Blog Archives

Waktunya Mencari Passive Income dari Investasi Saham Anda

Kalau Anda punya properti, bisa disewakan, (serviced apartment misalnya) yieldnya tinggi, mau ga?

Anda beli sebuah apartemen Rp. 1.000.000.000,-
Setiap tahun tersewa sebesar Rp. 60.000.000,- (ini 5 juta per bulan, bisa buat nyicil properti lain lhoo)
Artinya yield Anda: 60.000.000 / 1.000.000.000 = 6% p.a. (kalau rumah, biasanya yieldnya 1.5% sampai 2%)
Eits, ternyata aja pajak sewa properti lho 20%. Artinya yield Anda: (60.000.000 x 80%) / 1.000.000.000 = 4.8%
Eits, biaya broker / agen properti Anda? 5%. Wow, lebih rendah dari 4.8% dong…
Itung – itung, jadinya: 60.000.000 juta kurangi 20%, kurangi 5%, dibagi 1 M = 4.5%.
Lumayan lah, lebih rendah dari deposito, tapi nilai properti Anda naik setiap tahunnya:)
Berbeda dengan Deposito, mungkin bunga 6% p.a sebelum pajak, tapi nilai pokok investasi Anda tidak naik.
Berbeda dengan Obligasi, mungkin bunga (kupon) 10% p.a sebelum pajak, tapi nilai pokok investasi Anda tidak naik.
— PELUANG ANDA di pasar saham ketika turun seperti ini —

Read the rest of this entry

Advertisements

Cara Menabung Saham

Setelah rekening saham Anda aktif, ada beberapa step yang harus dilakukan untuk menjalani nabung saham dengan efektif:

  1. Anda harus I.N.G.A.T bahwa harga saham berfluktuatif dalam jangka pendek, namun selama performa perusahaannya bagus, dalam jangka panjang cenderung akan bertumbuh (lihat poin nomor 5 di bawah). Anda harus tetap disiplin terlepas harga pasar naik ataupun turun. Ini kuncinya ya.
  2. Tentukan dahulu, anda akan menyisihkan berapa % dari income bulanan Anda. Minimal 10%. Idealnya 20 – 30% seperti Anda sedang mencicil properti.
  3. Pastikan, ketika income Anda naik, persentase penyisihannya tetap sama (misalnya 20% dari income), dengan demikian Anda akan membeli saham lebih banyak dari waktu ke waktu
  4. Tentukan tanggal tetap Anda akan membeli sahamnya, apakah tanggal gajian Anda, atau tanggal berapapun. Pastikan beli hanya di tanggal tersebut.
  5. Pastikan nabung saham perusahaan yang: a) Laporan keuangannya selalu positif, mencetak laba dalam (minimal) 5 tahun terakhir, b) selalu mengalami pertumbuhan laba yang konsisten dari waktu ke waktu, c) market leader di industrinya.
  6. Idealnya, tabunglah saham yang rutin membagikan deviden. Jadi Anda tidak perlu menjual saham Anda untuk menikmati hasil investasi Anda yang terus berkembang.
  7. Cek harga pasar sahamnya sekarang. Pembelian saham minimal adalah 1 lot (100 lembar saham) dan berlaku kelipatannya. Jika harga pasar sahamnya di Rp. 17.000,- maka minimal pembelian adalah Rp. 17.000,- X 100 lembar = Rp. 1.700.000,-. Jika jumlah yang ingin Anda tabung per bulan adalah Rp. 1.000.000,-, maka membeli saham tersebut tidak memungkinkan. Anda bisa perbesar alokasi bulanan Anda untuk dapat membeli saham tersebut, atau pilih saham lain yang sesuai dengan kriteria poin nomot 5 di atas.
  8. Belilah saham yang sama dengan konsisten. Jangan diganti – ganti.
  9. Lakukan dengan disiplin, baik ketika market naik, maupun turun.

Read the rest of this entry

Sri Mulyani dalam Bayang-bayang Kegagalan Ekonomi

Pemerintahan Jokowi-JK menargetkan pertumbuhan ekonomi 8% pada 2019. Tak main-main, cita-cita ini tertulis dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

Namun, capaian pertumbuhan ekonomi 2015-2018 ini, masih jauh dari keinginan itu. Realisasinya tak jauh-jauh dari angka 5%. Mirisnya lagi, ketika pertumbuhan ekonomi kontet, penerimaan jeblok. Mau tak mau utang negara naik signifikan.

