Blog Archives

Semen Indonesia Bagi Dividen Total Rp1,81 Triliun

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) menyetujui pembagian dividen tahun buku 2016 senilai Rp304,92 per saham atau senilai total Rp1,81 triliun.

Direktur Utama SMGR, Rizkan Chandra kepada pers di Jakarta, Jumat (31/4) mengatakan pembagian dividen tersebut setara 40 persen dari raihan laba bersih sepanjang 2016 lalu senilai Rp4,52 triliun.

“Jumlah dividen yang dibagikan ini terbilang sama dengan pembagian dividen tahun buku 2015,” katanya. Read the rest of this entry

Advertisements

Penjualan semen mulai semakin kokoh

Penjualan semen yang lesu mulai menggeliat, setelah proyek infrastruktur pemerintah mulai berjalan. Meski demikian, efek negatif kondisi oversupply dan pelemahan nilai tukar rupiah masih mewarnai bisnis semen tahun ini. Titik terang membaiknya penjualan bubuk abu-abu terlihat dari kenaikan permintaan pada Agustus 2015.

Menurut Asosiasi Semen Indonesia (ASI), Agustus tahun ini permintaan semen naik 14,7% dibandingkan Agustus tahun lalu menjadi 5,34 juta ton. Widodo Santoso, Ketua Asosiasi Semen Indonesia, mengatakan, kenaikan permintaan bulan Agustus merupakan indikasi bergeraknya pembangunan infrastruktur dan perumahan atau apartemen. Hal ini juga terkait cairnya dana-dana proyek.

Tapi jangan happy dulu. Sebab kondisi oversupply semen masih terjadi. Namun Reza Priyambada Kepala Riset NH Korindo Securities, mengatakan, dibandingkan kuartal II, kondisi oversupply sudah tereduksi. Read the rest of this entry

Antam Ciputra Terlempar, Ini Daftar Saham LQ-45 Agustus 2015-2016

PT Bursa Efek Indonesia mengumumkan daftar baru anggota 45 saham paling likuid dalam Indeks LQ-45 periode Agustus 2015-Januari 2016. Dua emiten terlempar dan dua lainnya masuk sebagai anggota baru.

Eko Siswanto, Kepala Divisi Operasional Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), mengatakan perubahan Indeks LQ45 berlaku untuk periode perdagangan Agustus 2015 sampai Januari 2016.

Dua emiten yang terlempar dari Indeks LQ45 yakni PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) [525 -5 (-0,9%)] dan PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) [1,070 -85 (-7,4%)]. Adapun, dua anggota baru indeks bergengsi ini adalah PT Sri Rejeki Isman Tbk. (SRIL) [455 5 (+1,1%)] dan PT Wijaya Karya Beton Tbk. (WTON) [1,020 -5 (-0,5%)].

Berikut daftar lengkap saham LQ-45 periode Agustus 2015-Januari 2016:

Read the rest of this entry

Ada peluang di saham bagus berharga murah

Saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun, yang harus diingat adalah buy on weakness. Membeli ketika turun dan bukan sebaliknya. Kalau kita panik dan ikut menjual saham ketika pasar turun, kemudian pasar berbalik arah, kita akan rugi. Demikian nasihat investor kenamaan Lo Kheng Hong kala berbincang dengan Tabloid KONTAN, Selasa, 5 Mei 2015 lalu.

Lo yakin, ketika IHSG turun, suatu hari nanti akan kembali naik, bahkan kenaikannya lebih tinggi dari IHSG sebelumnya. Buktinya, posisi IHSG saat ini jauh lebih tinggi dari sebelum krisis 1998 dan 2008.

Yang menjadi pekerjaan rumah (PR) investor adalah menemukan emiten berkinerja baik dan bertumbuh namun harga sahamnya murah, lepas dari kondisi pasar tengah naik atau turun. “Saya membeli saham dalam kondisi saya tidak tahu pasar akan naik atau turun,” ujar Lo, yang mendapat julukan Warren Buffett Indonesia itu.

PR untuk menemukan dan berinvestasi di saham-saham bagus berharga murah sejatinya menjadi kepentingan setiap investor, bukan cuma Lo.

