Blog Archives

Rights Issue 4 BUMN Segera Digelar

Kementerian BUMN menyatakan peraturan pemerintah terkait dengan Penyertaan Modal Negara (PMN) untuk empat BUMN yang telah berstatus sebagai emiten telah disetujui oleh pemerintah.

Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan PP PMN untuk PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA)., PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR)., PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS)., dan PT PP (Persero) Tbk (PTPP). telah disetujui.

“bulan ini rights issue itu akan terlaksana” katanya, akhir pekan lalu.

Seperti diketahui, empat BUMN itu akan melakukan rights issue setelah disetujui oleh Komisi VI, Komisi XI dan Badan Anggaran DPR untuk menerima PMN yang dianggarkan dalam APBN Perubahan 2016.

Berdasarkan peraturan yang berlaku, setiap penambahan modal kepada BUMN harus dilandasi PP. Oleh karena itu, sebelum dapat melakukan rights issue, 4 BUMN itu akan harus mendapatkan peraturan yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo.

Pada November 2016, dua BUMN yakni Wijaya Karya dan Krakatau Steel diperkirakan terlebih dulu melakukan pelaksanaan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dulu (HMETD).

Wijaya Karya berencana melaksanakan dan menggelar perdagangan HMETD itu pada 17-23 November atau mundur dari rencana semula pada 3-9 November. Wijaya Karya adalah satu-satunya BUMN yang telah menetapkan harga pelaksanaan yakni sebesar Rp2.180 dari rentang Rp1.525-Rp2.505 yang di umumkan sebelumnya. Read the rest of this entry

Advertisements

Dibalik Tenaga Penguatan Saham WIKA 50,5 Persen

Pada kondisi pasar bullish, pergerakan harga saham PT Wijaya Karya (WIKA) berpeluang ditransaksikan dengan PER 20 kali atau memiliki ruang penguatan 50,5% dari harga saat ini. Seperti apa?

Pada sesi pertama perdagangan Senin (4/4/2016) hingga pukul 10.23 WIB, saham PT Wijaya Karya (WIKA) ditransaksikan menguat Rp35 (1,3%) ke posisi Rp2.675. Harga tertinggi di Rp2.685 dan terendah Rp2.660. Jumlah lot yang ditransaksikan mencapai 36.411 senilai Rp9,7 miliar.

Menurut David Sutyanto, analis riset First Asia Capital, saham WIKA punya support jangka pendek di Rp2.600 dan resisten di Rp2.700. “Harga saham Wijaya Karya Tbk (WIKA) akhir pekan lalu rebound tutup di Rp2.640 setelah sempat tertekan di Rp2.580,” katanya dalam riset yang diterima INILAHCOM di Jakarta, Senin (4/4/2016). Read the rest of this entry

Pekan Ketiga, WIKA Kantongi Kontrak Rp4,67 Triliun

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk menorehkan pencapaian kontrak baru hingga pekan ketiga Maret 2016 sebesar Rp4,67 triliun atau 8,84% dari target kontrak baru sepanjang tahun ini, yakni Rp52,80 triliun.

“Perolehan kontrak baru tersebut meningkat 37,35% dibandingkan periode yang sama tahun 2015,” kata Sekretaris Perusahaan Suradi melalui siaran pers diterima Selasa (22/3).

Menurut dia, beberapa proyek yang telah diperoleh hingga pekan ketiga bulan ini antara lain pembangunan hotel, perkantoran dan Convention Hall Grup Puncak Surabaya (Rp1,45 triliun), Rusun Atlet Kemayoran (Rp978 miliar), flyover Semanggi (Rp313,69 miliar), jaringan gas Prabumulih (Rp296 miliar), proyek strategis Kementerian ESDM yang terdiri dari SPBG Bekasi, Fasilitas penerangan jalan umum, tank bahan bakar nabati, pembangunan pembangkit listrik mini hydro di Papua (Rp207,33 miliar). Read the rest of this entry

WIKA dan ADHI berburu kontrak baru

Tak ingin kehilangan momentum, emiten konstruksi menggeber ekspansi di awal tahun ini. Dua emiten konstruksi pelat merah, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) [2,550 0 (+0,0%)] dan PT Adhi Karya Tbk (ADHI) [2,730 20 (+0,7%)], mengantongi kontrak anyar senilai total Rp 6,37 triliun sekaligus mencatatkan pertumbuhan signifikan.