Dalam kaitan ini, para ekonom mengingatkan, utang (negara dan swasta) yang diklaim untuk pembangunan, layak masuk kategori lampu kuning. Karena, cicilan pokok ditambah bunga yang harus dibayar selama dua tahun (2018 dan 2019), mencapai Rp840 triliun. Atau setara dua kali anggaran infrastruktur.

Masalah yang tak kalah serius, adalah, pertama: defisit neraca perdagangan.

Kedua: service accounts negatif.

Ketiga: current accounts negatif,

Keempat: fiscal balance negatif.

Kelima: utang naik 15%.

Keenam: ya itu tadi, pertumbuhan ekonomi hanya 5%.

Enam poin itu menunjukkan bagaimana jebloknya tata kelola keuangan di negeri ini. Kata orang ekonomi, tidak prudent.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Riza Annisa Pujarama mengungkapkan, utang luar negeri Indonesia terus mengalami kenaikan signifikan. Bahkan layak disebut mengkhawatirkan. Lho kok bisa?

Hingga saat ini, kata Riza, utang luar negeri Indonesia telah mencapai Rp 7.000 triliun. Jumlah tersebut merupakan total utang pemerintah dan swasta. Dari sisi pemerintah, utang tersebut digunakan untuk menambal defisit anggaran. Dari sisi swasta dilakukan korporasi dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Jumlah utang Indonesia yang menurut kajian Indef mencapai Rp7.000 triliun itu, rasionya jelas jomplang jika dibandingkan dengan Amerika Serikat dan Jepang. “Membandingkan rasio utang dengan Amerika itu konyol. Karena AS itu tinggal cetak dollar dan jual ke luar negeri, ongkos cetak 100 dolar hanya dua dolar dan apalagi didukung hegemoni militer dan politik,” kata Rizal Ramli, Menko Perekonomian era Presiden Gus Dur itu.

Tak masuk akal kalau membandingkan utang RI dengan Jepang, sebab meskipun utang Jepang tinggi tetapi income internasionalnya juga tinggi. Dari kaca mata riil ekonomi, Jepang mempunyai net international investment positions US$2,8 triliun. Artinya, memiliki net external assets positif alias bangsa kreditor.

Jelas beda nasib dengan Indonesia yang net international investment positionnya negatif lebih dari US$400 miliar. Negeri ini memiliki net external liabilities, atau layak ditempatkan di barisan negeri debitor. Read the rest of this entry

Investor mencari Brexit havens, emas melejit

Harga emas dunia kembali melonjak untuk hari kedua, Senin (27/6). Berdasarkan data Bloomberg, pagi tadi, harga kontrak emas untuk pengantaran segera melompat 1,5% menjadi US$ 1.335,55 per troy ounce. Pada pukul 08,14 waktu Singapura, harga kontrak yang sama diperdagangkan di posisi US$ 1.330,95 per troy ounce.

Pada Jumat (24/6) lalu, harga emas sempat bertengger di posisi US$ 1.358,54 per troy ounce. Level ini tidak pernah terlihat sebelumnya sejak Maret 2014 lalu. Kenaikan emas pada akhir pekan lalu sebesar 8,1% juga merupakan kenaikan harian terbesar sejak 2008. Read the rest of this entry

Waspada, Reli Emerging Market Dibayangi Sinyal Mengkhawatirkan

Dibalik reli indeks harga saham emerging markets pada Maret lalu, yang mencapai level tertinggi sejak 2009, ada sejumlah sinyal mengkhawatirkan bahwa reli tersebut bakal membentur tembok tebal.

Data Bloomberg menunjukkan, kenaikan harga saham hingga 13 persen pada bulan lalu berlangsung dengan volume perdagangan yang tipis, terendah dalam lima tahun. Di pasar valas, pergerakan nilai tukar mata uang banyak mengikuti pergerakan harga minyak, yang mengindikasikan kerentanan nilai tukar mata uang terhadap perubahan harga komoditas.

Kondisi tersebut menegaskan kerapuhan yang mendasari rebound indeks saham yang digerakkan oleh aliran modal investor pada Maret lalu, tertinggi sejak Juni 2014. Menurut Barclays Plc. dan UBS AG, reli di bursa saham EM itu tidak sejalan dengan kejatuhan ekspor dan kontraksi sektor manufaktur di negara-negara berkembang.

Sementara itu, pendorong terjadinya reli – sikap melunak Federal Reserve, stabilitas ekonomi China dan kenaikan harga minyak – dinilai tidak akan bertahan lama.

