Blog Archives

Waspada, Reli Emerging Market Dibayangi Sinyal Mengkhawatirkan

Dibalik reli indeks harga saham emerging markets pada Maret lalu, yang mencapai level tertinggi sejak 2009, ada sejumlah sinyal mengkhawatirkan bahwa reli tersebut bakal membentur tembok tebal.

Data Bloomberg menunjukkan, kenaikan harga saham hingga 13 persen pada bulan lalu berlangsung dengan volume perdagangan yang tipis, terendah dalam lima tahun. Di pasar valas, pergerakan nilai tukar mata uang banyak mengikuti pergerakan harga minyak, yang mengindikasikan kerentanan nilai tukar mata uang terhadap perubahan harga komoditas.

Kondisi tersebut menegaskan kerapuhan yang mendasari rebound indeks saham yang digerakkan oleh aliran modal investor pada Maret lalu, tertinggi sejak Juni 2014. Menurut Barclays Plc. dan UBS AG, reli di bursa saham EM itu tidak sejalan dengan kejatuhan ekspor dan kontraksi sektor manufaktur di negara-negara berkembang.

Sementara itu, pendorong terjadinya reli – sikap melunak Federal Reserve, stabilitas ekonomi China dan kenaikan harga minyak – dinilai tidak akan bertahan lama.

“Gambaran makro emerging markets tidak banyak berubah sejak Januari,” kata Yerlan Syzdykov, manajer obligasi emerging market Pioneer Investment Management Ltd. “Pelambatan ekonomi di emerging markets akan berlanjut hingga 2018,” imbuhnya, seperti dikutip Bloomberg, (1/4).

Setelah kehilangan sekitar seperempat dari nilainya sejak 2012, nilai saham, mata uang, obligasi EM bangkit kembali. Pada Maret lalu, harga saham di sejumlah negara berkembang mengalami kenaikan nilai sekitar US$1,8 triliun, lompatan tertinggi sejak 2007 silam. Indeks MSCI Emerging Market meningkat 22 persen dari nilai terendah dalam tujuh tahun, pada Januari lalu, atau dua kali lipat kenaikan indeks acuan saham negara maju.

Sejumlah penghalang itu, setidaknya kini sudah memudar. Harga minyak naik 46 persen dari harga terendah selama 13 tahun pada Februari lalu. China juga mulai bertindak untuk mendongkrak pertumbuhan, dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed sudah menyurut.

Pelemahan nilai tukar dolar AS, membuat rata-rata imbal hasil surat utang EM dalam mata uang lokal sekitra 6,5 persen menjadi daya tarik, ketika sekitar US$8 triliun surat utang pemerintah global menawarkan suku bunga di bawah nol.

“Landasan mata uang emerging market  menjadi sedikti lebih baik, begitu juga dengan komoditas,” kata Pablo Goldberg, ahli strategi surat utang EM dari BlackRock Inc, New York.

Namun menurut Guillermo Modino, ahli strategi Citigroup, investor perlu mewaspadai semakin menyempitnya gap imbal hasil US Treasuries berjangka dua tahun dan 10 tahun, yang menunjukkan rentang terendah sejak 2007. Penyempitan gap yang menjadi barometer minat untuk aset-aset berimbal hasil tinggi – mengindikasikan bahwa EM rentan berbalik arah ketika inflasi AS mulai meningkat.

Sejumlah indikator lain, berdasarkan data Bloomberg, juga mendukung sinyalemen Modino. Indikator tersebut antara lain  seperti lebih sedikitnya saham EM yang ditransaksikan setiap harinya ketimbang saham negara maju, dan korelasi yang semakin erat antara nilai mata uang EM dengan harga minyak.

Sinyal pelemahan ekonomi di EM juga tersirat dalam tingkat keuntungan perusahaan. Masih berdasarkan data Bloomberg, return on equity perusahaan dalam acuan indeks MSCI EM juga turn menjadi 10,5, mendekati level terendah sejak 2010.

“Terlalu awal untuk mengatakan bahwa rintangan sudah berakhir,” kata John Carlson, manajer valas Fidelity Investment. “Kemampuan untuk mempertahankan reli akan membutuhkan banyak hal agar segalanya tepat berada di tempatnya.” Read the rest of this entry

Advertisements

Dollar Jeblok, Harga Minyak Dunia Sentuh Level Tertinggi Baru 2015

Harga minyak melesat ke level tertinggi baru pada pagi ini setelah melemahnya dollar AS akibat positifnya data ekonomi zona euro, meski para pejabat OPEC menyatakan akan mempertahankan pagu produksi mereka.

Patokan Amerika Serikat, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI), untuk kontrak pengiriman Juli, seperti dilansir AFP, Rabu (3/6) dini hari WIB, naik US$1,06 menjadi ditutup pada level US$61,26 per barel di New York Mercantile Exchange.

