Blog Archives

Ini dia rekomendasi saham LSIP

Prospek sektor crude palm oil (CPO) terlihat masih cerah. NH Korindo Sekuritas memprediksi, harga CPO hingga akhir tahun nanti berada pada level Rp 8.400 per kilogram (kg).

“Kestabilan harga ini ditopang oleh permintaan domestik yang tetap kuat,” ujar Joni Wintarja, analis NH Korindo dalam riset, Senin (10/7).

Menurut Joni, PT London Sumatra Tbk (LSIP) bakal menikmati kestabilan harga tersebut. Sebab, LSIP telah mencatat kenaikan produksi CPO.

Sepanjang kuartal I tahun ini, produksi CPO LSIP meningkat 27,5% menjadi 120.099 ton. Tahun ini, lanjut Joni, produksi CPO LSIP diperkirakan akan meningkat 18,4% pada 2017 menjadi 437.582 ton yang merupakan angka produksi normal sebelum dilanda fenomena cuaca El-Nino.

Atas dasar ini, Joni merekomendasikan buy saham LSIP dengan target harga hingga akhir tahun Rp 1.970 per saham. Target harga ini mencerminkan price earning ratio (PER) sebesar 13,5 kali.

Pada perdagangan awal pekan ini, saham LSIP menguat 10 poin ke level 1.440 per saham. Saham LSIP saat ini diperdagangkan dengan PER 9,8 kali. Read the rest of this entry

Advertisements

Kinerja AALI juara di sektor perkebunan tahun 2016

Tekanan yang selama ini terjadi pada sektor perkebunan mulai mereda. Kinerja sejumlah emiten di sektor itu kembali memunculkan harapan akan prospek industri perkebunan kembali positif.

Dari sisi top line, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) [14,975 75 (+0,5%)] tak beda jauh dengan emiten lainnya yang sebagian besar mencatat pertumbuhan single digit. Pendapatan AALI [14,975 75 (+0,5%)] meningkat 9% year on year (yoy) menjadi Rp 14,12 triliun sepanjang 2016 dari sebelumnya Rp 13,06 triliun.

Tapi dari segi bottom line, AALI [14,975 75 (+0,5%)] jadi yang paling moncer. Laba bersihnya melonjak 224% menjadi Rp 2,01 triliun dari sebelumnya Rp 619,11 miliar.

Laba bersih paling moncer kedua disusul oleh PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) [2,040 0 (+0,0%)]. Kenaikannya mencapai 78% yoy mejadi Rp 441,88 miliar dari sebelumnya Rp 247,57 miliar.

Kinerja PT Sinarmas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) [4,100 0 (+0,0%)] juga sejatinya menarik. Perseroan tahun lalu malah mencatat laba bersih Rp 2,6 triliun dari sebelumnya rugi Rp 386,17 miliar.

Kenaikan laba itu dicatat ditengah penurunan pendapatan sebesar 18% yoy menjadi Rp 29,75 triliun. Sayang, sentimen positif kenaikan laba itu dibatasi oleh kurang likuidnya saham perseroan.

Namun, tidak semua emiten perkebunan mencatat kinerja positif. PT London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) [1,475 10 (+0,7%)] misalnya.

Entitas Grup Salim itu mencatat penurunan pendapatan sebesar 8% yoy menjadi Rp 3,85 triliun. Laba bersihnya juga mengalami penurunan, yakni 5% yoy menjadi Rp 593,83 miliar.

Sama halnya dengan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) [484 -16 (-3,2%)]. Pendapatannya turun sekitar 10% yoy menjadi Rp 3,94 triliun. Laba bersihnya tercatat Rp 250,71 miliar, turun 7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Kendati demikian, prospek emiten perkebunan tahun ini secara keseluruhan masih lebih positif. Banyak faktor yang mendorong optimisme itu.

“Salah satunya soal pembatasan lahan baru perkebunan,” kata Joni Wintarja, analis NH Korindo Securities Indonesai kepada KONTAN belum lama ini.

