Blog Archives

Laba Kimia Farma per September Tumbuh 13%

PT Kimia Farma (Persero) Tbk mencatat pertumbuhan laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk periode yang berakhir September 2015 sekitar 13,7% menjadi Rp163,581 miliar, dari Rp143,825 miliar pada periode serupa tahun lalu.

Direktur Utama Rusdi Rosman menuturkan, capaian ini didukung oleh bertumbuhnya pendapatan sebesar 12,90% menjadi Rp3,474 triliun per akhir September 2015, dari Rp3,077 triliun periode serupa tahun lalu. Seiring dengan peningkatan tersebut, beban pokok pendapatan turut naik 12,3% menjadi Rp2,4 triliun.
Read the rest of this entry

Advertisements

Antam Ciputra Terlempar, Ini Daftar Saham LQ-45 Agustus 2015-2016

PT Bursa Efek Indonesia mengumumkan daftar baru anggota 45 saham paling likuid dalam Indeks LQ-45 periode Agustus 2015-Januari 2016. Dua emiten terlempar dan dua lainnya masuk sebagai anggota baru.

Eko Siswanto, Kepala Divisi Operasional Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), mengatakan perubahan Indeks LQ45 berlaku untuk periode perdagangan Agustus 2015 sampai Januari 2016.

Dua emiten yang terlempar dari Indeks LQ45 yakni PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) [525 -5 (-0,9%)] dan PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) [1,070 -85 (-7,4%)]. Adapun, dua anggota baru indeks bergengsi ini adalah PT Sri Rejeki Isman Tbk. (SRIL) [455 5 (+1,1%)] dan PT Wijaya Karya Beton Tbk. (WTON) [1,020 -5 (-0,5%)].

Berikut daftar lengkap saham LQ-45 periode Agustus 2015-Januari 2016:

Read the rest of this entry

Ini Daftar Laba 41 Emiten Bluechips LQ-45

Laba bersih emiten yang tergabung dalam indeks LQ-45 pada kuartal I/2015 jeblok alias turun 5,15% dengan pendapatan hanya tumbuh 2,57% pada periode yang sama. Simak daftar lengkapnya.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis.com, sebanyak 41 emiten LQ-45 telah mengumumkan laporan keuangan kuartal I/2015.

Sedangkan, empat emiten yang belum merilis kinerja adalah PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE), PT Excel Axiata Tbk. (EXCL), PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG), dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG).

Dari 41 emiten tersebut, sebanyak 40 emiten membukukan laba bersih dengan total Rp42,64 triliun pada periode Januari-Maret 2015, dibandingkan dengan tahun lalu Rp44,96 triliun. Read the rest of this entry

KASUS OBAT ANESTESI: Investor “Buang” Saham Kalbe Farma

Analis Reliance Securities, Lanjar Nafi Taulat Ibrahimsyah mengatakan kasus penarikan obat anestesi Buvanest Spinal dan Asam Tranexamat Generik, keluaran PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) [1,805 -5 (-0,3%)] memengaruhi minat investor pada saham emiten perusahaan farmasi tersebut.

Investor khawatir hal itu bakal berdampak negatif bagi kinerja keuangan perusahaan farmasi tersebut. Mereka memilih melepas kepemilikan saham tersebut sementara waktu. “Dalam kondisi tersebut, panic selling memang wajar terjadi,” katanya kepada TEMPO seperti dikutip Rabu (18/2/2015).

Lanjar menjelaskan bagi setiap emiten sentimen negatif memang cenderung memicu aksi jual. Alasannya, sentimen negatif akan mengancam penurunan kinerja keuangan di masa mendatang, sehingga membuat investor khawatir potensi profit dari kepemilikan saham bakal berkurang.

Namun demikian, menurut Lanjar, prospek saham KLBF [1,805 -5 (-0,3%)] tetap sangat menarik. Pasalnya, dengan produk farmasi yang cukup variatif, penarikan dua obat tersebut dinilai takkan terlalu menganggu prospek bisnis yang dimiliki KLBF [1,805 -5 (-0,3%)]. “Penarikan dua obat yang bukan produk umum, tentu takkan menganggu bisnis KLBF [1,805 -5 (-0,3%)],” sambungnya.