Di perdagangan London, minyak mentah Brent untuk kontrak penyerahan Juli menguat 61 sen menjadi menetap di posisi US$65,49 per barel.

Dollar tercatat kehilangan lebih dari dua persen terhadap euro, dan 0,5 persen terhadap yen, setelah angka inflasi Eropa tercatat 0,3 persen untuk periode Mei, lebih baik dari perkiraan, sehingga mengurangi ketakutan atas deflasi.

“Saya pikir hal terbesar adalah dollar. Ada korelasi pembalikkan sangat kuat dengan harga minyak. Jadi, apa pun dollar bergerak lebih rendah bisa menggerakkan pasar minyak mentah lebih tinggi,” kata Kyle Cooper, analis dari IAF Advisors.

Lonjakan harga terjadi meski masih sedikit perubahan dalam situasi kelebihan pasokan minyak mentah global.

Para pejabat dari Organisasi Negara-negara Eksportir Minyak (OPEC) menyatakan akan mempertahankan tingkat produksi saat ini ketika mereka bertemu di Wina, Jumat (5/6).

Dipimpin Arab Saudi, OPEC mengimbangi penurunan tajam harga selama tahun lalu dengan peningkatan produksi, dalam apa yang beberapa kalangan meyakini adalah strategi untuk mendorong produsen biaya tinggi, terutama produsen-produsen serpih (shale) yang berbasis di Amerika Serikat, keluar dari pasar.

Ketika ditanya apakah strategi OPEC berjalan, Menteri Perminyakan Saudi Ali al-Naimi, mengatakan kepada wartawan di Wina, Senin: “Jawabannya adalah ya. Permintaan sedang meningkat. Pasokan sedang melambat. Ini adalah fakta. Pasar sedang mengalami stabilisasi.”

“Kita dapat melihat bahwa saya tidak tertekan, saya senang,” ucapnya.

Para analis terus mencermati pertemuan OPEC pada 5 Juni. Sejauh ini, tidak ada tanda-tanda bahwa kartel itu akan memotong kuota produksinya pada pertemuan tersebut.

Kartel itu tetap mempertahankan kuota produksi 30 juta barel per hari pada pertemuan November tahun lalu.

Cooper mengatakan para pedagang juga memperkirakan laporan mingguan pasar minyak AS pada Rabu akan menunjukkan tanda-tanda lebih besar dari pengetatan, permintaan lebih tinggi dan produksi lebih rendah, yang akan mendukung harga lebih tinggi lagi.

Badan Informasi Energi AS (EIA) akan merilis laporan tentang data minyak mentah pekan lalu. Para pedagang ingin menemukan lebih banyak petunjuk tentang pasar minyak mentah dari laporan tersebut.

Untuk pekan yang berakhir pada 29 Mei, pasokan minyak mentah AS turun 2,8 juta barel menjadi 479,4 juta, 86,4 juta barel lebih banyak dari setahun sebelumnya, menurut EIA. Persediaan di Cushing, Oklahoma, titik pengiriman untuk kontrak AS, kehilangan 430.000 barel menjadi 60,01 juta barel. Produksi minyak mentah AS naik 304.000 barel menjadi 9,566 juta barel per hari. Read the rest of this entry

Sampai Kapan Harga Minyak Dunia ‘Terjun Bebas’?

Anjloknya harga minyak dunia saat ini di bawah US$ 50 per barel membuat banyak perusahaan minyak kelabakan. Sampai kapan kondisi ini berlangsung?

Dengan kondisi harga minyak dunia di bawah US$ 50 per barel, banyak proyek-proyek minyak dan gas bumi (migas) dihentikan, bahkan tidak sedikit perusahaan yang memberhentikan karyawannya untuk mengurangi besarnya dana operasional.

President Director and CEO PT Medco Energi Internasional Tbk, Lukman Mahfoedz mengatakan, beberapa pihak memperkirakan harga minyak akan kembali naik tahun ini. Seiring meningkatnya konsumsi energi akibat pertumbuhan ekonomi dunia.
Read the rest of this entry

Harga Minyak Anjlok ke Titik Terendah dalam 6 Tahun

Laju penurunan harga minyak dunia belum berhenti. Hari ini harga minyak kembali turun, sampai ke level terendahnya dalam 6 tahun terakhir.

Dilansir dari BBC, Senin (12/1/2015), harga minyak jenis Brent jatuh 2,6% ke level US$ 48,74 per barel. Ini merupakan harga terendah sejak April 2009.

