Blog Archives

Akhir pekan, bursa Wall Street ditutup memerah terbebani laporan data tenaga kerja AS

Bursa saham Amerika Serikat melorot dalam dua hari berturut-turut pada Jumat, terbebani oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah dan laporan data ekonomi yang kuat dimana tingkat pengangguran menurun dan upah pekerja meningkat.

Indeks S&P 500 turun 0,55% ke level 2.885,57.  Sedangkan indeks Nasdaq turun 1,16% ke level 7.778,45. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,68% ke level 26.447,05.

Dalam sepekan, indeks S&P 500 turun 0,98%, Dow Jones turun 0,04% dan Nasdaq anjlok 3,2%. Bagi Nasdaq, penurunan saham dalam sepekan ini merupakan penurunan mingguan yang terdalam sejak Maret.

Penurunan indeks dipicu didorong oleh anjloknya saham-saham kelas berat di sektor teknologi dan komunikasi yang kerap disebut FAANG group, yakni Facebook, Amazon, Apple, Netflix, dan Alphabet. Saham Amazon bahkan turun hingga 1%. Read the rest of this entry

Advertisements

Saham Bank Mandiri Menguji Resisten Di Level 7.000

bmri

Sesuai dengan postingan sebelumnya, saham BMRI naik 3,84% maka kenaikan langsung menguji resisten terdekat di level 7.000 dengan posisi high di level 6.950 (Fibonacci Retracement 50%)

Ini artinya saham BMRI telah naik 8,17% dari level 6.425 hanya dalam 2 hari. Menarik bukan ? Info update bisa join channel telegram kami : https://telegram.me/invesaham.

Bila tembus level 7.000 maka saham BMRI akan bertemu dengan resisten kuat di level 7.400 dan sebaiknya harus melihat perkembangan indeks Dow Jones dan IHSG.

Utang Trump Berceceran di Wall Street, Berpotensi Timbulkan Konflik

Utang Presiden AS terpilih, Donald Trump dan jaringan bisnisnya berceceran di bank, reksa dana dan institusi keuangan lainnya di sekitar Wall Street, memperbesar kerumitan yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan dalam pemerintahan Trump.

Ratusan juta dolar utang tersebut melibatkan bisnis properti Trump, beberapa di antaranya didukung dengan jaminan pribadi Trump. Analisis Wall Street Journal (WSJ) terhadap dokumen legal dan properti Trump menemukan bahwa utang-utang tersebut dikemas dalam bentuk surat berharga dan dijual ke inevestor selama lima tahun terakhir.

Sebelumnya, Trump pernah mengungkapkan bahwa jaringan bisnisnya berutang sedikitnya US$315 miliar kepada 10 perusahaan. Namun menurut hasil analis WSJ, utang bisnis Trump berasal dari 150 institusi lebih. Mereka membeli utang-utang tersebut setelah dipecah-pecah dan dikemas kembali dalam bentuk obligasi (proses ini disebut sekuritisasi), yang diterapkan pada utang bernilai lebih dari US$1 miliar yang terkait dengan perusahaan-perusahaan Trump.

Akibatnya, semakin banyak intitisi keuangan yang kini mempunyai posisi kuat yang berpotensi mempengaruhi Trump. Jika bisnis Trumo mengalami gagal bayar utang, lembaga-lemabga keuangan raksasa yang bertindak sebagai “pemberi jasa khusus” dalam pembentukan “kolam utang” itu akan mempunyai kewenangan untuk mengambil alih sejumlah properti Trump atau mengupayakan puluhan juta dolar jaminan pribadi Trump terhadap berbagai pinjamannya.

“Permasalahan pada utang-utang itu adalah jika terjadi sesuatu yang tidak benar, dan jika terjadi situasi dimana secara tiba-tiba presiden AS terikat secara pribadi atau rentan terhadap ancaman dari para pemberi pinjaman,” kata Trevor Potter, yang bertindak sebagai konsultan umum kampanye pemilu calon presiden Republiken, George HW Bush dan John Mc Cain, seperti dikutip The Wall Street Journal (5/1).

Salah satu lembaga keuangan yang mempunyai keterkaitan besar dengan Trump adalah Wells Fargo & Co. Menurut analisis yangdilakukan Mornigstar untuk WSJ, Wells menyelenggarakan sedikitnya lima reksa dana yang mempunyai bagian dalam sekuritisasi utang bisnis Trump. Wells juga menjadi wali amanat atau administrator pengumpulan dana dari sekuritisasi pinjaman, termasuk pinjaman senilai US$282 juta untuk Trump.