Hingga pekan kedua Maret 2016 misalnya, WIKA [2,550 0 (+0,0%)] meraih kontrak baru sekitar Rp 4,67 triliun. Pencapaian tersebut setara dengan 8,9% dibandingkan target kontrak anyar tahun ini yang mencapai Rp 52,2 triliun.

Pencapaian tersebut tumbuh 35,76% ketimbang perolehan kontrak baru di periode yang sama tahun lalu, Rp 3,44 triliun. Sedangkan ADHI [2,730 20 (+0,7%)] mengantongi kontrak anyar Rp 1,7 triliun per akhir Februari 2016.

Jumlah tersebut setara 6,7% target kontrak baru 2016 senilai Rp 25,1 triliun. Angka itu tumbuh 25,5% ketimbang kontrak baru di periode sama tahun lalu Rp 1,3 triliun.

Menurut Suradi Wongso, Sekretaris Perusahaan WIKA [2,550 0 (+0,0%)], sekitar 31% kontrak baru atau Rp 1,45 triliun disumbangkan anak usaha PT Wika Gedung. “Wika Gedung bekerjasama dengan Grup Puncak membangun sejumlah proyek di Surabaya,” kata Suradi, dalam keterangan resmi yang diperoleh KONTAN, Sabtu (12/3).

Wika Gedung mendapatkan kontrak dari Grup Puncak menggarap proyek pembangunan hotel, gedung perkantoran, convention hall dan apartemen di Surabaya. Penandatangan kerjasama berlangsung pada 12 Maret 2016.

Hotel yang akan dibangun terdiri dari 12 lantai, mal dan convention hall tiga lantai serta apartemen meliputi lima tower dengan kapasitas 4.320 unit. Lingkup pekerjaan Wika Gedung dalam proyek tersebut terdiri dari pekerjaan desain dan struktur, pekerjaan tiang pancang, arsitektur, mechanical, electrical, plumbing (MEP) sertaeskternal.

Pekerjaan tersebut direncanakan rampung selama 1.460 hari kalender kerja. Selain kontribusi dari anak usaha, perolehan kontrak baru perseroan antara lain didapat dari proyek pembangunan jaringan gas Prabumulih senilai Rp 296 miliar bersama konsorsium PT Rekayasa Industri dan NK.

Dalam proyek tersebut, WIKA [2,550 0 (+0,0%)] memegang porsi terbesar, yakni mencapai 60%. WIKA [2,550 0 (+0,0%)] juga dipercaya menggarap proyek strategis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yang terdiri dari stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) Bekasi, fasilitas penerangan jalan umum, tanki bahan bakar nabati dan pembangunan pembangkit listrik minihidro di Papua senilai Rp 207,33 miliar.

Kemudian proyek lain yang sudah diperoleh WIKA [2,550 0 (+0,0%)] seperti pekerjaan pembangunan jalan tol Manado-Bitung senilai Rp 169,63 miliar, pembangunan elevated road Maros-Bone senilai Rp 91,46 miliar serta proyek jalan tol Bawen-Solo seksi II sebesar Rp 75,4 miliar.

Proyek swasta Sementara, ADHI [2,730 20 (+0,7%)] pada awal tahun ini mengantongi proyek antara lain Apartement Cinere Terrace Suites senilai Rp 315,2 miliar, jaringan pipa gas Kota Tarakan senilai Rp 199,2 miliar, pembangunan rumah susun Bojong senilai Rp 241,7 miliar di Bogor, pekerjaan struktur dan arsitektur pembangunan fasilitas produksi gedung Pharma I dan gedung Utility pabrik Kimia Farma senilai Rp 136,5 miliar di Bandung, serta pembangunan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin senilai Rp 129 miliar.