Dengan lahan yang terbatas, otomatis kenaikan suplai ikut terbatas. Sehingga, kondisi itu berpotensi memicu kenaikan harga crude palm oil (CPO).

Ekspektasi meningkatnya permintaan CPO juga terlihat. Hal itu terindikasi dari aktivitas re-stocking oleh negara-negara pengimpor.

Efek El Nino juga sudah mereda. Sehingga, produksi CPO kembali membaik. Produksi yang membaik ditambah terangkatnya harga CPO membuat kinerja keuangan emiten perkebunan semakin solid.

Di sisi lain, membaiknya produksi untuk waktu yang panjang bakal menambah suplai CPO di pasar. Tentu, akibatnya harga yang kembali turun.
Read the rest of this entry

Antam Ciputra Terlempar, Ini Daftar Saham LQ-45 Agustus 2015-2016

PT Bursa Efek Indonesia mengumumkan daftar baru anggota 45 saham paling likuid dalam Indeks LQ-45 periode Agustus 2015-Januari 2016. Dua emiten terlempar dan dua lainnya masuk sebagai anggota baru.

Eko Siswanto, Kepala Divisi Operasional Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), mengatakan perubahan Indeks LQ45 berlaku untuk periode perdagangan Agustus 2015 sampai Januari 2016.

Dua emiten yang terlempar dari Indeks LQ45 yakni PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) [525 -5 (-0,9%)] dan PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) [1,070 -85 (-7,4%)]. Adapun, dua anggota baru indeks bergengsi ini adalah PT Sri Rejeki Isman Tbk. (SRIL) [455 5 (+1,1%)] dan PT Wijaya Karya Beton Tbk. (WTON) [1,020 -5 (-0,5%)].

Berikut daftar lengkap saham LQ-45 periode Agustus 2015-Januari 2016:

Read the rest of this entry

Ini Daftar Laba 41 Emiten Bluechips LQ-45

Laba bersih emiten yang tergabung dalam indeks LQ-45 pada kuartal I/2015 jeblok alias turun 5,15% dengan pendapatan hanya tumbuh 2,57% pada periode yang sama. Simak daftar lengkapnya.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis.com, sebanyak 41 emiten LQ-45 telah mengumumkan laporan keuangan kuartal I/2015.

Sedangkan, empat emiten yang belum merilis kinerja adalah PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE), PT Excel Axiata Tbk. (EXCL), PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG), dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG).

Dari 41 emiten tersebut, sebanyak 40 emiten membukukan laba bersih dengan total Rp42,64 triliun pada periode Januari-Maret 2015, dibandingkan dengan tahun lalu Rp44,96 triliun. Read the rest of this entry

Inilah Target Harga Saham Perkebunan

Secara fundamental, saham-saham perkebunan dinilai prospektif seiring pemulihan ekonomi global. Hanya saja, untuk saat ini resistensinya sangat kuat. Seperti apa?

Pengamat pasar modal Sem Susilo mengatakan, dari sentimen fundamental, saham-saham perkebunan tetap masih prospektif. Sebab, pemulihan ekonomi global memacu kebutuhan komoditas yang angkanya semakin besar.

Hanya saja, kata Sem, untuk saat ini, resistensinya cukup kuat karena harga sahamnya sudah cukup tinggi. “Karena itu, saham-saham perkebunan kemungkinan akan mengalami proses konsolidasi terlebih dahulu,” katanya kepada INILAHCOM. Berikut ini penjelasan rinci dari Sem Susilo: Read the rest of this entry

Masalah Pokok Bursa Saham adalah UU Minerba

Pengamat pasar modal Sem Susilo mengatakan, jika UU Minerba No 4 2009 tersebut dipaksa diterapkan, baru sekitar 30-40% yang siap dengan smelternya sehingga akan memicu Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal. Karena itu, bahkan ditengarai tidak menutup kemungkinan terjadinya kerusuhan massal pula.

