Blog Archives

Rights Issue 4 BUMN Segera Digelar

Kementerian BUMN menyatakan peraturan pemerintah terkait dengan Penyertaan Modal Negara (PMN) untuk empat BUMN yang telah berstatus sebagai emiten telah disetujui oleh pemerintah.

Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan PP PMN untuk PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA)., PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR)., PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS)., dan PT PP (Persero) Tbk (PTPP). telah disetujui.

“bulan ini rights issue itu akan terlaksana” katanya, akhir pekan lalu.

Seperti diketahui, empat BUMN itu akan melakukan rights issue setelah disetujui oleh Komisi VI, Komisi XI dan Badan Anggaran DPR untuk menerima PMN yang dianggarkan dalam APBN Perubahan 2016.

Berdasarkan peraturan yang berlaku, setiap penambahan modal kepada BUMN harus dilandasi PP. Oleh karena itu, sebelum dapat melakukan rights issue, 4 BUMN itu akan harus mendapatkan peraturan yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo.

Pada November 2016, dua BUMN yakni Wijaya Karya dan Krakatau Steel diperkirakan terlebih dulu melakukan pelaksanaan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dulu (HMETD).

Wijaya Karya berencana melaksanakan dan menggelar perdagangan HMETD itu pada 17-23 November atau mundur dari rencana semula pada 3-9 November. Wijaya Karya adalah satu-satunya BUMN yang telah menetapkan harga pelaksanaan yakni sebesar Rp2.180 dari rentang Rp1.525-Rp2.505 yang di umumkan sebelumnya. Read the rest of this entry

Advertisements

Defisit Perdagangan Diperkirakan Sampai Q3, Peluang Buy 6 Saham

Laju inflasi Indonesia berlanjut membaik dalam 5 bulan hingga Mei (1,56% secara kumulatif), yang masih sesuai dengan target inflasi BI antara 3,5% – 5,5%.

Sementara itu neraca perdagangan kembali defisit sebesar 1,96 miliar USD di bulan April (Maret surlus 0,67 miliar USD), sebagian karena kenaikan impor secara musiman pada kuartal kedua tahun ini (2Q14)

Kepala Riset Indo Premier Securities, Stephan Hasjim memperkirakan defisit transaksi berjalan (current account/CA) akan melebar pada 2Q dan 3Q (2% dari GDP pada 1Q). Namun dia yakin CA akan sesuai target BI sebesar 2,5%- 3,0% dari GDP di sepanjang 2014 (FY14) versus 3,3% dari GDP pada FY13. “Dengan demikian pelemahan pasar saat ini sebagai peluang untuk melakukan buy,” kata dia seperti dikutip dalam riset-nya Senin (2/6).

Rendahnya tingkat inflasi bulan Mei (CPI: 0,16% ; inti: 0,23% MoM) mengantarkan inflasi kumulatif dalam 5 bulan di tahun 2014 sebesar 1,56% lebih rendah dibanding periode yang sama di tahun 2013 sebesar 2,26%.

Menurut Stephan, dengan basis year on year (YoY), inflasi tetap stabil 7,32% (core : 4,82%). Atas dasar dampak yang kuat kenaikan BBM tahun lalu diharapkan mulai lenyap, dia memperkirakan inflasi tahunan turun signifikan di waktu mendatang meskipun terdapat dampak negatif tarif listrik pada semester kedua. Kata dia inflasi akan mencapai batas atas dari target inflasi BI sebesar 3,5% – 5,5% pada tahun ini.

Kontras dengan berita positif inflasi, neraca perdagangan RI kembali defisit ke tingkat 1,96 miliar USD pada periode April setelah dua bulan berturut-turut surplus (Maret surplus 669 juta USD, Februari surplus 843 juta USD).

Defisit perdagangan besar ini terutama terkait kenaikan impor non migas senilai 2 miliar USD (MoM) karena faktor musim dan ekspor non migas yang tercatat turun menjadi 890 juta USD (MoM) karena faktor turunnya harga komoditi (batubara, CPO) serta turunnya volume ekspor terutama ke China dan India. Meskipun impor non migas pada 2Q naik tidak sepenuhnya tak terduga, khususnya memasuki bulan Ramadhan pada bulan Juli, tetapi besarnya kenaikan masih sebagai hal mengejutkan.

Statistik menunjukkan, kenaikan secara berurutan impor bulanan didorong oleh kenaikan impor bahan baku non BBM dan impor barang modal. Sedangkan kenaikan impor konsumsi lebih moderat. Meskipun defisit CA diperkirakan melebar pada 2 kuartal mendatang, setelah defisit relatif turun sebesar 2% dari GDP di 1Q dan 4Q, diyakini target defisit CA oleh BI sebesar 2,5% – 3,0% dari GDP di sepanjang 2014 akan tercapai.

Mendorong peningkatan financial account akan dapat mengurangi kekhawatiran atas melebarnya defisit CA dalam 2 kuartal mendatang. Aliran investasi asing langsung (FDI) tetap kuat sebesar 4,5 miliar USD pada 2 kuartal terakhir. Kenaikan aliran investasi portfolio menjadi 8,5 miliar USD di 1Q versus 1,6 miliar USD pada 4Q13 berkontribusi terhadap neraca pembayaran.

Menurut Stephan, aliran investasi portfolio tampaknya akan berlanjut pada 2Q seiring kepemilikan investor asing pada surat utang RI yang mencapai rekor sebesar Rp394 triliun per 23 Mei 2014 (35,7% dari total surat utang). Sementara di pasar saham sejauh ini terlihat juga aliran dana asing bersih mencapai 1,6 miliar USD di periode 2Q14 (pada 1Q sebesar 2,0 miliar USD). Ini akan menunjukkan kepercayaan investor asing atas neraca pembayaran Indonesia dan merupakan antisipasi dari katalis positif pilpres 9 Juli.

Pasar saham RI tetap bergairah di tahun 2014 dengan target IHSG ke level 5.300 yang didasarkan kepada rasio P/E sebesar 14 kali dalam 12 bulan ke depan. Dengan demikian koreksi pasar di tengah ekspektasi neraca perdagangan yang tetap defisit di 2Q dan 3Q sebagai peluang untuk buy. Pilihan saham yang disukai sektor banking ( [BMRI 10,200 0 (+0,0%)] dan [BBNI 4,905 125 (+2,6%)]), operator jalan tol ( [JMSR 0 0 (+0,0%)]), saham terkait infrastruktur seperti di sektor konstruksi ( [PTPP 1,840 -15 (-0,8%)], [WSKT 685 -10 (-1,4%)]) dan operator menara telco ( [TBIG 7,950 325 (+4,3%)]).

Read the rest of this entry