Sementara harga minyak Light Sweet yang diproduksi di AS turun 2,3% ke level US$ 47,25 per barel. Read the rest of this entry

Per 1 Januari 2015, Premium Tanpa Subsidi dan Solar Rp7.200 Perliter

Pemerintah mengumumkan per 1 Januari 2015, BBM jenis Ron 88 atau premium sudah tidak akan disubsidi lagi, namun karena rendahnya harga minyak mentah dunia, harganya pun turun menjadi Rp7.600 per liter tanpa subsidi, dari sebelumnya Rp8.500 per liter.

Sedangkan untuk solar, harganya turun menjadi Rp7.200 per liter dengan subsidi tetap sebesar Rp1.000 per liter. Harga solar sebelumnya sebesar Rp7.500 per liter.

“Untuk minyak tanah tetap Rp2.500 per liter, solar turun, dan tetap diberikan subsidi jadi Rp7.200 per liter, premium tanpa subsidi turun menjadi Rp7.600 per liter,” ujar Menteri ESDM Sudirman Said di Jakarta, Rabu (31/12).

Dijelaskannya, walau saat ini premium tanpa subsidi lebih rendah dari sebelumnya, ini didasari pada rendahnya harga minyak mentah dunia, namun harga tersebut bisa berubah seiring perubahan harga minyak mentah dunia.

Sedangkan solar yang diberi subsidi tetap Rp1.000 per liter, harga solar tersebut tidak akan berubah mengikuti perkembangan minyak mentah dunia.

Sebagaimana diketahui, sebelumnya pada tanggal 18 November 2014 pemerintah menaikkan harga BBM subsidi jenis premium dari Rp6.500 per liter menjadi Rp8.500 per liter dan solar dari Rp5.500 per liter menjadi Rp7.500 per liter. Read the rest of this entry

Minyak Anjlok, Kebijakan Baru Harga BBM Diumumkan Akhir Tahun

Saat ini harga minyak dunia anjlok ke tingkat terendahnya, dan pasti akan mempengaruhi harga BBM. Apakah harga BBM subsidi akan kembali diturunkan?

Menko Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan, pemerintah sedang mengkaji sejumlah opsi terkait anjloknya harga minyak dunia, dan pengaruhnya terhadap harga BBM subsidi.

“Mudah-mudahan sebelum akhir tahun akan diumumkan kebijakan yang akan kita selesaikan secara permanen. Dengan turunnya harga minyak dunia. Ada tiga opsi yang paling baik yang akan kita ambil,” jelas Sofyan di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (12/12/2014). Read the rest of this entry

Minyak Di bawah 60 USD, Indeks Dow Jones Tumbang 315 Poin

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) tutup di level terburuk pada pekan ini jika dihitung sejak  2011 seiring bursa saham global bertumbangan setelah harga minyak turun ke level 58 USD per barel.

DJIA turun 1,8% (-315,51 poin) ke level 17.289,83 poin  dan Indeks S&P 500 turun 1,6 persen ke level 2.002,33 poin. Harga minyak WTI turun 3,6% ke level 57 USD/barel. Indeks benchmark bursa Eropa, The Stoxx Europe 600 turun 5,8% kumulatif secara mingguan, terburk dalam 3 tahun terakhir.

Analis Warren Financial Service and Associates Inc (Pennsylvania, AS) Randy Warren menilai jelas isu harga minyak menentukan segala sesuatunya. Kata dia, pertama terjadi over suplai minyak. Dan sekarang itu yang menambah ketakukan perekonomian global tumbuh sangat melambat. Kecemasan-kecemasan itu tentu beban terhadap sinyal positif yang terlihat di pasar domestik.

Harga minyak turun 12% kumulatif secara mingguan, merupakan koreksi turun ke-10 pekan sejak mulai pada Oktober. International Energy Agency memangkas estimasi demand global turun pada tahun 2015. Turunnya harga minyak menekan produsen yang mendorong permintaan terhadap surat utang bank sentral di Asia dan Eropa untuk mempertahankan stimulus guna mengatasi masalah deflasi.

Bursa global merugi 1 triliun USD pada pekan ini seiring jatuhnya pasar saham global setelah produksi manufaktur China melambat di bawah perkiraan.

Penjualan ritel di AS naik 0,7% di bulan November. Rendahnya inflasi memungkinkan the Fed memiliki ruang mempertahankan suku bunga acuan mendekati zero.
Read the rest of this entry

Rencana Kenaikan BBM Berpengaruh Positif Ke Empat Sektor Saham

Rencana pemerintah untuk meningkatkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi akan berpengaruh positif terhadap empat saham sektoral. Saham sektor agrisbisnis, pertambangan, barang konsumsi dan infrastruktur akan menjadi pilihan investor untuk dikoleksi di tahun ini.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) saham sektor agribisnis secara tahunan (year-to-date) memang masih minus 3,92%, sektor pertambangan menguat 2,85%, saham sektor barang konsumsi positif 8,19%, dan saham sektor infrastruktur plus 8,64%. Saham sektor properti, keuangan dan perdagangan dan jasa menjadi tiga saham dengan kenaikan tertinggi yakni masing-masing 32,5%, 18,05% dan 12,98%.