Repotnya, ketika IHSG berada dalam tekanan seperti saat ini, banyak saham yang harganya sudah terbanting namun tidak semua memiliki fundamental bisnis bagus dan kinerja terus bertumbuh.

Setiap orang tentu punya cara pandang yang berbeda-beda soal bagus tidaknya sebuah saham. Tabloid KONTAN mencoba menyodorkan beberapa saham pilihan dengan fundamental bagus dan berharga murah. Sudah pasti, pilihan investasi tetap di tangan Anda.
• Consumer goods

Selama ini sektor consumer goods dianggap sebagai salah satu tembok pertahanan terbaik di bursa saham. Sifat defensif ini berkat sokongan konsumsi domestik yang tinggi.

Namun, daya beli masyarakat kini sudah banyak tergerus.  Buktinya, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dibuat berdasar survei Bank Indonesia. Pada empat bulan pertama 2015, meski masih di atas level 100, IKK terus merosot. Per April, IKK hanya 107,4 turun 9,5 poin ketimbang Maret 2015.

Faktor lainnya, bahan baku impor, seperti gandum yang menjadi komponen utama banyak produk konsumsi, harus ditebus lebih mahal akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Kombinasi dua faktor inilah yang membuat kinerja sebagian emiten barang konsumsi di bursa saham di kuartal I–2015 tak sejalan dengan ekspektasi para analis.

Nama-nama besar seperti PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mengalami penurunan laba bersih yang cukup signifikan, masing-masing 37% (year-on-year/yoy) dan 9,5%. Namun emiten primadona lainnya, seperti UNVR dan ROTI memperlihatkan kinerja yang kinclong. Misalnya, laba bersih ROTI yang naik 9,6% menjadi Rp 67,12 miliar.

Steven Satya Yudha, Associate Director Marketing and Distribution Ashmore Asset Management Indonesia, tak terlalu tertarik dengan sektor defensif macam consumer goods. Salah satu alasannya, kebijakan pencabutan subsidi meski bagus untuk sektor infrastruktur, tapi tidak mendukung sektor konsumsi.

Namun, Harry Su, Kepala Riset Bahana Sekuritas, menilai, sektor barang konsumsi masih punya potensi pertumbuhan yang bagus di masa depan. Jika disimak, konsumsi rumahtangga memang masih jadi penyumbang terbesar produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Bermodal jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia, posisinya juga belum akan tergantikan dalam tempo beberapa tahun mendatang.

Harry merekomendasikan beberapa saham yang bisa dicermati, di antaranya PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dengan target harga 2015 di Rp  48.500 per saham. Reza Nugraha, analis MNC Securities, merekomendasikan posisi beli UNVR di Rp 44.900 per saham.

Kepala Riset Mandiri Sekuritas John Rachmat juga merekomendasikan saham UNVR. Rekomendasi posisi masuk ke saham ini secara teknikal di 40.000–41.000. Pada penutupan perdagangan Kamis (7/5), UNVR ditutup turun 3,93% ke Rp 43.400 per saham.

Mandiri juga merekomendasikan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dengan target harga Rp 16.800 per saham. Pintu masuk ke saham ICBP bisa di 13.000–13.300. Sementara Harry memproyeksikan target harga di Rp 18.200 per saham. Pada perdagangan Kamis, ICBP naik 1,65% ke Rp 13.900 per saham.

Sementara Henan Putihrai Sekuritas menjagokan saham PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) dengan target harga Rp 1.600 per saham. Nah, jika ingin mengoleksi saham perusahaan roti massal terbesar di Indonesia ini, analis Henan Putihrai, Boy Ariandi, menyarankan posisi beli di 1.160–1.140.

Bahana Sekuritas merekomendasikan target harga Rp 1.750 per saham. Posisi beli, kata Reza, disarankan di Rp 1.300 per saham. Kamis, selembar saham ROTI ditutup turun 1,28% di Rp 1.155 per saham.
• Perbankan

Kinerja emiten sektor perbankan di kuartal I–2015 memang tidak menggembirakan. Pertumbuhan laba bersih rata-rata perbankan lebih lambat ketimbang sebelumnya, hanya satu digit. Ambil contoh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang labanya cuma naik 3,52% menjadi Rp 6,14 triliun  dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang untung bersihnya cuma naik 4,34% jadi Rp 5,13 triliun.