“Gambaran makro emerging markets tidak banyak berubah sejak Januari,” kata Yerlan Syzdykov, manajer obligasi emerging market Pioneer Investment Management Ltd. “Pelambatan ekonomi di emerging markets akan berlanjut hingga 2018,” imbuhnya, seperti dikutip Bloomberg, (1/4).

Setelah kehilangan sekitar seperempat dari nilainya sejak 2012, nilai saham, mata uang, obligasi EM bangkit kembali. Pada Maret lalu, harga saham di sejumlah negara berkembang mengalami kenaikan nilai sekitar US$1,8 triliun, lompatan tertinggi sejak 2007 silam. Indeks MSCI Emerging Market meningkat 22 persen dari nilai terendah dalam tujuh tahun, pada Januari lalu, atau dua kali lipat kenaikan indeks acuan saham negara maju.

Sejumlah penghalang itu, setidaknya kini sudah memudar. Harga minyak naik 46 persen dari harga terendah selama 13 tahun pada Februari lalu. China juga mulai bertindak untuk mendongkrak pertumbuhan, dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed sudah menyurut.

Pelemahan nilai tukar dolar AS, membuat rata-rata imbal hasil surat utang EM dalam mata uang lokal sekitra 6,5 persen menjadi daya tarik, ketika sekitar US$8 triliun surat utang pemerintah global menawarkan suku bunga di bawah nol.

“Landasan mata uang emerging market  menjadi sedikti lebih baik, begitu juga dengan komoditas,” kata Pablo Goldberg, ahli strategi surat utang EM dari BlackRock Inc, New York.

Namun menurut Guillermo Modino, ahli strategi Citigroup, investor perlu mewaspadai semakin menyempitnya gap imbal hasil US Treasuries berjangka dua tahun dan 10 tahun, yang menunjukkan rentang terendah sejak 2007. Penyempitan gap yang menjadi barometer minat untuk aset-aset berimbal hasil tinggi – mengindikasikan bahwa EM rentan berbalik arah ketika inflasi AS mulai meningkat.

Sejumlah indikator lain, berdasarkan data Bloomberg, juga mendukung sinyalemen Modino. Indikator tersebut antara lain  seperti lebih sedikitnya saham EM yang ditransaksikan setiap harinya ketimbang saham negara maju, dan korelasi yang semakin erat antara nilai mata uang EM dengan harga minyak.

Sinyal pelemahan ekonomi di EM juga tersirat dalam tingkat keuntungan perusahaan. Masih berdasarkan data Bloomberg, return on equity perusahaan dalam acuan indeks MSCI EM juga turn menjadi 10,5, mendekati level terendah sejak 2010.

“Terlalu awal untuk mengatakan bahwa rintangan sudah berakhir,” kata John Carlson, manajer valas Fidelity Investment. “Kemampuan untuk mempertahankan reli akan membutuhkan banyak hal agar segalanya tepat berada di tempatnya.” Read the rest of this entry

Sekarang Saatnya Membeli Emas: Deutsche Bank

Harga emas saat ini masih terbilang mahal, namun meningkatnya risiko ekonomi dan gejolak pasar sebaiknya disiasati investor dengan membeli emas untuk berjaga-jaga.

“Ada kenaikan tekanan di sistem keuangan global; terutama meningkatnya risiko siklus gagal bayar korporasi AS dan risiko devaluasi tajam renminbi yang disebabkan oleh tingginya arus keluar modal China,” papar Deutsche Bank dalam catatannya, Jumat (26/2).

“Membeli emas sebagai `asuransi` sangat dianjurkan,” imbuh bank Jerman itu, seperti dikutip CNBC. Deutsche Bank berpendapat sinyal ekonomi akhir-akhir ini menunjuk ke emas sebagai safe haven.

Kendati harga emas sudah turun dari kisaran US$1.900 pada 2011, menjadi sekitar US$1.200 per ounce akhir-akhir ini, Deutsche Bank menilai harga emas masih cukup mahal. Emasa masih berada dalam peringkat komoditas paling mahal, selama 15 tahun historis perdagangan emas.

“Agak seperti asuransi, yang pembeliannya seringkali tidak disukai banyak orang, sejumlah investor kemungkinan akan menolak untuk membeli pada level harga saat ini,” ungkap Deutsche Bank.