Kontrak baru yang berhasil diraih ADHI [2,730 20 (+0,7%)] sepanjang dua bulan pertama tahun ini didominasi oleh proyek swasta, dengan kontribusi Rp 875,5 miliar atau sekitar 51,5%. Kontribusi proyek swasta sejalan target ADHI [2,730 20 (+0,7%)].

Pada 2016, emiten ini menargetkan proyek swasta menyumbang 37,1% terhadap total target kontrak baru. Sementara proyek pemerintah menyumbang 25,3% dan proyek BUMN menyumbang 23,2%. Padahal, tahun ini ADHI [2,730 20 (+0,7%)] merancang proyek pemerintah bisa berkontribusi 37,2% dan BUMN menyumbang 25,7% terhadap perolehan kontrak anyar.
Read the rest of this entry

Analis Sarankan Buy Saham WIKA, Tapi Ini Risikonya

Laba bersih Wijaya Karya (WIKA) melambat pada periode semester pertama 2015 (1H15), hanya sebesar Rp200 miliar atau turun 28% (YoY). Begitu pula pada pos revenue, melemah 18% (YoY) menjadi sebear Rp4,8 triliun. Perlambatan tersebut bersumber dari divisi properti dan precast.

Penundaan realisasi belanja infrastruktur pemerintah juga melemahkan pendapatan anak usaha perseroan, WIKA Beton. Sedangkan kebijakan uang muka telah berpengaruh terhadap proyek properti yang dikelola WIKA Realty.

Sebagai akibatnya, “diyakini divisi konstruksi akan menjadi kunci pendapatan dan laba perseroan tahun ini,” ujar Riset Analis PT Indo Premier Securities, Natalia Sutanto dalam risetnya, Jumat. Menurutnya laba WIKA diperkirakan turun 9% di tahun 2015 dan 7% pada setahun berikutnya.

Target Kontrak
Per Juni 2015, WIKA membukukan kontrak baru sebesar Rp10 triliun yang berarti 32% lebih tinggi dari target tahun 2015 yang direvisi sebesar Rp31 triliun (sebelumnya Rp21 triliun).

Berbasis kepemilikan proyek, kontribusi utama kontrak baru adalah proyek swasta sebesar 67 persen lalu disusul proyek pemerintah sebesar 30 persen. Perseroan optimistis kontrak baru yang dibukukan naik pada bulan-bulan selanjutnya seiring pengumuman sebagai penawar terendah bagi proyek senilai Rp4 triliun. Manajemen [WIKA 2,635 -85 (-3,1%)] juga membukukan lebih banyak kontrak baru dari proyek pemerintah dan BUMN mulai kuartal ketiga 2015 (3Q15).

Persaingan Precast
Menurut Indo Premier, jika dipelajari, ekspansi BUMN konstruksi ini ke usaha precast telah mengendurkan market share WIKA Beton (WTON).

Meskipun demikian, dengan posisinya sebagai perusahaan berkapasitas terbesar sebanyak 2,3 juta ton (10 pabrik yang berlokasi di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi), [WTON 960 -55 (-5,4%)], tetap pemasok utama precast di luar Pulau Jawa. Ke depan, seiring kelanjutan inovasi untuk menciptakan produk baru precast, hal itu akan menolong perseroan mempertahankan pangsa pasarnya.

Rekomendasi
Ke depan, WIKA akan melanjutkan investasi di proyek pembangkit dan transportasi (kereta cepat Jakarta-Bandung) untuk recurring income yang berkelanjutan. WIKA sudah mengajutkan suntikan modal Rp3 triliun kepada pemerintah tahun depan yang akan menolong itu sebagai pengarah proyek untuk mendukung program pemerintah.

Indo Premier Securities mempertahankan rekomendasi Buy terhadap saham WIKA dengan target price Rp3,100 per saham yang berarti turun dari target price sebelumnya Rp3.900 per saham. Target price tersebut mencerminkan rasio P/E 21 kali di level par terhadap sektor.