Wells juga bertindak sebagai pemberi jasa khusus senilai US$950 juta berupa pinjaman untuk properti sebagian diantaranya dimiliki oleh perusahaan Trump. Segera seteolah dilantik menjadi Presiden AS, Trump akan menunjuk pimpinan dan kepala lembaga-lembaga regulator yang akan mengawasi perbankan.

Jaringan bisnis Trump juga tercatat memiliki sejumlah besar utang ke lembaga keuangan non-Amerika. Diantaranya total utang sebesar US$340 juta, termasuk US$170 juta pinjaman siaga ke Deutsche Bank. Bersama-sama dengan UBS Group AG, Goldman Sachs Group dan Bank of China, pada 2012 lalu Deutsche Bank menyepakati pemberian pinjaman sebesar US$950 juta ke sebuah perusahaan yang 30 persen sahamnya dimiliki Trump.

Lembaga keuangan lain yang disebut-sebut memiliki utang piutang dengan bisnis Trump antara lain  J.P. Morgan Chase & Co.,  BlackRock Inc., Fidelity Investments, Invesco Ltd., Pacific Investment Management Co., Prudential PLC and Vanguard Group. Namun para pembantu Trump, dan juru bicara lembaga-lembaga keuangan tersebut menolak mengomentari atau tidak merespon permintaan WSJ untuk mengklarifikasi.

Sebenarnya lumrah saja bila investor real estat besar di AS memiliki utang yang tersebar di lembaga-lemabga keuangan di seputaran Wall Street. Namun luasnya sebaran dan besarnya utang-utang jaringan bisnis Trump berpotensi menimbulkan konflik kepentingan antara perannya sebagai presiden dan masalah keuangan pribadinya. Apalagi jika Trump memilih untuk melepas kepemilikan bisnis real estatnya.

“Potensi konfliknya sanga berbahaya dan benar-benar ada pada situasi saat ini,” kata Lawarenco Noble, mantan konsultan Federal Election Commission, yang kini bergabung di lembaa nonpartisan Campaign Legal Center.

Apalagi Trump belum mengumumkan rencananya untuk melepas kepentingannya di kerjaan bisnisnya sebelum dilantik menjadi presiden pada 20 Januari nanti. Meskipun sempat mengatakan telah  mengambil langkah dan akan mengumumkannya pada Desember lalu, namun rencana tersebut ditunda. Rencananya, Trump akan menggelar  konferensi pers pada 11 Januari nanti, namn tidak jelas apakah akan menjelaskan masalah bisnisnya di forum tersebut. Read the rest of this entry

Brexit Sebabkan Saham-saham AS Menurun Tajam

Saham-saham Amerika Serikat (AS) berakhir turun tajam pada Jumat (24/6/2016), mengikuti kekacauan global setelah Inggris memilih untuk meninggalkan Uni Eropa dalam sebuah referendum bersejarah.

Indeks Dow Jones Industrial Average jatuh 611,21 poin atau 3,39% menjadi ditutup pada 17.399,86. S&P 500 merosot 76,02 poin atau 3,60% menjadi berakhir di 2.037,30, dan indeks komposit Nasdaq anjlok 202,06 poin atau 4,12% menjadi 4.707,98.

Kubu “Tinggalkan” memenangkan referendum Brexit Inggris pada Jumat pagi dengan mendapatkan hampir 52% suara, menarik negara itu keluar dari blok 28 negara Uni Eropa (UE) setelah menjalani keanggotaan selama 43 tahun. Read the rest of this entry

Wall Street Digempur Aksi Jual, Dow dan S&P 500 Cetak Tahun Terburuk Sejak 2008

Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 mencatatkan kinerja terburuk tahunan mereka dalam tujuh tahun pada pagi ini, setelah digempur aksi jual di sesi terakhir Wall Street untuk periode 2015.

Indeks berbasis luas, S&P 500, menyusut 0,9 persen menjadi 2.043,94, sehingga sepanjang 2015 tercatat melemah 0,7 persen, penurunan pertama sejak 2011, demikian laporan AFP, di New York, Jumat (1/1/2016) dini hari WIB.

Indeks blue-chip Dow anjlok 1,0 persen pada penutupan sesi tersebut menjadi 17.425,03, sehingga harus membukukan penurunan tahunan menjadi 2,2 persen.

Namun Nasdaq Composite Index tetap bersinar, setelah mengakhiri 2015 dengan kenaikan 5,7 persen, meskipun turun 1,2 persen menjadi 5.007,41 pada hari terakhir perdagangan, Kamis.

Para analis mengatakan pelemahan sesi Kamis didorong rendahnya volume perdagangan menjelang penutupan pasar pada hari ini untuk liburan Tahun Baru, dan insentif untuk menjual saham pada akhir tahun guna keperluan pajak.