“Kendati demikian, kami berpendapat bahwa dengan semakin banyaknya penerapan suku bunga negatif secara global, biaya kepemilikan emas kini bisa diabaikan di banyak yurisdiksi. Oleh karena itu, emas layak diperdagangkan di level yang tinggi dibandingkan banyak aset lain,” tulis Deutsche Bank

Salah satu argumen yang menolak investasi di emas adalah sifatnya yang tidak menghasilkan imbal hasil (zero-yielding). Namun dengan kondisi pemangkasan suku bunga hingga memasuki teritori negatif oleh sejumlah bank sentral – termasuk Bank Sentral Eropa, Bank of Japan, bank sentral Swedia – mengikis keuntungan dari kepemilikan dana tunai, bertolak belakang dengan emas.

Pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat, menurut Deutsche Bank, juga dapat meringankan sejumlah risiko kejatuhan harga emas.

“Risikonya sedang menurun. Emas cenderung berkinerja buruk dalam kondisi pertumbuhan global yang kuat, bukan ketika sedang banyak hambatan. Pelambatan pertumbuhan, pasti menurunkan tekanan pada emas,” Deutsche Bank menambahkan.

Sebelumnya, bank swasta terbesar Jerman itu mengekspektasikan harga emas akan jatuh ke bawah US$1.000 per ounce pada kuartal keempat tahun ini, seiring dengan meningkatnya suku bunga Federal Reserve AS. Namun, alih-alih kenaikan suku bunga hingga tiga kali pada tahun ini, Deustche Bank belakangan mengekspektasikan The Fed akan lebih lama lagi menahan kenaikan suku bunga.

Dengan memperhatikan adanya kontraksi di sektor manufaktur yang berisiko menyebar ke sektor jasa-jasa, Deutsche Bank mengantisipasi hanya akan ada sekali kenaikan The Fed rate pada 2016. Sebaliknya, Deutsche Bank menaikkan perkiraan harga emas hingga kuartal empat nanti sebesar 26 persen ke kisaran US$1.230 per ounce.

Sepanjang tahun ini, berdaarkan data BNY Mellon, harga emas sudah naik hingga 16 persen terhadap euro, 17,5 persen terhadap dolar AS, hampir 24 persen terhadap poundsterling. Bahkan dibanding yen Jepang yang tengah mengalami apresiasi terhadap dolar AS, harga emas masih nak 9 persen terhadap yen.

Deutsche Bank mencatat harga emas cenderung menguat selama kuartal pertama tahun ini. Emas diekspektasikan akan mengalami pelemahan musiman, pada kuartal kedua dan ketiga nanti. Read the rest of this entry

Devaluasi Yuan: Memukul Asia, Jegal Rencana The Fed

Langkah bank sentral China mendevaluasi mata uang yuan (Selasa, 11/8) mengejutkan, sekaligus menimbulkan kekesalan pada banyak kalangan.

“Jelas sekali, langkah ini mengejutkan seluruh Asia. Jika melihat mitra dagang utama China – Korea Selatan, Jepang, AS dan Jerman – persaingan ini memukul ekspor negara-negara tersebut,” ungkap Callum Henderson, kepala Riset Valuta Asing global, Standard Chartered. “China mengekspor disinflasi ke negara-negara yang menerima ekspor China. Dampaknya sangat negatif bagi mata uang Asia,” imbuhnya, seperti dikutip CNBC, (11/8).

Para pedagang berpendapat, pengumuman bank sentral China untuk mendevaluasi yuan merupakan seri terakhir dari rangkaian persaingan devaluasi di Asia dan emerging market lainnya.

Kebijakan devaluasi China, menyebabkan pergeseran dan kejatuhan parah nilai tukar mata uang Asia. Penurunan nilai tukar yuan sebesar 1,8 persen terhadap dolar AS, menekan nilai tukar won Korsel, dolar Singapura, dolar Australia, dan dolar Taiwan hingga lebih dari 1 persen. Hari ini, semua mata uang utama Asia melemah terhadap dolar AS.

“Mata uang Asia sudah menghadapi tekanan dari ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan penguatan dolar. Pelemahan yuan menjadi sumber tekanan baru terhadap mata uang regional yang sensitif terhadap pergerakan yuan,” tulis Barclays dalama laporannya hari ini.

Dipicu oleh langkah Federal Reserve untuk memperketat kebijakan moneternya – setelah menjalani kebijakan pelonggaran kuantitatif selama dua putaran – bank sentral global terlibat dalam perang pelemahan mata uang dengan tujuan meredam deflasi dan melindungi perekonomian dari kejatuhan harga minyak dan penguatan dolar karena antisipasi kenaikan suku bunga AS pada tahun ini.