Risiko terhadap rekomendasi tersebut di antaranya naiknya piutang buruk (sebagian besar dari gedung akibat penjualan yang melambat sektor properti) serta pelemahan nilai tukar rupiah (kenaikan bahan baku yang bisa menghambat marjin, terutama dari kontrak proyek swasta).

Read the rest of this entry

Tahun Keberuntungan bagi WIKA

Pemerintah RI menyatakan bahwa kondisi fiskal pada semester I 2015 telah berjalan dengan baik dan optimis bahwa pada semester II tahun ini pertumbuhan ekonomi akan lebih tinggi didorong oleh peningkatan penerimaan, pengerjaan proyek dan kenaikan pada investasi.

Menteri Keuangan RI memperikirakan penerimaan negara pada 1H15 mencapai 40% dari APBN-P 2015, sementara untuk belanja telah mendekati 39% dari APBN-P.

Penerimaan negara ditargetkan mencapai Rp1.761,6 triliun, terutama dari pajak sebesar Rp1.489,3 triliun, disusul oleh penerimaan negara bukan pajak sejumlah Rp269,1 triliun dan hibah Rp3,3 triliun.

Sementara target belanja negara mencapai IDR1.984,1 triliun dengan target defisit anggaran antara 1.9% – 2,2% dari PDB 2015. Read the rest of this entry

Ada peluang di saham bagus berharga murah

Saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun, yang harus diingat adalah buy on weakness. Membeli ketika turun dan bukan sebaliknya. Kalau kita panik dan ikut menjual saham ketika pasar turun, kemudian pasar berbalik arah, kita akan rugi. Demikian nasihat investor kenamaan Lo Kheng Hong kala berbincang dengan Tabloid KONTAN, Selasa, 5 Mei 2015 lalu.

Lo yakin, ketika IHSG turun, suatu hari nanti akan kembali naik, bahkan kenaikannya lebih tinggi dari IHSG sebelumnya. Buktinya, posisi IHSG saat ini jauh lebih tinggi dari sebelum krisis 1998 dan 2008.

Yang menjadi pekerjaan rumah (PR) investor adalah menemukan emiten berkinerja baik dan bertumbuh namun harga sahamnya murah, lepas dari kondisi pasar tengah naik atau turun. “Saya membeli saham dalam kondisi saya tidak tahu pasar akan naik atau turun,” ujar Lo, yang mendapat julukan Warren Buffett Indonesia itu.

PR untuk menemukan dan berinvestasi di saham-saham bagus berharga murah sejatinya menjadi kepentingan setiap investor, bukan cuma Lo.

Repotnya, ketika IHSG berada dalam tekanan seperti saat ini, banyak saham yang harganya sudah terbanting namun tidak semua memiliki fundamental bisnis bagus dan kinerja terus bertumbuh.

Setiap orang tentu punya cara pandang yang berbeda-beda soal bagus tidaknya sebuah saham. Tabloid KONTAN mencoba menyodorkan beberapa saham pilihan dengan fundamental bagus dan berharga murah. Sudah pasti, pilihan investasi tetap di tangan Anda.
• Consumer goods

Selama ini sektor consumer goods dianggap sebagai salah satu tembok pertahanan terbaik di bursa saham. Sifat defensif ini berkat sokongan konsumsi domestik yang tinggi.

Namun, daya beli masyarakat kini sudah banyak tergerus.  Buktinya, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dibuat berdasar survei Bank Indonesia. Pada empat bulan pertama 2015, meski masih di atas level 100, IKK terus merosot. Per April, IKK hanya 107,4 turun 9,5 poin ketimbang Maret 2015.

Faktor lainnya, bahan baku impor, seperti gandum yang menjadi komponen utama banyak produk konsumsi, harus ditebus lebih mahal akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Kombinasi dua faktor inilah yang membuat kinerja sebagian emiten barang konsumsi di bursa saham di kuartal I–2015 tak sejalan dengan ekspektasi para analis.