Jack Ablin, Chief Investment BMO Global Asset Management, mengatakan dia “berharap” mengenai 2016, namun menyebutkan kemungkinan sejumlah kendala, mulai dari harga komoditas yang rendah hingga valuasi ekuitas yang masih tinggi dan langkah Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga.

“Ada risiko di luar sana dan masalahnya adalah pasar tidak murah, jadi, akan ada berita buruk yang menyulitkan,” kata dia.

Wall Street menunjukkan kedigdayaannya pada 2015 sebelum akhirnya mengalami tekanan hebat pada Agustus lalu ketika terjadi turbulensi di pasar ekuitas China yang memicu aksi jual secara global, bahkan mendorong S&P 500 di bawah level 1.900.

Saham kemudian relatif stabil, namun perdagangannya agak berombak sepanjang, didorong kejatuhan harga minyak dunia yang kerap memicu aksi jual ekuitas.

Saham energi mengalami tekanan paling kuat di antara sektor industri lainnya, setelah jatuh hampir 24 persen pada 2015, menurut data awal S&P Capital IQ.

Sektor yang membukukan kenaikan di antaranya consumer, menguat 8,4 persen, dan health care sebesar 5,2 persen setelah gelombang pengumuman merger, tutur S&P Capital IQ. Read the rest of this entry

Merespons Rencana Stimulus ECB, Wall Street Berakhir di Zona Merah

Saham di bursa Amerika Serikat turun tajam pagi ini, mengikuti pasar ekuitas Eropa yang anjlok setelah rencana stimulus Bank Sentral Eropa (ECB) mengecewakan para investor.

Pelemahan pasar ekuitas AS tidak separah di Paris atau Frankfurt, yang keduanya jatuh 3,6 persen, namun Wall Street menyelesaikan perdagangan Kamis di zona merah.

Dow Jones Industrial Average melorot 252,01 poin (1,42 persen) menjadi 17.477,67, demikian laporan AFP, di New York, Jumat (4/12) dini hari WIB.

Indeks berbasis luas, S&P 500, turun 29,89 (1,44 persen) menjadi 2.049,62, sedangkan Nasdaq Composite Index menyusut 85,70 (1,67 persen) dan ditutup pada posisi 5.037,53.

ECB, dalam pertemuan kebijakan moneter terakhirnya pada tahun ini, menurunkan suku bunga deposito lebih kecil dari ekspektasi, dan memperpanjang berakhirnya periode program pembelian obligasi, namun tidak meningkatkan ukurannya sesuai harapan.

“Pengumuman hari ini oleh ECB membuat investor menginginkan sedikit sentimen lagi,” ujar Jack Ablin, Chief Investment Officer BMO Private Bank.

Sementara, itu Institute for Supply Management mengatakan indeks pembelian manajer untuk sektor jasa AS turun tajam pada periode November, menyusul pertumbuhan yang kuat sepanjang Oktober.

Data tersebut dirilis menjelang laporan ketenagakerjaan untuk November yang bakal diumumkan Departemen Tenaga Kerja AS hari ini.

Saham yang terkait minyak melanjutkan pelemahan, termasuk anggota Dow, ExxonMobil dan Chevron, yang masing-masing turun 1,4 dan 1,6 persen. Apache anjlok 3,3 persen dan ConocoPhillips menyusut 1,8 persen. Penurunan ekuitas yang terkait dengan minyak terjadi di tengah penguatan harga minyak mentah dunia, pagi ini.

Saham perusahaan health care dan farmasi juga berakhir di teritori negatif, dengan UnitedHealth Group turun 2,2 persen, Merck (-2,3 persen) dan Celgene (-4,4 persen).

PVH, induk dari merek Calvin Klein dan Tommy Hillfiger, berkurang 11,1 persen setelah melaporkan pendapatan kuartal ketiga turun 1,7 persen menjadi US$221,9 juta. PVH mengatakan mencatatkan hasil yang kurang menggembirakan di pasar AS sepanjang belanja musim liburan.

Produsen chip, Avago Technologies, melambung 9,5 persen etelah melaporkan net income untuk kuartal yang berakhir pada 1 November sebesar US$429 juta, melonjak 79 persen dari periode yang sama setahun lalu.

General Electric naik tipis 0,2 persen menyusul pemberitaan telah mencapai kesepakatan untuk menjual bisnis equipment finance dan receivable finance di Prancis dan Jerman kepada Banque Federative du Credit Mutuel. Read the rest of this entry

Ellen May: Beruangnya benar-benar Mengamuk!