“Kita telah terlibat dalam persaingan pelonggaran sepanjang tahun dan pengumuman China hari ini mengindikasikan bahwa perang pelonggaran moneter sudah bergerak spiral sehingga tidak akan berakhir hingga pertumbuhan ekonomi global meningkat,” kata Nicholas Teo, analis pasar di CMC Markets.

Kendati demikian, perbankan termasuk Standard Chartered dan ANZ dengan cepat memperingatkan agar langkah bank sentral China hanya merupakan satu kali upaya penyesuaian dan menghindari devaluasi lanjutan, sehingga bisa mengurangi tekanan pada mata uang Asia.

“Dengan keyakinan bahwa China tidak bermaksud merekayasa pelemahan renminbi, tekanan tajam depresiasi pada mata uang Asia akibat perubahan penetapan yuan seharusnya memudar. Kami meyakini, kecenderungan peningkatan volatilitas transaksi dolar-yuan akan berimplikasi pada nilai tukar mata uang Asia terhadap dolar sehingga menjadi lebih bergejolak,” papar HSBC dalam laporannya hari ini.

Langkah Bank Rakyat China hari ini, menurut sejumlah investor, juga akan mempengaruhi rencana The Fed untuk menaikkan suku bunga pada September nanti. Sejauh ini, yuan dan dolar AS merupakan mata uang yang mengalami penguatan di tengah berlangsungnya perang pelonggaran moneter global.

Menurut Jim Rickards, kepala strategi global West Shire Funds, setelah China melakukan pelonggaran, maka tinggal dolar AS yang belum melakukan selama beberapa tahun terakhir. “Dengan pergerakan yuan hari ini, berarti AS akan mendukung deflasi seluruh dunia. Ketika semua negara berupaya menumbuhkan inflasi melalui pelonggaran, berarti mereka mengekspor deflasi ke mata uang yang lebih kuat,” ujar Rickards.

Berlanjutnya penguatan dolar menjadi masalah bagi The Fed karena akan mencederai ekspor AS, inflasi yang lebih rendah dan mengurangi keuntungan perusahaan. Karena kenaikan suku bunga akan cenderung mendorong nilai tukar dolar menjadi lebih tinggi lagi, maka rencana tersebut akan menjadi dilema bagi The Fed.

“Kini, kenaikan suku bunga yang kecil sekalipun pada September nanti, bisa mempunyai efek memperbesar kenaikan nilai tukar dolar AS. Kita harus wait and see apa yang akan dilakukan The Fed,” tutur John Carey, manajer portofolio Pioneer Investment. Read the rest of this entry

Devaluasi yuan dan reshuffle bikin rupiah keok

Kurs rupiah kembali tak berdaya terhadap dollar Amerika Serikat. Mengacu data kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), Rabu (12/8) rupiah berada pada posisi Rp 13.758 per dollar AS atau 1,6% dari penutupan kemarin Rp 13.541 per dollar AS

Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta mengatakan bahwa nilai tukar rupiah mengalami tekanan ke level terlemah baru semenjak 17 tahun terakhir.

Mata uang domestik terkena dampak buruk dari kebijakan pemerintah China yang melakukan devaluasi mata uang yuan.

“Posisi Indonesia sebagai salah satu rekan dagang utama China dan eksportir komoditas akan membuat prospek perekonomian secara keseluruhan terkena dampak buruk akibat kebijakan pemerintah China,” katanya dikuti dari Antara, Rabu (12/8). Read the rest of this entry

Waspada…..Rollercoaster Bursa China Masih Sisakan Ruang Penurunan

Rollercoaster gejolak harga saham di bursa China memang sudah mereda, namun para analis meyakini masih tersisa ruang untuk terjadinya penurunan lebih lanjut. Gejolak lanjutan itu akan bergantung pada bagaimana Beijing mengelola upaya untuk keluar dari pasar dengan melepaskan saham-saham yang sudah dibeli.

Kejatuhan harga saham China hingga mendekati 8,5 persen pada Senin lalu – terdalam dalam delapan tahun – menimbulkan kembali kekhawatiran terhadap kemampuan manajemen pemerintah serta kesehatan basis perekonomian China. Apalagi pertumbuhan ekonomi China sudah melorot ke level terendah sejak krisis keuangan global, 2008 lalu.

Intervensi Beijing dengan mencegah sejumlah investor untuk menjual sahamnya – dengan membeli saham dan mengancam akan memenjarakan investor yang melakukan short-selling – menimbulkan hujan kritik dengan tudingan anti-pasar. Dan pasar tetap bertaruh bahwa harga saham masih akan melorot.