Nama-nama besar seperti PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mengalami penurunan laba bersih yang cukup signifikan, masing-masing 37% (year-on-year/yoy) dan 9,5%. Namun emiten primadona lainnya, seperti UNVR dan ROTI memperlihatkan kinerja yang kinclong. Misalnya, laba bersih ROTI yang naik 9,6% menjadi Rp 67,12 miliar.

Steven Satya Yudha, Associate Director Marketing and Distribution Ashmore Asset Management Indonesia, tak terlalu tertarik dengan sektor defensif macam consumer goods. Salah satu alasannya, kebijakan pencabutan subsidi meski bagus untuk sektor infrastruktur, tapi tidak mendukung sektor konsumsi.

Namun, Harry Su, Kepala Riset Bahana Sekuritas, menilai, sektor barang konsumsi masih punya potensi pertumbuhan yang bagus di masa depan. Jika disimak, konsumsi rumahtangga memang masih jadi penyumbang terbesar produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Bermodal jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia, posisinya juga belum akan tergantikan dalam tempo beberapa tahun mendatang.

Harry merekomendasikan beberapa saham yang bisa dicermati, di antaranya PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dengan target harga 2015 di Rp  48.500 per saham. Reza Nugraha, analis MNC Securities, merekomendasikan posisi beli UNVR di Rp 44.900 per saham.

Kepala Riset Mandiri Sekuritas John Rachmat juga merekomendasikan saham UNVR. Rekomendasi posisi masuk ke saham ini secara teknikal di 40.000–41.000. Pada penutupan perdagangan Kamis (7/5), UNVR ditutup turun 3,93% ke Rp 43.400 per saham.

Mandiri juga merekomendasikan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dengan target harga Rp 16.800 per saham. Pintu masuk ke saham ICBP bisa di 13.000–13.300. Sementara Harry memproyeksikan target harga di Rp 18.200 per saham. Pada perdagangan Kamis, ICBP naik 1,65% ke Rp 13.900 per saham.

Sementara Henan Putihrai Sekuritas menjagokan saham PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) dengan target harga Rp 1.600 per saham. Nah, jika ingin mengoleksi saham perusahaan roti massal terbesar di Indonesia ini, analis Henan Putihrai, Boy Ariandi, menyarankan posisi beli di 1.160–1.140.

Bahana Sekuritas merekomendasikan target harga Rp 1.750 per saham. Posisi beli, kata Reza, disarankan di Rp 1.300 per saham. Kamis, selembar saham ROTI ditutup turun 1,28% di Rp 1.155 per saham.
• Perbankan

Kinerja emiten sektor perbankan di kuartal I–2015 memang tidak menggembirakan. Pertumbuhan laba bersih rata-rata perbankan lebih lambat ketimbang sebelumnya, hanya satu digit. Ambil contoh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang labanya cuma naik 3,52% menjadi Rp 6,14 triliun  dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang untung bersihnya cuma naik 4,34% jadi Rp 5,13 triliun.

Namun, Kepala Riset Universal Broker Satrio Utomo menilai perbankan menjadi salah satu sektor yang paling cepat pulih jika ada perbaikan ekonomi. “Ketika kembali ke bursa saham lokal, para investor asing biasa melihat sektor bank dulu,” kata Tommy, sapaan akrabnya.

Dari jajaran bank kelas menengah,  Irwan Ariston Napitupulu menyebut PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) layak dicermati. Di kuartal I–2015, laba BBTN naik 18% menjadi Rp 402 miliar.

Nah, investor saham kawakan ini menilai, target pertumbuhan laba bersih BBTN 40% sepanjang tahun ini bisa tercapai. Salah satunya lewat program satu juta rumah yang dicanangkan pemerintah. “Harga Rp 1.500 per saham–Rp 2.000 per saham di akhir tahun enggak sulit tercapai,” katanya. Kamis, harga BBTN turun 0,45% ke Rp 1.110 per saham.