Namun, Kepala Riset Universal Broker Satrio Utomo menilai perbankan menjadi salah satu sektor yang paling cepat pulih jika ada perbaikan ekonomi. “Ketika kembali ke bursa saham lokal, para investor asing biasa melihat sektor bank dulu,” kata Tommy, sapaan akrabnya.

Dari jajaran bank kelas menengah,  Irwan Ariston Napitupulu menyebut PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) layak dicermati. Di kuartal I–2015, laba BBTN naik 18% menjadi Rp 402 miliar.

Nah, investor saham kawakan ini menilai, target pertumbuhan laba bersih BBTN 40% sepanjang tahun ini bisa tercapai. Salah satunya lewat program satu juta rumah yang dicanangkan pemerintah. “Harga Rp 1.500 per saham–Rp 2.000 per saham di akhir tahun enggak sulit tercapai,” katanya. Kamis, harga BBTN turun 0,45% ke Rp 1.110 per saham.

Sementara Muhammad Al Fatih, analis Samuel Sekuritas, menyebut saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menarik dicermati. Secara teknikal, level support  kuat BMRI ada di 10.950. Sementara resistance di 11.775. “Harga ideal untuk membeli saham berada pada level 10.700–10.900,” kata Al Fatih. Pada perdagangan 7 Mei, saham BMRI turun 2,97% ke 11,175.

Analis Danpac Sekuritas Teuku Hendry Andrean mematok target harga BMRI di Rp 13.600 per saham. Cuma, ia tidak merekomendasikan level harga yang bisa menjadi titik masuk bagi investor. “Tren akan terus cenderung menurun, sehingga ketika melakukan akumulasi harus hati-hati karena sangat rawan,” terangnya.

Untuk masuk ke saham perbankan, investor sebaiknya memang berhati-hati.

Toga Yasin Panjaitan, analis Bumiputera Sekuritas, mengingatkan, jika The Federal Reserve (The Fed) jadi menaikkan suku bunga, saham-saham perbankan bisa mengalami koreksi signifikan. “Tunggu sampai tanggal 21 Mei saat Amerika kasih keputusan,” ujar Toga.
• Jasa konstruksi

Pada era pemerintahan Joko Widodo (Jokowi), ekspektasi investor terhadap emiten jasa konstruksi melambung, terutama sejak anggaran subsidi dialihkan untuk pembangunan infrastruktur. Namun kenyataannya, pengerjaan proyek-proyek infrastruktur tidak berjalan cepat. Saat ini, sekitar 80% kontrak proyek sudah diteken, namun banyak di antaranya yang masih terkendala masalah pembebasan lahan.

Tak aneh jika harapan tinggi investor tidak sejalan dengan hasil kinerja emiten jasa konstruksi, terutama pelat merah pada kuartal I–2015.

Laba bersih PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) longsor 63,2% (yoy) jadi tinggal Rp 61,5 miliar. Sementara untung bersih PT Adhi Karya Tbk (ADHI) anjlok 34,5% menjadi Rp 10,6 miliar. Hanya saja, dalam tempo yang sama, laba bersih PT PP Tbk (PTPP)  justru melonjak 52% menjadi  Rp 93,6 miliar.

Kini, investor tengah menanti apakah proyek-proyek infrastruktur pemerintah bisa segera berjalan pada kuartal II. Soalnya, kalau proyek infrastruktur baru akan digelar mulai kuartal III, dikuatirkan anggaran yang sedemikian besar, mencapai Rp 290,3 triliun, tidak terserap sepenuhnya. “Setelah melihat kuartal I, investor jadi ragu apakah dana infrastruktur segitu bisa digunakan sebagai spending 100%,” kata Steven.