SSEC, Indeks Komposit Shanghai China rontok -8.5 %, tepat di area suport kuatnya. Hal ini terjadi karena perlambatan perekonomian di China, di mana laba industri di China merosot apabila dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Indeks Dow Jones ditutup di level 17,440.59 melemah 127.94 poin (-0.73%). EIDO ditutup di level 22.02 melemah 0.54 poin (-2.39%)

Sementara itu, bursa lokal kita kemarin juga mengalami koreksi yang cukup tajam dan menjebol pertahanan pada monthly chart, merespons crash di China. Indeks Harga Saham Gabungan 27 Juli 2015 ditutup di level 4,771.29 melemah 85.31 poin (-1.76%).

Hari ini IHSG masih berpotensi melemah menguji area suport berikutnya sekitar 4.584, bahkan potensi menguji suport 4.000 dalam jangka menengah. Read the rest of this entry

Yunani Bangkrut, Wall Street Masih Bisa Naik Tipis

Bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) berhasil ditutup positif, setelah perdagangan berjalan naik-turun, karena investor berharap Yunani bisa menyelesaikan pembayaran utangnya kepada International Monetary Fund (IMF).

Namun ternyata, Yunani tidak sepakat dengan krediturnya di Eropa, untuk penarikan utang baru. Alhasil, Yunani dinyatakan gagal bayar (default) terhadap uang IMF yang nilainya 1,6 miliar euro (US$ 1,8 miliar) atau sekitar Rp 22 triliun. Utang ini jatuh tempo 30 Juni 2015.

“Saya pikir, dia (Tsipras) sedikit menantang dan arogan, dan dia sudah keterlaluan. Yunani masih membuat pelaku pasar saham gugup,” jelas Analis, Kenny Polcari, dilansir dari Reuters, Rabu (1/7/2015).

Perusahaan-perusahaan di AS memiliki hubungan yang kecil dengan Yunani. Namun investor saham khawatir efek apa yang akan terjadi di Eropa, bila Yunani keluar dari Uni Eropa. Read the rest of this entry

Wall Street merespon negatif keputusan The Fed

Indeks Dow Jones dan S&P 500 ditutup melemah setelah menyentuh rekor. Menyusul penurunan saham-saham energi, juga terkena sentimen dari hasil pertemuan Bank Sentral Amerika (The Fed) yang memilih untuk mempertahankan untuk tidak menaikkan suku bunga.

Indeks S&P 500 tergelincir 0,4% ke level 2,099.68 pada penutupan pukul 04.00 waktu setempat. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 17,73 poin atau 0,1% ke level 18,029.85.

Transaksi ini melibatkan 6,2 miliar saham. Angka tersebut 11% di bawah volume rata-rata per tiga bulan.

Bursa AS merespon negatif terhadap pertemuan The Fed yang berpendapat untuk untuk memilih suku bunga rendah lebih lama lagi. “Kami masih belum sampai pada titik di mana ekonomi yang lebih kuat dan The Fed mempertimbangkan hal tersebut,” kata Richard Sichel. chief investment officer Philadelphia Trust Co.

Sumber : kontan.co.id

http://belajar-cara-membuat-website.blogspot.com/

Minyak Di bawah 60 USD, Indeks Dow Jones Tumbang 315 Poin

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) tutup di level terburuk pada pekan ini jika dihitung sejak  2011 seiring bursa saham global bertumbangan setelah harga minyak turun ke level 58 USD per barel.

DJIA turun 1,8% (-315,51 poin) ke level 17.289,83 poin  dan Indeks S&P 500 turun 1,6 persen ke level 2.002,33 poin. Harga minyak WTI turun 3,6% ke level 57 USD/barel. Indeks benchmark bursa Eropa, The Stoxx Europe 600 turun 5,8% kumulatif secara mingguan, terburk dalam 3 tahun terakhir.

Analis Warren Financial Service and Associates Inc (Pennsylvania, AS) Randy Warren menilai jelas isu harga minyak menentukan segala sesuatunya. Kata dia, pertama terjadi over suplai minyak. Dan sekarang itu yang menambah ketakukan perekonomian global tumbuh sangat melambat. Kecemasan-kecemasan itu tentu beban terhadap sinyal positif yang terlihat di pasar domestik.

Harga minyak turun 12% kumulatif secara mingguan, merupakan koreksi turun ke-10 pekan sejak mulai pada Oktober. International Energy Agency memangkas estimasi demand global turun pada tahun 2015. Turunnya harga minyak menekan produsen yang mendorong permintaan terhadap surat utang bank sentral di Asia dan Eropa untuk mempertahankan stimulus guna mengatasi masalah deflasi.

Bursa global merugi 1 triliun USD pada pekan ini seiring jatuhnya pasar saham global setelah produksi manufaktur China melambat di bawah perkiraan.

Penjualan ritel di AS naik 0,7% di bulan November. Rendahnya inflasi memungkinkan the Fed memiliki ruang mempertahankan suku bunga acuan mendekati zero.
Read the rest of this entry