Secara teknikal, harga saham KLBF [1,805 -5 (-0,3%)] pada level Rp1.800-an per lembar juga dianggap Lanjar sesuai dengan ekspektasi pasar. Alasannya, titik resisten KLBF [1,805 -5 (-0,3%)] dalam jangka pendek memang berada pada kisaran level Rp1.870–Rp1.880 per lembar saham. “Secara teknikal, tak jauh dari target price,” tuturnya.

Pada perdagangan hari ini, saham KLBF [1,805 -5 (-0,3%)] memang cenderung tertekan. Hingga pukul 15.30 WIB, saham KLBF [1,805 -5 (-0,3%)] terkoreksi 5 poin (0,3%) ke level Rp1.805 per lembar saham. Dengan nilai perdagangan sebesar Rp157 miliar, KLBF [1,805 -5 (-0,3%)] menjadi salah satu saham yang mencatatkan kerugian terbesar (Top 10 losers).

Senin, 16 Februari 2015 lalu, seiring dengan koreksi IHSG sebesar 0,91 persen, saham KLBF [1,805 -5 (-0,3%)] juga anjlok 70 poin (3,74%) menjadi Rp1.800 per lembar saham. Lanjar mensinyalir aksi jual tersebut juga berkaitan dengan aktivitas penarikan obat yang dilakukan KLBF [1,805 -5 (-0,3%)]. Read the rest of this entry

Harga BBM Naik, Beli Saham-saham Ini

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dinilai jadi katalis positif bagi penguatan pasar saham Indonesia. Banyak saham direkomendasikan beli.

Gema Goeyardi, pendiri PT Astronacci Internasional mengatakan, venus memasuki zodiac baru pada 17 November 2014 kemarin dan Dua siklus astrologi Sun Square Jupiter dan Mars Square Uranus yang terjadi minggu lalu akan memberikan dampak bullish continuation pada IHSG.

“Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi sebanyak Rp2.000 untuk premium dan solar akan menjadi katalis positif penguatan pasar saham Indonesia yang secara bersamaan pola harga pada IHSG telah siap naik lebih tinggi pasca mengalami konsolidasi kecil,” katanya kepada INILAHCOM di Jakarta, Selasa (18/11/2014).

Selasa menurut Gema, akan menjadi the confirmation day untuk pergerakan IHSG ke depan. Break out pada 17 November 2014 seharusnya disertai dengan penguatan lanjutan mencapai target harga terdekat di level 5.124 menutup area gap 1 Oktober 2014.

Bayang-bayang negatif dari ekonomi Jepang yang mengalami technical recession di kuartal ke 3 sehingga membuat indeks Nikkei terjatuh dalam, akan menjadi penghambat indeks naik secara agresif dalam minggu ini. “Oleh karena itu, bullish pendek IHSG terbatas hingga 5.180,” tuturnya.

Dari perspektif pasar AS, kenaikan Dow Jones diperkirakan hingga 17.800 dan 18.200. Anda tetap aman untuk trading hingga 20 November 2014 menyambut New Moon dan effect dari Sun Conjunction Saturn. “Selama IHSG tidak turun dari 4.900 maka bullish jangka menengah tetap akan bertahan di pasar,” imbuhnya.

Di atas semua itu, Gema menyodorkan strategi trading. Berikut ini rincian penjelasannya:

Read the rest of this entry

Tak Banyak Alternatif Di Sektor Konsumer, KLBF Jadi Favorit

Kalbe Farma (KLBF) diyakini adalah emiten farmasi terkemuka di Indonesia yang memiliki kekuatan harga untuk mempertahankan marjin profitnya di saat nilai tukar rupiah lemah yang mendongkrak harga impor bahan baku (80% dari harga jual produk).