Namun Irwan sedikit lebih optimistis. Menurutnya, dalam kondisi ekonomi sulit seperti sekarang, belanja pemerintah akan menjadi trigger bagi pertumbuhan. “Arah belanjanya sudah terlihat ke infrastruktur. Perusahaan yang banyak menikmati pasti BUMN,” kata Irwan.

Jika sesuai rencana, ada harapan saham-saham di sektor jasa konstruksi bakal segera kembali melambung. Toga Yasin Panjaitan, analis Bumiputera Sekuritas, merekomendasikan posisi beli ADHI di 2.750–2.815. Berdasar data Bloomberg, analis Danareksa Joko Soegi merekomendasikan target harga ADHI di Rp 3.700 per saham. Perdagangan Kamis, saham ADHI naik 0,89% ke Rp 2.825 per saham.

Sementara, analis teknikal Sucorinvest Central Gani, Achmad Yaki, menyarankan buy on weakness WSKT di 1.305–1.875. Ia mematok target harga WSKT di 2.100. Kamis (7/5) WSKT ditutup di Rp 1.775 per saham.

Untuk emiten swasta, analis Henan Putihrai, Johanes, merekomendasikan PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) dengan target harga 12 bulan di Rp 1.600  per saham. Kontrak baru yang dikantongi NRCA pada kuartal I 2015 mencapai Rp 1,5 triliun. Sementara sepanjang tahun ini target kontrak baru mereka Rp 4,1 triliun. “NRCA speculative buying jika di atas harga Rp 1.045 per saham,” tambah Boy. Pada 7 Mei lalu NRCA ditutup naik 2,90% ke Rp 1.065 per saham.

Mau ikutan koleksi?

Sumber : kontan.co.id

http://belajar-cara-membuat-website.blogspot.com/
http://ide-peluang-bisnis.blogspot.com/p/jasa-pembukuan.html

Ini Daftar Laba 41 Emiten Bluechips LQ-45

Laba bersih emiten yang tergabung dalam indeks LQ-45 pada kuartal I/2015 jeblok alias turun 5,15% dengan pendapatan hanya tumbuh 2,57% pada periode yang sama. Simak daftar lengkapnya.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis.com, sebanyak 41 emiten LQ-45 telah mengumumkan laporan keuangan kuartal I/2015.

Sedangkan, empat emiten yang belum merilis kinerja adalah PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE), PT Excel Axiata Tbk. (EXCL), PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG), dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG).

Dari 41 emiten tersebut, sebanyak 40 emiten membukukan laba bersih dengan total Rp42,64 triliun pada periode Januari-Maret 2015, dibandingkan dengan tahun lalu Rp44,96 triliun. Read the rest of this entry

Tahun Ini Marjin Emiten Semen Diperkirakan Tergerus 3%

Awal Januari 2015 pemerintah mengumumkan harga jual semen turun Rp3000 per sak. Sebagai akibatnya PT Semen Indonesia Tbk [SMGR 13,650 0 (+0,0%)] dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk [INTP 21,925 0 (+0,0%)] menurunkan harga jual produk masing-masing 5% dan 4% di awal tahun 2015.

Intervensi pemerintah tersebut diyakini terutama karena kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga BBM pada awal Desember 2014. “Dengan inflasi yang terkontrol, diperkirakan tidak akan ada lagi intervensi pemerintah lebih lanjut. Diperkirakan produsen semen akan menikmati lagi kekuatan harga di tahun ini,” kata analis Indo Premier Securities Chandr Pasaribu dalam riset yang dipublikasikan baru-baru ini.

Meskipun harga jual turun, produsen semen dapat menghindari penciutan marjin berdasarkan manfaat penurunan biaya energi. Biaya energi, batu bara dan listrik dihitung sekitar 30%-35% dari biaya jual produk.

Harga patokan batu bara dan tarif listrik turun masing-masing 1,6% dan 2,7% (QoQ). Tarif listrik tidak mendapat subsidi dan akan fluktuatif bersamaan dengan harga minyak, nilai tukar dan inflasi.

