Blog Archives

Ini Daftar Laba 41 Emiten Bluechips LQ-45

Laba bersih emiten yang tergabung dalam indeks LQ-45 pada kuartal I/2015 jeblok alias turun 5,15% dengan pendapatan hanya tumbuh 2,57% pada periode yang sama. Simak daftar lengkapnya.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis.com, sebanyak 41 emiten LQ-45 telah mengumumkan laporan keuangan kuartal I/2015.

Sedangkan, empat emiten yang belum merilis kinerja adalah PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE), PT Excel Axiata Tbk. (EXCL), PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG), dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG).

Dari 41 emiten tersebut, sebanyak 40 emiten membukukan laba bersih dengan total Rp42,64 triliun pada periode Januari-Maret 2015, dibandingkan dengan tahun lalu Rp44,96 triliun. Read the rest of this entry

Advertisements

Ekonomi lambat, kinerja Grup Lippo justru melesat

Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, grup Lippo masih mampu mencatatkan kinerja yang cukup positif meski ekonomi domestik mengalami perlambatan. Lihat saja, laporan keuangan sektor properti dan bisnis ritel grup milik keluarga James Riady masih mampu menuai pertumbuhan.

Dari sektor properti, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) [1,185 -25 (-2,1%)] memperlihatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 23% secara year on year (yoy) menjadi Rp 417,36 miliar. Ini seiring dengan kenaikan pendapatan sebesar 22,5% menjadi Rp 2,44 triliun dari Rp 1,99 triliun pada kuartal I 2014.

Kontribusi terbesar pendapatan LPKR [1,185 -25 (-2,1%)] bersumber dari pendapatan berulang atau recurring income yakni mencapai 53% atau sebesar Rp 1,28 triliun. Pendapatan ini tumbuh 21% yoy.

Hampir seluruh lini bisnis LPKR [1,185 -25 (-2,1%)] mengalami pertumbuhan. Divisi residential dan urban development menyumbang Rp 1,16 triliun terhadap pendapatan atau tumbuh 22% yang terdiri dari unit usaha township Rp 705 miliar dan unit usaha scale integrated development Rp 455 miliar. Divisi bisnis healthcare menyumbang kontribusi Rp 976 miliar atau naik 30% secara yoy dan asset management tumbuh 7% atau menyumbang Rp 177 miliar.

Hanya saja, pendapatan dari divisi komersial yang terdiri dari mall ritel, hotel dan township management melorot 7% menjadi Rp 135 miliar. Ini lantaran pendapatan sewa menurun setelah Lippo Kemang Mall dijual.

Adapun dari sektor ritel, PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) [17,500 500 (+2,9%)] mencatatkan pertumbuhan laba bersih 50,3% secaya yoy menjadi Rp 185 miliar meskipun pendapatanya hanya naik tipis 9,4% menjadi Rp 1,61 triliun. Laba perusahaan ini tersokong setelah beban keuangannya turun menjadi Rp 19,2 miliar dari sebelumnya Rp 57,5 miliar dan beban pajak penghasilan turun dari Rp 66,6 miliar ke Rp 55,5 miliar.

Analis BNI securities, Thendra Chrisnanda mengatakan kinerja grup lippo masih terjaga di tengah perlambatan bisnis konglomerasi lainnya lantaran memiliki lini bisnis yang memiliki prospek cukup baik terutama dari bisnis health care, lahan industri dan bisnis ritel. “Lippo tumbuh karena bisnis mereka terdiversifikasi dengan baik sekali,” kata Thendra pada KONTAN, Kamis (30/4).

Meskipun sektor properti mengalami perlambatan sepanjang kuartal I seiring dengan penurunan daya beli masyarakat, Thendra bilang LPCK [11,975 250 (+2,1%)] dan LPKR [1,185 -25 (-2,1%)] masih tumbuh karena menerapkan strategi aliansi dengan baik yakni menjual properti ke investor strategis, seperti Jepang, yang memiliki daya beli tinggi.

Thendra memandang prospek bisnis grup Lippo masih cukup positif tahun ini. Menurutnya, sektor utama yang akan menjadi tumpuan Lippo tahun ini adalah health care yakni dengan pertumbuhan usaha SILO [14,200 225 (+1,6%)] dan bisnis properti.

