Masihkah Prospektif Di Tengah Sentimen Kenaikan Tarif Listrik

Sektor semen masih tetap bergairah meskipun kekhawatiran terhadap kenaikan biaya produksi akibat kenaikan tarif listrik melonjak yang terlihat menjadi berlebihan. Produsen semen mengisyaratkan akan menaikkan harga pada kuartal mendatang guna mengurangi dampak kenaikan dan mempertahankan margin setelah terpangkas selama tahun 2013.

Sementara itu kapasitas terpasang 3 besar emiten semen diyakini mendekati 80% yang bisa mendorong pasokan baru. Demand terhadap produk semen tetap kuat seiring lonjakan investasi dalam proyek MP3EI.

Analis Indo Premier Securities Stanley Liong menilai kehawatiran tarif listrik akan berdampak pada sektor semen berlebihan. “Empat perusahaan semen terbesar masih akan membukukan pertumbuhan laba double digit tahun ini, rata-rata 15,9 persen,” kata Stanley, dalam riset-nya yang dipublikasikan 19 Mei lalu. Read the rest of this entry

INTP Akan Membagikan Dividen Sebesar Rp900 per Saham Untuk Tahun Buku 2013

Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) akan membagikan dividen sebesar Rp900 per saham untuk tahun buku 2013 (dividend yield = 3,95%). Perseroan  mengalokasikan dana Rp3,31 triliun untuk membayar dividen pada 8 Juli 2014, atau sekitar 66,1% dari laba bersih 2013 yang mencapai Rp5 triliun.

 

Sumber : ipotnews.com

http://cara-buat-website.com/

Inilah Target Harga Saham-saham Semen

Dari sisi tren, saham-saham di sektor semen berada dalam kondisi bullish. Inilah level-level pembelian dan target harga sahamnya hingga akhir 2013.

Pada perdagangan Jumat (24/5/2013) saham PT Semen Indonesia (SMGR) [18,200 -300 (-1,6%)] ditutup melemah Rp300 (1,62%) ke Rp18.200; PT Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) [25,250 -50 (-0,2%)] melemah Rp50 (0,19%) ke Rp25.250 dan PT Holcim Indonesia (SMCB) [3,175 -75 (-2,3%)] turun Rp75 (2,30%) ke Rp3.175.

Cece Ridwanullah, analis dari Sekuritas Ekokapital mengatakan, dari sisi tren, saham-saham di sektor semen masih dalam kondisi bullish. Apalagi, penjualan semen pada kuartal I-2013 meningkat antara 8-10% dari tiga emiten itu–SMGR, INTP [25,250 -50 (-0,2%)] dan SMCB [3,175 -75 (-2,3%)].

Sementara itu, lanjut Cece, dari sentimen fundamental, dengan kemungkinan penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi per 1 Juni 2013, akan ada dana dari pemerintah yang dialokasikan untuk infrastruktur. “Ini menjadi kabar baik bagi saham-saham di sektor semen,” katanya kepada INILAH.COM.

Kelebihan subsidi dari kenaikan harga minyak, dia menambahkan, selain dilempar ke Bantuan Langsung Tunai (BLT), juga dialokasikan untuk infrastruktur. “Jika itu yang terjadi, penjualan semen akan tetap naik pesat. Tapi, pasar masih harus menunggu penentuan penaikan harga BBM pada 1 Juni,” tuturnya.

Cece menegaskan, pemerintah berjanji sebagian besar dana dari penaikan harga BBM, subsidinya akan dialihkan untuk infrastruktur. “Baiknya infrastruktur baik seperti jalan dan jembatan, akan memperlancar pertumbuhan ekonomi,” tandas dia.

Dari sisi ini, kata dia, saham-saham yang diuntungkan juga dua sektor: semen dan sektor konstruksi. “Karena itu, saya rekomendasikan positif untuk saham-saham di sektor semen,” kata Cece tegas.
Read the rest of this entry

Rupiah Loyo, Saham Apa yang Diuntungkan?

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) yang terjadi belakang ini, dirasa cukup mempengaruhi beberapa sektor saham di pasar modal Indonesia. Saham di sektor berbasis ekspor menjadi yang sangat diuntungkan akibat pelemahan nilai tukar rupiah ini.

Chief Economist Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih mengungkapkan, keuntungan saham di sektor berbasis ekspor atas pelemahan rupiah dikarenakan nilai pendapatan dalam dollar dengan biaya dalam rupiah. “Terutama sektor komoditas, seperti CPO maupun pertambangan,” kata Lana ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Sabtu (19/1/2013).
Read the rest of this entry