Biaya Logistik
Diperkirakan terjadi pengurangan biaya logistik karena turunnya harga bbm subsidi dan non subsidi. Sebagian logistik diangkut dengan BBM subsidi, khususnya transportasi darat. Sementara transportasi laut memakai BBM non subsidi.

Subsidi BBM mesin diesel (high speed diesel/HSD) turun 12,3% (QoQ) menjadi Rp11.338 per liter per Maret 2015. Sedangkan BBM non subsidi bagi HSD turun 3,2% (QoQ) menjadi Rp6.400 per liter. Biaya transportasi dihitung sekitar 15%-17% dari total biaya. Penurunan harga BBM subsidi dan non subsidi akan melonggarkan tekanan terhadap marjin.

Faktor Volume
Industri semen sudah menikmati marjin tinggi paa beberapa tahun terakhir seiring keseimbangan suplai and demand. Saat ini sebagian besar pabrikan semen telah menambah kapasitas. Tingkat Kapasitas terpasang industri yang sehat 80% sampai 85%. Namun hal ini akan mengenyahkan kekuatan harga yang dinikmati oleh pabrikan semen dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan marjin yang relatif sudah normal, industri semen di Indonesia akan kurang menarik bagi pemain baru, jadi menciptakan keseimbangan yang berkelanjutan bagi industri semen. Namun demikian, ini berarti bawah pertumbuhan produsen semen akan tergantung pada volume daripada pertumbuhan marjin.

“Kami perkirakan perimintaan terhadap semen tumbuh 5,5% di tahun 2015 dan kemudian naik 10% di tahun 2016 dengan asumsi investasi di sektor infrastruktur membaik. Diperkirakan marjin emiten semen akan melemah 2% hingga 3% di tahun ini,” kata Chandra. (mk)Â

Read the rest of this entry

Inilah Target Harga Saham SMGR dan INTP 2015

Capital gain saham-saham di sektor semen khususnya saham SMGR dan INTP diprediksi potensial tumbuh 20% untuk 2015. Karena itu, rekomendasi beli untuk target tahun ini.

Pada perdagangan Jumat (2/1/2015) saham PT Semen Indonesia (SMGR) ditutup stagnan di Rp16.200 per saham dan saham PT Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) ditutup turun Rp200 (0,8%) ke Rp24.800 per saham.

Pengamat pasar modal John Veter mengaku optimistis untuk saham-saham di sektor semen pada 2015. “Saya optimistis, potensi IHSG, saham-saham konstruksi, dan saham-saham semen memang cukup baik,” katanya kepada INILAHCOM di Jakarta, akhir pekan ini.

Untuk sektor semen, saya perkirakan masih ada potensi penguatan hingga 20% untuk 2015. “Saham PT Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) masih potensial naik ke Rp28.000 per saham. Lalu, PT Semen Indonesia (SMGR) masih berpotensi menguat ke Rp20.000-21.000,” ujarnya.

Sementara itu, untuk saham PT Holcim Indonesia (SMCB), Veter mengaku tidak mencermatinya. “Sebab, di antara saham-saham semen yang menarik adalah hanya SMGR dan INTP. SMCB dan PT Semen Baturaja (SMBR), tidak terlalu menarik karena laporan keuangannya tidak bagus,” timpal dia.

SMBR, dia menjelaskan, memang masih kecil dari sisi pertumbuhannya dan merupakan emiten BUMN. “Akan tetapi, sejak lama SMBR memang kecil, enggak gede-gede, sehingga untuk sahamnya, saya tidak mencermatinya,” ucap dia.

Katalis di sektor semen, dia menegaskan, masih berasal dari pengeluaran pemerintah. “Sebab, APBN 2015, pengeluaran pemerintah untuk infrastruktur naik dari Rp200-an triliun menjadi Rp400 triliun. Karena itu, target IHSG 2015 adalah 6.250 yang ditopang oleh saham-saham konstruksi dan semen,” papar dia.

Soal Produk Domestik Bruto (PDB), dengan pengeluaran pemerintah untuk infrastruktur bukan untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, seharusnya PDB 2015, menurut dia, bisa tumbuh lebih cepat dibandingkan 2014.