Sementara Muhammad Al Fatih, analis Samuel Sekuritas, menyebut saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menarik dicermati. Secara teknikal, level support  kuat BMRI ada di 10.950. Sementara resistance di 11.775. “Harga ideal untuk membeli saham berada pada level 10.700–10.900,” kata Al Fatih. Pada perdagangan 7 Mei, saham BMRI turun 2,97% ke 11,175.

Analis Danpac Sekuritas Teuku Hendry Andrean mematok target harga BMRI di Rp 13.600 per saham. Cuma, ia tidak merekomendasikan level harga yang bisa menjadi titik masuk bagi investor. “Tren akan terus cenderung menurun, sehingga ketika melakukan akumulasi harus hati-hati karena sangat rawan,” terangnya.

Untuk masuk ke saham perbankan, investor sebaiknya memang berhati-hati.

Toga Yasin Panjaitan, analis Bumiputera Sekuritas, mengingatkan, jika The Federal Reserve (The Fed) jadi menaikkan suku bunga, saham-saham perbankan bisa mengalami koreksi signifikan. “Tunggu sampai tanggal 21 Mei saat Amerika kasih keputusan,” ujar Toga.
• Jasa konstruksi

Pada era pemerintahan Joko Widodo (Jokowi), ekspektasi investor terhadap emiten jasa konstruksi melambung, terutama sejak anggaran subsidi dialihkan untuk pembangunan infrastruktur. Namun kenyataannya, pengerjaan proyek-proyek infrastruktur tidak berjalan cepat. Saat ini, sekitar 80% kontrak proyek sudah diteken, namun banyak di antaranya yang masih terkendala masalah pembebasan lahan.

Tak aneh jika harapan tinggi investor tidak sejalan dengan hasil kinerja emiten jasa konstruksi, terutama pelat merah pada kuartal I–2015.

Laba bersih PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) longsor 63,2% (yoy) jadi tinggal Rp 61,5 miliar. Sementara untung bersih PT Adhi Karya Tbk (ADHI) anjlok 34,5% menjadi Rp 10,6 miliar. Hanya saja, dalam tempo yang sama, laba bersih PT PP Tbk (PTPP)  justru melonjak 52% menjadi  Rp 93,6 miliar.

Kini, investor tengah menanti apakah proyek-proyek infrastruktur pemerintah bisa segera berjalan pada kuartal II. Soalnya, kalau proyek infrastruktur baru akan digelar mulai kuartal III, dikuatirkan anggaran yang sedemikian besar, mencapai Rp 290,3 triliun, tidak terserap sepenuhnya. “Setelah melihat kuartal I, investor jadi ragu apakah dana infrastruktur segitu bisa digunakan sebagai spending 100%,” kata Steven.

Namun Irwan sedikit lebih optimistis. Menurutnya, dalam kondisi ekonomi sulit seperti sekarang, belanja pemerintah akan menjadi trigger bagi pertumbuhan. “Arah belanjanya sudah terlihat ke infrastruktur. Perusahaan yang banyak menikmati pasti BUMN,” kata Irwan.

Jika sesuai rencana, ada harapan saham-saham di sektor jasa konstruksi bakal segera kembali melambung. Toga Yasin Panjaitan, analis Bumiputera Sekuritas, merekomendasikan posisi beli ADHI di 2.750–2.815. Berdasar data Bloomberg, analis Danareksa Joko Soegi merekomendasikan target harga ADHI di Rp 3.700 per saham. Perdagangan Kamis, saham ADHI naik 0,89% ke Rp 2.825 per saham.

Sementara, analis teknikal Sucorinvest Central Gani, Achmad Yaki, menyarankan buy on weakness WSKT di 1.305–1.875. Ia mematok target harga WSKT di 2.100. Kamis (7/5) WSKT ditutup di Rp 1.775 per saham.

Untuk emiten swasta, analis Henan Putihrai, Johanes, merekomendasikan PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) dengan target harga 12 bulan di Rp 1.600  per saham. Kontrak baru yang dikantongi NRCA pada kuartal I 2015 mencapai Rp 1,5 triliun. Sementara sepanjang tahun ini target kontrak baru mereka Rp 4,1 triliun. “NRCA speculative buying jika di atas harga Rp 1.045 per saham,” tambah Boy. Pada 7 Mei lalu NRCA ditutup naik 2,90% ke Rp 1.065 per saham.