Setelah masa-masa ceria – berkat rekayasa pemerintah yang menghasilkan kenaikan sebesar 150 persen selama 12 bulan hingga pertengahan Juni lalu – dan koreksi 29 persen hingga Selasa kemarin, analis meyakini harga saham masih bisa melemah.

Rebound secara besar-besaran tampaknya tidak akan terjadi,” kata Zhang Gang, analis Central China Securities kepada AFP, (29/7). Dia mengekspektasikan pasar Shanghai akan menguji level support di posisi 3.500 poin dan kemudian di level 3.200. Indeks Shanghai Composite turun 0,21 persen ke posisi 3.633,27 pada akhir sesi pertama, hari ini.

“Secara umum, langkah pemerintah sudah di jalur yang benar, tapi butuh waktu hingga pasar memahaminya,” kata Zhang. “Seteleh risikonya teratasi, kinerja pasar akan membaik tahun depan,” imbuhnya seperti dikutip AFP, (29/7).

Kuncinya adalah bahwa pemerintah mengelola divestasi saham-saham yang baru dibeli tanpa menakut-nakuti investor “rumah tangga”, kekuatan utama pasar China yang bertransaksi berdasarkan rumor dan spekulasi.

“Saya pikir mereka akan mengurangi intervensi yang akhir-akhir ini ditakutkan pasar,” kata Steve Yang, ahli strategi UBS Group in Shanghai, kepada Bloomberg News.

“Prosesnya akan sangat panjang. Mereka tidak perlu terburu-buru menjual posisi mereka mereka dalam jangka pendek.”

Faktor negatif lain berada di luar kontrol regulator sekuritas, yaitu ekspektasi pengaruh kenaikan suku bunga AS terhadap aktivitas global dan perlambatan pertumbuhan China. Namun sampai dimana akhir dari tekanan jual itu, tak ada yang tahu.

Lembaga keuangan Nomura, Jepang meyakini bahwa kejatuhan harga saham yang terjadi belakangan ini merupakan kesempatan beli. Mereka menyerukan kepada kliennya untuk membeli saham secara selektif. “Konsolidasi pasar akan berlanjut hingga hasil sementara pra musim pada pertengahan Agustus setelah lebih banyak data positif di level makro dan mikro,” tulis tim riset Nomura.

“Kami anjurkan para investor mengambil manfaat dari akhir kemungkinan penurunan kedua ini untuk membeli saham dengan struktur fundamental yang cukup baik,” Nomura menambahkan.

Terlepas bahwa gejolak perdagangan akan muncul kembali dan dapat berdampak pada perekonomian China, “Pasar saham akan berlanjut menjadi lebih volatile meskipun ada paket penyelamatan bernilai tinggi,” papar ANZ Banking Group dalam laporan ristnya. “Volatilitas pasar saham mencerminkan sejumlah risiko penurunan proyeksi pertumbuhan China.”

Tom DeMark, pendiri DeMARK Analytics, AS berpendapat, perilaku pasar saham China merupakan cerminan dari kejatuhan bursa saham Wall Street tahun 1929, yang memicu Depresiasi Besar dalam perekonomian Amerika. Dia mengekspektasikan, pasar China akan melorot ke poisisi 3.200 dalam tiga pekan mendatang dan langkah Beijing untuk membendung penurunan akan sia-sia.

“Kita tidak bisa mendikte pasar. Fundamental yang mendikte pasar,” ujarnya. Read the rest of this entry

Ellen May: Beruangnya benar-benar Mengamuk!

SSEC, Indeks Komposit Shanghai China rontok -8.5 %, tepat di area suport kuatnya. Hal ini terjadi karena perlambatan perekonomian di China, di mana laba industri di China merosot apabila dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Indeks Dow Jones ditutup di level 17,440.59 melemah 127.94 poin (-0.73%). EIDO ditutup di level 22.02 melemah 0.54 poin (-2.39%)

Sementara itu, bursa lokal kita kemarin juga mengalami koreksi yang cukup tajam dan menjebol pertahanan pada monthly chart, merespons crash di China. Indeks Harga Saham Gabungan 27 Juli 2015 ditutup di level 4,771.29 melemah 85.31 poin (-1.76%).

Hari ini IHSG masih berpotensi melemah menguji area suport berikutnya sekitar 4.584, bahkan potensi menguji suport 4.000 dalam jangka menengah. Read the rest of this entry