Analis PT AM Capital, Viviet S Puteri, mengatakan kenaikan BBM memang tidak berkorelasi langsung terhadap saham emiten produsen minyak dan gas. Akan tetapi dengan adanya kenaikan BBM maka rencana pemerintah untuk mengurangi pasokan BBM bersubsidi ke industri – khususnya untuk pembangkit listrik tenaga minyak bumi – dapat terealisasi.

“Alhasil dengan naiknya harga BBM maka pelaku industri akan mengalihkan penggunaan sumber daya alam ke gas dan batubara. Walaupun memang sampai dengan saat ini pasokan gas bagi pelaku industri masih kurang karena distribusi gas yang tidak merata sehingga permintaan gas nasional akan meningkat,” ujar Viviet, Senin (18/3).

Untuk perusahaan pertambangan, lanjut Viviet, saat ini penggunaan minyak untuk pengeboran di mulut tambang sudah mulai terganti dengan tenaga uap. Dengan meningkatnya harga BBM bersubsidi maka kemungkinan pemerintah akan lebih mendorong perusahaan tambang dan migas untuk terus mengurangi permintaan BBM bersubsidi untuk industri dan menggunakan energi alternatif lainnya.

“Sehingga dampaknya akan terjadi efisiensi biaya operasional pada perusahaan pertambangan. Hal ini membuat prospek industri pertambangan akan menjadi lebih baik,” tambah Viviet.

Sedangkan saham agribisnis, papar Viviet, kebijakan pemerintah saat ini yang mengharuskan perusahaan perkebunan untuk membangun industri hilir dan pengolahannya akan meningkatkan harga jual kelapa sawit (crude palm oil/CPO). Sehingga akan terjadi penguatan terhadap saham emiten produsen CPO dalam jangka panjang.

Ketua Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI), Haryajid Ramelan, mengatakan akan terjadi perputaran rotasi sektoral jika kenaikan harga BBM teralisasi. Sektor yang kini menjadi unggulan seperti properti, dan keuangan berpotensi terkoreksi.
Read the rest of this entry

Minyak Merosot Tajam Di US$ 102,54

Mengikuti pelemahan harga sebagian besar komoditas lainnya, minyak mentah akhirnya ditutup melemah, Kamis (3/5), sementara gas alam justru menguat.

Minyak mentah untuk pengiriman Juni merosot US$2,68, atau 2,6%, menjadi US$102,54 per barel di New York Mercantile Exchange. Ini adalah level penutupan terendah dalam dua pekan.

Klaim tunjangan pengangguran AS yang turun melebihi ekspektasi ikut membantu menahan harga minyak tidak jatuh terlalu dalam. Namun data ini tidak banyak berarti sampai dirlisnya data tenaga kerja AS akhir pekan ini, kata Hamza Khan, analis dari The Schork Group di Philadelphia.

Tekanan terbesar bagi minyak adalah laporan cadangan minyak AS yang meningkat sangat signifikan, yang membuat cadangan minyak AS ini adalah yang tertinggi dalam 21 tahun.

Sementara gas alam bergerak berlawanan arah dengan mencatat lonjakan harga 3,9% setelah laporan cadangan mingguan dirilis. Harga kontrak Juni naik 9 sen dolar menjadi US$2,34 per million British thermal units.

Energy Information Administration melaporkan terjadi kenaikan cadangan gas sebesar 28 billion cubic feet pada pekan yang berakhir 27 April. Sedangkan analis memperkirakan naik
antara 30 billion cubic feet hingga 34 bcf.
Read the rest of this entry

Obligasi Italia Ambruk, Minyak Dunia Terpuruk

Minyak dunia melemah pada perdagangan Rabu (9/11) dengan makin memburuknya krisis utang Eropa.

Minyak mentah AS jenis light sweet turun US$1,06 menjadi US$95,74 per barel untuk Desember di New York Mercantile Exchange (NYMEX). Untuk minyak jenis Brent turun US$2,6 menjadi US$112,10 per barel di London.

Investor khawatir dengan jatuhnya obligasi 10 tahun Italia karena anjloknya imbal hasil mencapai 7%. Hal ini telah meruntuhkan bursa saham Eropa dan kurs euro terhadap dolar AS.

“Orang takut karena Italia terlalu besar untuk diselamatkan. Hal ini mendorong investor keluar dari aset berisiko sehingga memperkuat risiko ganda dengan menurunkan permintaan minyak dunia,” kata Michael Hewson dari CMC Markets. Selain itu persediaan minyak AS turun sebesar 1,4 juta barel pada pekan lalu karena turunnya impor.

 

Sumber : inilah.com