Jadi, pengeluaran untuk konstruksi justru menjadi sumber pertumbuhan ekonomi. “Saya rekomendasikan beli saham SMGR dan INTP untuk investasi jangka panjang dengan target full year 2015 yang saya sebutkan tadi,” imbuhnya.

Read the rest of this entry

Harga BBM Naik, Beli Saham-saham Ini

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dinilai jadi katalis positif bagi penguatan pasar saham Indonesia. Banyak saham direkomendasikan beli.

Gema Goeyardi, pendiri PT Astronacci Internasional mengatakan, venus memasuki zodiac baru pada 17 November 2014 kemarin dan Dua siklus astrologi Sun Square Jupiter dan Mars Square Uranus yang terjadi minggu lalu akan memberikan dampak bullish continuation pada IHSG.

“Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi sebanyak Rp2.000 untuk premium dan solar akan menjadi katalis positif penguatan pasar saham Indonesia yang secara bersamaan pola harga pada IHSG telah siap naik lebih tinggi pasca mengalami konsolidasi kecil,” katanya kepada INILAHCOM di Jakarta, Selasa (18/11/2014).

Selasa menurut Gema, akan menjadi the confirmation day untuk pergerakan IHSG ke depan. Break out pada 17 November 2014 seharusnya disertai dengan penguatan lanjutan mencapai target harga terdekat di level 5.124 menutup area gap 1 Oktober 2014.

Bayang-bayang negatif dari ekonomi Jepang yang mengalami technical recession di kuartal ke 3 sehingga membuat indeks Nikkei terjatuh dalam, akan menjadi penghambat indeks naik secara agresif dalam minggu ini. “Oleh karena itu, bullish pendek IHSG terbatas hingga 5.180,” tuturnya.

Dari perspektif pasar AS, kenaikan Dow Jones diperkirakan hingga 17.800 dan 18.200. Anda tetap aman untuk trading hingga 20 November 2014 menyambut New Moon dan effect dari Sun Conjunction Saturn. “Selama IHSG tidak turun dari 4.900 maka bullish jangka menengah tetap akan bertahan di pasar,” imbuhnya.

Di atas semua itu, Gema menyodorkan strategi trading. Berikut ini rincian penjelasannya:

Read the rest of this entry

Laba Semen Indonesia Q3 Naik Tipis

PT Semen Indonesia tbk (SMGR) mencatat laba komprehensif yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas publik pada sembilan bulan pertama tahun ini sektiar Rp4,070 triliun, naik 4,6% dari periode serupa tahun lalu Rp3,890 triliun.

Direktur Utama SMGR Dwi Soetjipto menuturkan, capaian ini didukung oleh peningkatan pendapatan sebesar 11,25% menjadi Rp19,348 triliun dari Rp17,390 triliun. Seiring dengan kenaikan pendapatan, beben pokok pendapatan turut naik 12,36% menjadi Rp10,898 triliun dari Rp9,550 triliun.

Di sisi lain, volume penjualan dalam sembilan bulan pertama tahun ini meningkat tipis sekitar 3,8% menjadi 18,922 juta ton, dibandingkan periode yang sama tahun lalu 18,231 juta ton. Read the rest of this entry

Waspadai Saham-saham Ini Jika Harga BBM Subsidi Jadi Naik

Inflasi bulan Agustus diperkirakan melanjutkan trend lambat mengingat situasi agak tenang pasca musim liburan sebagaimana pula ekspektasi konsensus inflasi sebesar 0,42% (MoM) dan 4,01% (YoY) versus inflasi Juli 0,93% (MoM) dan 4,53% (YoY).

Sementara itu neraca perdagangan diperkirakan berlanjut lesu selama Juli sebagaimana ekspektasi defisit yang berlanjut sebesa 406 juta USD versus defisit bulan Juni sebesar 305 juta USD.

Hal ini tampaknya menjadi sesuai dengan estimasi Bank Indonesia yang memperkirakan defisit current account (CA) di kuartal terakhir tetap tinggi sekitar 8 miliar USD di kuartal III/3Q14) versus 2Q sebesar 9 miliar USD dan pada 1Q senilai 4 miliar USD dan sebesar 6 miliar USD pada 4Q.