Kendati demikian, Lippo masih harus menghadapai tantangan yakni kepastian penerapan PPnBM untuk properti dan perlambatan daya beli masyarakat. Menurut Thendra, jika hunian di atas Rp 2 miliar akan dikenakan pajak mewah maka dampaknya akan sangat besar terhadap Lippo karena LPKR [1,185 -25 (-2,1%)] maupun LPCK [11,975 250 (+2,1%)] bermain di segmen properti menengah ke atas.

Sedangkan di bisnis ritel, kebutuhan bahan pokok masih memang masih tetap besar meskipun daya beli masyarakat turun. Hanya saja, kata Thendra, Lippo tidak mengerek pertumbuhan margin dari potensi kenaikan harga produk. “Selama ini keuntungan mereka banyak dengan menaikkan harga produk. Kalau daya beli turun mereka akan susah menaikkan harga,” jelas Thendra.

Di grup ini, Thendra merekomendasikan buy untuk LPCK [11,975 250 (+2,1%)] dan SILO [14,200 225 (+1,6%)] dengan target harga masing Rp 13.800 dan Rp 15.400. Sedangkan LPKR [1,185 -25 (-2,1%)] direkomendasikan hold dengan target Rp 1.225. Read the rest of this entry

Tertinggi, Level Return Emiten Berbasis Konsumer Dan Properti Di Indeks LQ-45

Tingkat imbal hasil emiten berbasis konsumsi masyarakat dan properti tercatat paling tinggi dibandingkan sektor lain di indeks LQ-45. Ketidakpastian ekonomi global membuat investor banyak mengalihkan portofolio investasinya dengan mengoleksi saham berbasis konsumer dan properti yang lini bisnisnya berorientasi dalam negeri.

Berdasarkan data Bloomberg seperti diolah Ipotnews, saham berbasis konsumsi masyarakat seperti PT Malindo Feedmill Tbk [MAIN 3,200 -50 (-1,5%)], PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk [ICBP 10,900 -600 (-5,2%)], dan PT Kalbe Farma Tbk [KLBF 1,380 -10 (-0,7%)] tercatat memiliki tingkat imbal hasil tertinggi dalam satu tahun dibandingkan saham berbasis lainnya seperti komoditas.

Selain itu saham berbasis properti dan sarana pendukungnya seperti PT Lippo Karawaci Tbk [LPKR 1,350 -30 (-2,2%)], PT Bumi Serpong Damai Tbk [BSDE 1,690 -20 (-1,2%)], PT Alam Sutera Realty Tbk [ASRI 690 -20 (-2,8%)], PT Semen Indonesia (Persero) Tbk [SMGR 15,650 -350 (-2,2%)], dan PT Surya Semesta Internusa Tbk [SSIA 1,150 -40 (-3,4%)] juga memiliki tingkat imbal hasil yang cukup tinggi.
Read the rest of this entry

Ini Dia Si Raja Gain di Lantai Bursa

Dalam kondisi bursa yang masih sulit ditebak seperti sekarang, saham sektor properti ternyata masih mendapat rekomendasi positif dari para analis.

Alasannya, hingga pertengahan Agustus 2012, sektor ini rata-rata mampu memberikan gain 33,8%. Lebih tinggi dibandingkan dengan sektor lainnya, termasuk saham perbankan yang rata-rata memberikan gain 17,2%.

Rendahnya suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) serta kodisi makro ekonomi Indonesia yang masih terjaga, juga menjadi angin baik bagi saham-saham emiten properti. Tak heran bila sejumlah analis berpendapat bahwa prospek industri properti di semester II masih akan cerah. Sekadar informasi saja, sepanjang semester I-2012 penjualan properti berhasil mencatat pertumbuhan 25-30%.

Di antara sejumlah saham properti yang beredar di lantai bursa, beberapa analis menjagokan PT Ciputra Development (CTRA) [620 10 (+1,6%)], PT Modernland Realty (MDLN) [480 0 (+0,0%)], PT Bumi Serpong Damai (BSDE) [1,060 0 (+0,0%)], PT Agung Podomoro Land (APLN) [320 -5 (-1,5%)], PT Lippo Karawaci (LPKR) [910 0 (+0,0%)], serta PT Sentul City (BKSL) [200 0 (+0,0%)]. Maklum, kinerja mereka sepanjang semester I yang baru lalu begitu mengkilap.
Read the rest of this entry

LPKR Raup $160 Juta

PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) menjual dua aset propertinya di bidang kesehatan, yakni rumah sakit Siloam dan Mochtar Riady Comprehensive Cancer Centre (MRCCC) senilai US$ 160 juta atau sekitar Rp 195 miliar.

Read the rest of this entry