Posisi market KLBF yang kuat ditambah dengan sifat demand produk farmasi yang in-elastis, memungkinkan perseroan menyesuaikan harga jual rata-rata di harga pada waktu mendatang. Hal itu masih ditambah brand KLBF yang kuat, inovasi yang tangguh dan jaringan distribusi luas memungkinkan perseroan mempertahankan pertumbuhan dan profitabilitas.

Posisi yang baik KLBF diuntungkan dengan pertumbuhan kelas menengah dan program pemerintah dalam perlindungan kesehatan masyarakat. Kenaikan pendapatan penduduk, perubahan gaya hidup dan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan akan mendorong demand terhadap layanan kesehatan dan produk kesehatan. Sedangkan program kesehatan untuk semua akan mendongkrak demand terhadap obat generik dan obat paten serta alat kesehatan.

Analis PT Indo Premier Securities Julianto Wongso memperkirakan pendapatan per kapita Indonesia naik pada dekade berikutnya yang bisa diartikan pengeluaran lebih besar pada sektor kesehatan ke level sebanding dengan negara-negara di Asean. Berdasarkan survei Frost & Sullivan  penjualan farmasi di Indonesia diperkirakan akan tumbuh rata-rata gabungan tahunan 11% dalam rentang 2012-2018. Angka itu jauh di atas periode tahun 2009-2012 sebesar 7,6 persen.

Dalam rentang 2013-2016. pertumbuhan gabungan rata-rata KLBF diperkirakan 20,7% ditunjang kenaikan penjualan tahunan produk farmasi 14,2%, consumer health naik 18,0%, produk nutrisi naik 21,3% dan usaha distribusi 6,3 persen pada periode tersebut.

Pasar ekspor merupakan potensi lain pertumbuhan KLBF dimana KLBF berencana untuk meningkatkan pendapatan ekspor 10% dari penjualan konsolidasi dari angka sebelumnya yang hanya 4% di tahun 2013.

Ekspansi e-store dan klinik akan didorong oleh penetrasi belanja online dan naiknya jumlah pasien dalam mencari layanan perawatan primer. Di waktu mendatang, ditopang kas berlimpah, diperkirakan aksi merger dan akuisisi dapat pula menjadi pendukung pertumbuhan yang kuat.

Julianto merekomendasikan Buy saham [KLBF 1,675 -10 (-0,6%)] dengan target price (TP) Rp1.970/saham dari TP sebelumnya Rp1.650/saham yang mencerminkan target rasio P/E 34 kali. Menurut dia valuasi saham KLBF premium dari rata-rata historisnya hanya merefleksikan suatu penilaian kembali saham-saham konsumer pada saat ini serta dibenarkan mengingat kurangnya alternatif perusahaan farmasi, pemimpin pasar, inovasif dan profitabilitas yang lebih tinggi dibanding perusahaan sejenis.

Sedangkan risiko terhadap TP adalah kenaikan tajam bahan baku impor, depresiasi tajam nilai tukar rupiah dan risiko regulasi.  (mk)

Sumber : ipotnews.com

http://cittaparts.wordpress.com

Read the rest of this entry

Penjualan Bersih Kalbe Farma Tumbuh 12,9 Persen

PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mencatat pertumbuhan penjualan bersih sepanjang semester I-2014 sebesar 12,9 persen atau mencapai Rp8,38 triliun dari sebesar Rp7,42 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Direktur Keuangan Kalbe Farma [KLBF 1,630 35 (+2,2%)], Vidjontius, mengatakan pertumbuhan penjualan bersih ditopang oleh pemasaran yang aktif dan penetrasi distribusi yang tersalurkan dengan baik.
“Menghadapi volatilitas kondisi makro dan perubahan pasar, kami berupaya mempertahankan pertumbuhan dan marjin yang stabil,” kata Vidjongtius kepada wartawan di Jakarta, Jumat (8/8).

Meski produk KLBF mengalami peningkatan yang cukup signifikan, lain halnya dengan produk pihak ketiga atau produk non Kalbe pada divisi distribusi dan logistik mengalami pertumbuhan yang lebih rendah.