“Jika hal ini terbukti akurat, ini akan mengantarkan defisit CA sekitar 27 miliar USD di tahun 2014,” demikian menurut PT Indo Premier Securities dalam risetnya, Senin (1/9). Defisit CA 2013 senilai 29 miliar USD. Data CA tersebut hanya akan menjadi kenaikan yang marjinal menjadi 3,2% terhadap GDP di tahun 2014 versus 3,3% di tahun 2013.

Menurut Indo Premier, kini pasar fokus pada implikasi rencana Joko Widodo untuk menaikkan harga BBM subsidi yang diperkirakan pada Nopember mendatang. Presiden terpilih tersebut mengindikasikan alokasi belanja APBN pada pos subsidi BBM kepada pembiayaan program populisnya. Kenaikan BBM subsidi antara Rp 500 – Rp3.000 per liter diterapkan secara bertahap. “Kami perkirakan paling mungkin harga BBM subsidi akan naik Rp1.500 per liter (naik 23%),” tulis Indo Premier.

Pemerintah memperkirakan tiap kenaikan harga BBM subsidi sebesar Rp500 per liter berdampak pada kenaikan CPI inflasi 0,6%. Ini berarti potensi kenaikan inflasi 1,8 ppt di bawah skenario ini yang berpotensi mendongkrak inflasi akhir tahun 7% di tahun 2014 versus tahun 2013 sebesar 8,38% berdasarkan ekspektasi konsensus inflasi pra kenaikan BBM subsidi saat ini sebesar 5,1%. Dengan demikian BI diperkirakan akan mempertahankan BI rate di level 7,5%. Menurut Indo Premier, kenaikan harga BBM subsidi berdampak positif terhadap keberhasilan neraca fiskal dan neraca eksternal secara berkelanjutan.

Kinerja Emiten
Meskipun kenaikan harga BBM subsidi berdampak positif terhadap makroekonomi Indonesia, pasar akan fokus pada dampak negatif terhadap laba emiten dibanding perbaikan makro ekonomi. Dampak terhadap laba emiten akan tercermin tahun depan.

Diperkirakan dampak negatif kenaikan harga BBM subsidi pada sebagian besar sektor dan emiten di Indonesia di berbagai tingkatan. Dampak yang terasa pada laba karena kenaikan inflasi/kenaikan harga, biaya/margin karena naiknya biaya transportasi/logistik/energi atau karena faktor keduanya. Transportasi, otomotif, semen, konsumer sebagai berpotensi sensitif terhadap kenaikan harga BBM.

Sementara sektor lainnya seperti banking, komoditas, telekomunikasi, utility (distribusi gas, jalan tol) dan properti/konstruksi akan netral terhadap kenaikan harga BBM dengan asumsi tidak ada kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Di sektor konsumer, emiten dengan harga yang kuat, merek terkenal dan atau karena elastis terhadap demand akan kurang terkena dampak negatif kenaikan harga BBM subsidi. Sedangkan emiten dengan target market low-end seperti ritel low-end dan produsen dengan bahan baku massal mungkin akan terkena dampak negatif dengan adanya kenaikan inflasi akibat kenaikan harga BBM.

Indo Premier menyarankan pasar fokus pada dampak potensi kenaikan harga BBM pada saham transportasi seperti Express Transindo [TAXI 1,320 10 (+0,8%)] (rekomendasi Buy), produsen otomotif Astra International [ASII 7,625 50 (+0,7%)] (Buy) dan juga saham-saham semen seperti Semen Indonesia [SMGR 16,250 25 (+0,2%)] (Buy) dan Indocement Tunggal Prakarsa [INTP 24,125 -125 (-0,5%)] (Buy).

Sektor consumer, Indofood CBP [ICBP 10,900 400 (+3,8%)] (Hold), Ramayana [RALS 1,020 25 (+2,5%)] dan Mayora Indah [MYOR 30,875 250 (+0,8%)] relatif paling rentan terhadap rencana kenaikan harga BBM subsidi.
Read the rest of this entry