Akibatnya, ekspor pun akan menurun yang akan diiringi dengan peluang anjloknya nilai tukar rupiah yang juga berimbas negatif pada IHSG. Namun, kata dia, untuk investasi jangka panjang, tidak masalah belanja saham secara bertahap sekarang terutama untuk saham-saham non-komoditas karena sudah berada di bawah valuasi normalnya. “Untuk trading jangka pendek, tetap fokus pada saham-saham di sektor komoditas,” katanya kepada INILAH.COM.

Pada perdagangan Jumat (20/12/2013), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 36,42 poin (0,86%) ke posisi 4.195,556. Intraday terendah 4.180,812 dan tertinggi 4.230,606.

Volume perdagangan naik dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan net buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan net sell. Berikut ini wawancara lengkapnya: Read the rest of this entry

Mereka Yang Berkibar Saat IHSG Rontok

Indeks Harga Saham Gabungan pada akhir pekan, Jumat (6/12) terperosok ke zona merah. Indeks acuan Indonesia itu turun 36.11 poin atau melemah 0,86%. Sembilan sektor berkubang ke zona merah, hanya satu sektor yang ada di zona hijau, yakni sektor perkebunan.

Sampai penutupan perdagangan, sektor perkebunan menjadi satu-satunya sektor yang mencatat poin positif dengan kenaikan 1,71%. Kenaikan saham-saham yang ada di sektor perkebunan memperpanjang reli yang sudah tertoreh sejak November.

Dalam riset KONTAN, sektor perkebunan selama November telah menguat 14,60%. Penguatan saham sektor perkebunan terjadi saat posisi IHSG terperosok 7,31% di bulan yang sama.

Penguatan saham perkebunan disumbang oleh kenaikan saham-saham emiten kelapa sawit, diantaranya; PT PP London Sumatera Tbk (LSIP) yang mencatat kenaikan 14,28% selama November menjadi Rp 1.840. Kemudian, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menguat 13,52% selama November menjadi Rp 22.250. Read the rest of this entry

Sektor Plantation Neutral, Ini Alasan AALI dan BWPT Jadi Top Picks

Emiten-emiten CPO kini diwarnai sentimen sinyal pemulihan harga CPO di tengah turunnya produksi CPO Indonesia dan prospek demand biodiesel lokal. Sementara pertumbuhan produksi CPO Indonesia hanya mencapai 3,7% secara tahunan (YoY) atau jauh lebih rendah dibandingkan dengan target 10% YoY jika mengacu kepada data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki).

Analis sektor plantation PT Indo Premier Securities William Simadiputra mengatakan rendahnya pertumbuhan produksi karena terutama karena produktivitas perkebunan terutama di wilayah Sumatera selama semester I 2013 (1H13).
Read the rest of this entry

Lonsum Bagikan Dividen Rp 680 Miliar

PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) [2,650 75 (+2,9%)] akan membagikan dividen senilai total Rp 682,286 miliar. Nilai dividen tersebut sekitar 40 persen dari laba bersih tahun buku 2011 yang tercatat sebanyak Rp 1,7 triliun.

“Nilai dividen tersebut sekitar Rp 100 per lembar saham,” kata Presiden Direktur LSIP [2,650 75 (+2,9%)], Benny Tjoeng usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, hari ini.

Pembagian dividen, menurut Benny akan dilaksanakan pada 22 Juni 2012 dengan cum dividen di pasar reguler dan negosiasi pada 5 Juni 2012.

Sebagai informasi, selama 2011, perseroan mencatat laba bersih tahun berjalan sebanyak Rp 1,7 triliun atau meningkat sekitar 65 persen jika dibandingkan laba bersih pada 2010 yang tercatat sebanyak Rp 1,03 triliun.

Sementara penjualan perseroan selama 2011 tercatat sebanyak Rp 4,68 triliun atau meningkat sekitar 23,3 persen jika dibandingkan penjualan perseroan pada 2010 yang tercatat sebanyak Rp 3,59 triliun.
Read the rest of this entry