Untuk laba kotor tumbuh sebesar 10,8 persen mencapai Rp4,01 triliun. Di mana, rasio laba kotor terhadap penjualan menurun 0,9 persen menjadi 47,9 persen dari 48,8 persen bila dibandingkan semester I-2013. “Ini akibat dampak pelemahan rupiah dan kenaikan bahan baku,” imbuhnya.

Sementara laba usaha tumbuh sebesar 9,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan rasio mencapai 15,9 persen terhadap penjualan bersih. “Laba bersih tumbuh sebesar 7,7 persen dibandingkan smester pertama tahun 2013,” pungkasnya. Read the rest of this entry

Target Tercapai, Ini Harga KLBF & KAEF Berikutnya

Meski terget harga 2014 sudah tercapai, saham KLBF dan KAEF tetap dijagokan analis. Inilah target harga berikutnya.

Pada perdagangan Selasa (13/5/2014), saham PT Kalbe Farma (KLBF) ditutup melemah Rp20 (1,3%) ke posisi Rp1.550. Di sisi lain, saham PT Kimia Farma (KAEF) ditutup menguat Rp5 (0,5%) ke Rp970.

Tonny W Setiadi, analis dari Indosurya Asset Management menilai prospek saham-saham farmasi masih positif. “ Farmasi dibagi dua: yang berupa obat dan farmasi sebagai penunjang kesehatan,” katanya kepada INILAHCOM.

Produsen obat adalah PT Kimia Farma (KAEF), PT Indofarma (INAF) dan sebagainya. Emiten penunjang kesehatan adalah PT Kalbe Farma (KLBF).“Prospeknya masih bagus. Sebab, ke depan, asuransi dan program-program pemerintah untuk jaminan kesehatan masih sangat besar,” ujarnya. Read the rest of this entry

Tertinggi, Level Return Emiten Berbasis Konsumer Dan Properti Di Indeks LQ-45

Tingkat imbal hasil emiten berbasis konsumsi masyarakat dan properti tercatat paling tinggi dibandingkan sektor lain di indeks LQ-45. Ketidakpastian ekonomi global membuat investor banyak mengalihkan portofolio investasinya dengan mengoleksi saham berbasis konsumer dan properti yang lini bisnisnya berorientasi dalam negeri.

Berdasarkan data Bloomberg seperti diolah Ipotnews, saham berbasis konsumsi masyarakat seperti PT Malindo Feedmill Tbk [MAIN 3,200 -50 (-1,5%)], PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk [ICBP 10,900 -600 (-5,2%)], dan PT Kalbe Farma Tbk [KLBF 1,380 -10 (-0,7%)] tercatat memiliki tingkat imbal hasil tertinggi dalam satu tahun dibandingkan saham berbasis lainnya seperti komoditas.

Selain itu saham berbasis properti dan sarana pendukungnya seperti PT Lippo Karawaci Tbk [LPKR 1,350 -30 (-2,2%)], PT Bumi Serpong Damai Tbk [BSDE 1,690 -20 (-1,2%)], PT Alam Sutera Realty Tbk [ASRI 690 -20 (-2,8%)], PT Semen Indonesia (Persero) Tbk [SMGR 15,650 -350 (-2,2%)], dan PT Surya Semesta Internusa Tbk [SSIA 1,150 -40 (-3,4%)] juga memiliki tingkat imbal hasil yang cukup tinggi.
Read the rest of this entry

Kalbe Farma (KLBF) Rencana Bagi Dividen Rp. 68,5 Per Saham

Perusahaan farmasi PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) berencana mengusulkan pembagian dividen sebesar 50% dari laba bersih tahun lalu sebesar Rp68,5 per saham.

Direktur Keuangan Kalbe Farma Vidjongtius mengatakan usulan dividen itu sejalan dengan pertumbuhan laba perusahaan yang terus meningkat.

“Laba bersih per saham Kalbe Farma terus meningkat dari Rp70 per saham pada 2007 menjadi Rp137 per saham pada 2010,” tuturnya dalam jumpa pers siang ini.
Read the rest of this entry