Mau ikutan koleksi?

Sumber : kontan.co.id

http://belajar-cara-membuat-website.blogspot.com/
http://ide-peluang-bisnis.blogspot.com/p/jasa-pembukuan.html

Ini Daftar Laba 41 Emiten Bluechips LQ-45

Laba bersih emiten yang tergabung dalam indeks LQ-45 pada kuartal I/2015 jeblok alias turun 5,15% dengan pendapatan hanya tumbuh 2,57% pada periode yang sama. Simak daftar lengkapnya.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis.com, sebanyak 41 emiten LQ-45 telah mengumumkan laporan keuangan kuartal I/2015.

Sedangkan, empat emiten yang belum merilis kinerja adalah PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE), PT Excel Axiata Tbk. (EXCL), PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG), dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG).

Dari 41 emiten tersebut, sebanyak 40 emiten membukukan laba bersih dengan total Rp42,64 triliun pada periode Januari-Maret 2015, dibandingkan dengan tahun lalu Rp44,96 triliun. Read the rest of this entry

Mengukur Kekuatan WIKA

Bisnis konstruksi pada masa pemerintahan Joko Widodo kembali ‘booming’. Lantas, bagaimana prospek PT Wijaya Karya (Persero) Tbk?

Periset PT Investa Saran Mandiri Kiswoyo Adi Joe mengatakan, pendapatan dan laba bersih emiten dengan kode WIKA dalam tiga tahun ke depan akan terus meningkat. Peningkatan pendapatannya diprediksi rata-rata sebesar 26%, atau 2015 dan 2016 sekitar Rp16 triliun dan Rp21 triliun.

WIKA mencatatkan adanya sedikit kenaikan laba bersih di 2014 sebesar 4,90% yaitu mencapai Rp615,18 miliar. Laba ini didapatkan dari kenaikan penjualan tidak termasuk penjualan kerjasama sebesar 8,85%.
Read the rest of this entry

Harga BBM Naik, Beli Saham-saham Ini

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dinilai jadi katalis positif bagi penguatan pasar saham Indonesia. Banyak saham direkomendasikan beli.

Gema Goeyardi, pendiri PT Astronacci Internasional mengatakan, venus memasuki zodiac baru pada 17 November 2014 kemarin dan Dua siklus astrologi Sun Square Jupiter dan Mars Square Uranus yang terjadi minggu lalu akan memberikan dampak bullish continuation pada IHSG.

“Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi sebanyak Rp2.000 untuk premium dan solar akan menjadi katalis positif penguatan pasar saham Indonesia yang secara bersamaan pola harga pada IHSG telah siap naik lebih tinggi pasca mengalami konsolidasi kecil,” katanya kepada INILAHCOM di Jakarta, Selasa (18/11/2014).

Selasa menurut Gema, akan menjadi the confirmation day untuk pergerakan IHSG ke depan. Break out pada 17 November 2014 seharusnya disertai dengan penguatan lanjutan mencapai target harga terdekat di level 5.124 menutup area gap 1 Oktober 2014.

Bayang-bayang negatif dari ekonomi Jepang yang mengalami technical recession di kuartal ke 3 sehingga membuat indeks Nikkei terjatuh dalam, akan menjadi penghambat indeks naik secara agresif dalam minggu ini. “Oleh karena itu, bullish pendek IHSG terbatas hingga 5.180,” tuturnya.

Dari perspektif pasar AS, kenaikan Dow Jones diperkirakan hingga 17.800 dan 18.200. Anda tetap aman untuk trading hingga 20 November 2014 menyambut New Moon dan effect dari Sun Conjunction Saturn. “Selama IHSG tidak turun dari 4.900 maka bullish jangka menengah tetap akan bertahan di pasar,” imbuhnya.

Di atas semua itu, Gema menyodorkan strategi trading. Berikut ini rincian penjelasannya:

Read the rest of this entry